Beranda / Palestina / Bagi Perempuan Gaza, Mesin Cuci Menjadi Impian untuk Lepas dari Kesulitan
Kabar Palestina
11 Sep 2026

Bagi Perempuan Gaza, Mesin Cuci Menjadi Impian untuk Lepas dari Kesulitan

Bagi Perempuan Gaza, Mesin Cuci Menjadi Impian untuk Lepas dari Kesulitan
Bagikan:

GAZA (PIC) – Khadija Abu al-Araj, 65 tahun, duduk di depan tumpukan pakaian. Sehelai demi sehelai direndam, dikucek, diperas, lalu disisihkan. Gerakan itu terus diulang hingga cucian yang sanggup diselesaikannya hari itu habis.

Selama hampir tiga tahun, Khadija menjalani rutinitas tersebut dengan tangan, di tengah tanggung jawab mengurus keluarga dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tanpa mesin cuci, pekerjaan yang semestinya sederhana menyita berjam-jam waktu dan tenaga. Dalam pengungsian, pakaian pun tak bisa dibiarkan menumpuk.

Bagi Khadija, mesin cuci bukan sekadar peralatan rumah tangga. Ia adalah harapan untuk mengurangi kesulitan yang menguras waktu dan tenaga, terutama ketika air semakin sulit diperoleh dan harga kebutuhan pokok terus melonjak.

Berjam-jam Bergelut dengan Cucian

Pengalaman Siham Shahwan, 28 tahun, tak jauh berbeda. Ia harus menjalani rutinitas itu sambil mengurus empat anak yang semuanya berusia di bawah 10 tahun.

Setiap hari, Siham menghabiskan lebih dari tiga jam untuk mencuci. Ia mengucek dan memeras pakaian dengan tangan, menjemurnya, lalu menunggu hingga kering. Begitu satu cucian selesai, tumpukan berikutnya sudah menanti.

Beban terberat bukan sekadar lamanya pekerjaan, tetapi karena semuanya harus dilakukan setiap hari. Duduk terlalu lama dan terus mengerahkan tenaga membuat Siham mengalami nyeri punggung dan persendian.

Dengan empat anak, pakaian bersih menjadi kebutuhan yang tak pernah berhenti. Namun, jasa laundry sulit dijangkau. Mencuci pakaian anak-anak dapat menghabiskan sekitar 20 shekel per hari—biaya yang semakin sulit dipenuhi setelah suaminya kehilangan sumber penghasilan. Tak ada pilihan lain. Siham kembali mencuci dengan tangan, meski tubuhnya terus terkuras.

Perjuangan Dimulai dari Mencari Air

Dalam pengungsian, persoalan cucian bahkan dimulai sebelum pakaian dicuci: mencari air.

Persediaan yang terbatas harus dibagi untuk minum dan memasak, sekaligus mencuci pakaian, membersihkan tempat tinggal, merawat anak, dan menjaga kebersihan dasar.

Setiap cucian membutuhkan perhitungan atas air, waktu, dan tenaga. Setelah mengucek, masih ada pekerjaan memeras, menjemur, dan menunggu pakaian kering. Keesokan harinya, siklus itu kembali dimulai.

Bagi Siham, mesin cuci akan memangkas sebagian besar beban tersebut. Waktu yang selama ini habis untuk mencuci bisa digunakan untuk merawat anak-anak, mengurus keperluan lain, atau sekadar beristirahat.

Perempuan di Tengah Runtuhnya Layanan Dasar

Kisah Khadija dan Siham merupakan gambaran kecil dari dampak runtuhnya layanan air, sanitasi, dan kebersihan di Gaza.

Dalam laporan yang diterbitkan pada Juli 2026, Oxfam mewawancarai 21 perempuan dan anak perempuan yang mengungsi dari berbagai wilayah Gaza. Laporan itu menunjukkan bagaimana memburuknya layanan dasar memengaruhi kesehatan, keselamatan, serta kemampuan perempuan menjalani kehidupan sehari-hari.

Oxfam menegaskan, krisis air bukan hanya menyangkut kebutuhan untuk minum. Keterbatasan air juga menghambat pekerjaan perawatan dan kebersihan keluarga— kesulitan yang sebagian besar dipikul perempuan.

Data UN Women menunjukkan skala krisis tersebut. Sekitar 1,1 juta perempuan dan anak perempuan di Gaza tidak memiliki akses terhadap air bersih, sementara hampir 690 ribu tinggal di tempat pengungsian yang penuh sesak.

Tekanan ekonomi turut memperburuk keadaan. Sekitar 95% usaha yang dipimpin perempuan telah tutup, mempersempit akses mereka terhadap penghasilan mandiri sekaligus memperberat ujian keluarga. Tekanan tersebut berjalan beriringan dengan berbagai bentuk kerentanan lainnya.

Kebersihan Merupakan Kebutuhan Dasar yang Penting

Krisis juga menyentuh kebutuhan kebersihan pribadi perempuan dan anak perempuan. Dalam laporan yang diterbitkan UN Population Fund pada 20 Agustus 2026, lembaga tersebut mencatat kelangkaan parah perlengkapan kebersihan menstruasi, fasilitas air dan sanitasi yang tidak memadai, serta persoalan privasi.

Kondisi ini semakin menyulitkan omestic dan anak omestic di tempat pengungsian memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Dalam situasi tersebut, pekerjaan omestic tak lagi sekadar urusan rumah tangga. Ia telah menjadi bagian dari krisis kemanusiaan.

Pekerjaan yang dapat diselesaikan mesin cuci dalam waktu singkat berubah menjadi berjam-jam kerja manual. Semuanya dimulai dari mencari air, lalu mencuci, memeras, menjemur, dan menunggu hingga pakaian kering.

Mesin Cuci sebagai Kebutuhan Sehari-hari

Bagi Siham, mesin cuci memang tidak akan menghapus seluruh kesulitan hidup. Namun, alat itu dapat mengembalikan beberapa jam yang hilang setiap hari.

Jam-jam tersebut bisa ia habiskan bersama anak-anak, mengerjakan keperluan lain, atau sekadar beristirahat—bukan duduk berlama-lama mengucek dan memeras pakaian.

Bagi banyak perempuan di pengungsian, mesin cuci bukan lagi sekadar perabot rumah tangga. Ia berarti lebih sedikit pekerjaan, lebih ringan beban tubuh, dan lebih banyak waktu untuk keluarga maupun diri sendiri.

Namun, selama krisis air dan layanan dasar terus memburuk di Gaza, pekerjaan merawat keluarga dan menjaga kebersihan tetap tak terhindarkan. Perempuan harus menjalaninya dengan apa pun yang tersedia, betapapun terbatas.

Setiap hari Siham mungkin berhasil menghabiskan satu tumpukan cucian. Tetapi pekerjaan itu tak pernah benar-benar selesai. Esok, pakaian akan kembali menumpuk. Air harus kembali dicari. Sabun kembali digunakan. Tangan kembali mengucek dan memeras. Dan siklus itu terus berulang.

Semoga Allah Ta’ala kuatkan dan menangkan keluarga Gaza kita. Semoga Allah gerakkan kita semua untuk menguatkan mereka. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami