Beranda / Palestina / Bertani di Tengah Kehancuran, Petani Gaza Menyemai Harapan
Kabar Palestina
9 Sep 2026

Bertani di Tengah Kehancuran, Petani Gaza Menyemai Harapan

Bertani di Tengah Kehancuran, Petani Gaza Menyemai Harapan
Bagikan:

Sejumlah petani Gaza membuka lahan baru setelah lahan pertanian mereka hancur akibat gempuran zionis ‘Israel’. [Eman Abu Zayed/Al Jazeera]

GAZA (Al Jazeera) – Muhammad al-Halabi, 50 tahun, membungkuk di antara bibit tomat dan terong di lahan seluas 300 meter persegi di tengah Kamp Pengungsian Nuseirat, Gaza Tengah. Ia memeriksa daun, menyirami tanaman, dan mengamati setiap pertumbuhannya.

Lahan kecil itu menjadi pijakan al-Halabi untuk kembali menekuni profesi yang telah dijalaninya sejak kecil—bertani, sebagaimana dahulu ia lakukan bersama ayahnya, Marwan, di Jabalia, Gaza Utara.

Dulu, ia mengelola lahan pertanian seluas sekitar 40.000 meter persegi atau 10 hektare. Stroberi, tomat, bunga, kentang, dan terong tumbuh di sana. Keempat anaknya—Mahmoud, 30 tahun; Reham, 27 tahun; Issa, 24 tahun; dan Omar, 20 tahun—turut bekerja bersamanya. Pertanian menjadi mata pencaharian andalan seluruh keluarga.

“Saya telah bekerja di bidang pertanian sejak kecil. Tanah adalah hidup saya, dan saya telah menghabiskan seluruh hidup saya untuk menggarapnya,” kata al-Halabi.

Namun, pada Februari 2024, seluruh lahan itu diratakan dengan buldoser oleh serdadu zionis ‘Israel’ dalam penghancuran besar-besaran di Jabalia. Kini, lahan tersebut tertutup puing dan sisa-sisa perang, termasuk serpihan rudal dan senjata lainnya.

Menurut al-Halabi, lahan itu membutuhkan rehabilitasi besar-besaran sebelum kembali bisa ditanami.

Untuk sementara, harapannya bertumpu pada lahan kecil di Nuseirat yang mulai ia sewa sejak awal perang, setelah mengungsi. Di sana, ia menanam apa pun yang bisa diperolehnya.

“Pertanian adalah profesi saya. Bahkan setelah mengungsi, saya tidak bisa meninggalkannya. Saya menemukan sebidang tanah kecil dan menanam apa pun yang bisa saya dapatkan.”

Hasilnya memang jauh dari cukup. Setiap tanaman hanya menghasilkan beberapa kilogram, nyaris sekadar memenuhi kebutuhan keluarganya dan terlalu sedikit untuk dijual.

Namun, bagi al-Halabi, tanaman yang tumbuh memiliki arti lebih besar daripada sekadar hasil panen.

“Ketika saya melihat tanaman tumbuh dan menghasilkan buah, saya merasa bahwa saya masih bisa bertani. Lahannya kecil, tetapi memiliki potensi, dan mudah-mudahan akan menghasilkan panen.”

Sektor Pertanian di Ambang Kehancuran

Kisah al-Halabi mencerminkan kerusakan luas yang menghantam sektor pertanian Gaza. Data Kantor Media Pemerintah Gaza menunjukkan lebih dari 87 persen lahan pertanian telah hancur.

Sekitar 8.700 sumur pertanian rusak dan tidak dapat digunakan, sementara 7.748 peternakan sapi, domba, dan unggas turut hancur. Lebih dari 87 persen rumah kaca juga mengalami kerusakan.

Akibatnya, produksi tahunan sayuran dan buah-buahan anjlok dari sekitar 524.000 ton menjadi hanya 20.000 ton.

Naser Deeb, Direktur Jenderal Penyuluhan Pertanian di Kementerian Pertanian Gaza, mengatakan kerusakan tidak hanya menyasar tanaman dan lahan, tetapi juga sumber air, jaringan irigasi, sumur, serta berbagai fasilitas pertanian.

Deeb telah mengunjungi dan menilai sejumlah lahan pertanian yang rusak di berbagai wilayah Gaza, meski belum memeriksa lahan milik al-Halabi secara langsung.

Menurutnya, sebagian besar lahan yang rusak membutuhkan rehabilitasi ekstensif sebelum kembali menghasilkan.

“Para petani saat ini menghadapi beberapa masalah sekaligus. Meskipun seorang petani kembali ke lahannya, bukan berarti lahan tersebut sudah siap untuk ditanami. Tanah perlu direhabilitasi, sumber air dan sistem irigasi perlu diperbaiki, serta benih, pupuk, dan peralatan perlu disediakan.”

Dampaknya merembet jauh melampaui keluarga petani. Kerusakan tersebut turut mengganggu pasar di seluruh Gaza, mengurangi pasokan sayuran segar, dan semakin menyulitkan para petani untuk memulihkan mata pencaharian mereka.

Menanam Kembali dari Lahan yang Tersisa

Di tengah kehancuran itu, sebagian petani mencoba membangun kembali kehidupan mereka melalui proyek-proyek pertanian berskala kecil.

Muhammad Abdul Naser Hassan al-Jadba, 40 tahun, dari Sheikh Ajleen, Kota Gaza, kehilangan sumber penghasilannya selama agresi penjajah setelah lahan pertaniannya berada di sisi “Garis Kuning”, wilayah perbatasan Gaza tempat serdadu ‘Israel’ beroperasi dan mengendalikan area tersebut.

Serdadu zionis telah menembak dan membunuh warga Palestina yang mendekati garis tersebut. Al-Jadba memahami bahwa kembali ke lahannya sendiri terlalu berbahaya.

Ia pun memilih jalan lain: menyewa sebidang tanah kecil di Deir el-Balah. Di sana, ia membangun pembibitan dan rumah kaca untuk menanam tomat, terong, dan paprika.

Al-Jadba memperoleh sebagian pendanaan dari dana pembangunan Belgia, yang digunakannya untuk membangun rumah kaca dan membeli perlengkapan pertanian. 

Di tengah lahan yang hancur, air yang terbatas, dan akses yang kian sempit, para petani Gaza kini mencoba menanam kembali apa yang masih mungkin ditanam. Bagi mereka, setiap bibit yang tumbuh bukan sekadar hasil pertanian, melainkan upaya untuk membangun harapan sekaligus merebut kembali sumber penghidupan yang direnggut genosida. (Al Jazeera)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami