Beranda / Palestina / Daya Beli Masyarakat Ambruk, Pasar Gaza Alami Kelesuan Parah
Kabar Palestina
1 Jun 2026

Daya Beli Masyarakat Ambruk, Pasar Gaza Alami Kelesuan Parah

Daya Beli Masyarakat Ambruk, Pasar Gaza Alami Kelesuan Parah
Bagikan:

GAZA (PIC) – Pasar-pasar di wilayah Gaza tengah mengalami kelesuan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Deretan toko yang biasanya ramai kini sepi pembeli.

Sementara aktivitas perdagangan nyaris lumpuh akibat dampak berkepanjangan agresi genosida penjajah ‘Israel’ dan penutupan ketat yang menghambat masuknya barang serta bahan baku penting bagi roda perekonomian.

Di tengah reruntuhan dan ketidakpastian, warga Gaza menghadapi kemerosotan tajam perekonomian. Tingginya angka warga yang tidak bisa bekerja, meluasnya kemiskinan, dan hilangnya sumber-sumber pendapatan membuat banyak keluarga tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan dasar mereka.

Akibatnya, daya beli masyarakat merosot drastis dan pasar kehilangan denyut kehidupan yang selama ini menopang ekonomi lokal.

Krisis ekonomi yang melanda Gaza tidak hanya berlangsung selama perang, tetapi terus berlanjut bahkan pada periode gencatan senjata.

Pembatasan yang diberlakukan ‘Israel’ terhadap masuknya barang dan truk pengangkut kebutuhan pokok membuat pemulihan ekonomi nyaris mustahil dilakukan.

Situasi semakin diperparah oleh kehancuran yang menimpa berbagai sektor produktif. Banyak usaha, pabrik, dan fasilitas perdagangan masih berada dalam kondisi rusak berat tanpa peluang nyata untuk kembali beroperasi. Akibatnya, aktivitas produksi terhenti dan ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian.

Laporan harian Al-Araby Al-Jadeed yang menjadi dasar kajian ini menggambarkan bagaimana pasar Gaza kini terjebak dalam lingkaran krisis yang kian dalam.

Di satu sisi, pasokan barang terus menyusut akibat pembatasan yang berkepanjangan. Di sisi lain, masyarakat yang kehilangan penghasilan tidak lagi memiliki kemampuan untuk berbelanja.

Larangan masuknya bahan baku dan kebutuhan operasional dasar juga menyebabkan ratusan pabrik serta fasilitas komersial berhenti berproduksi. Rantai pasok yang sebelumnya menopang kehidupan ekonomi Gaza runtuh, sementara aktivitas bisnis merosot ke ingkat yang mengkhawatirkan.

Aktivitas Perdagangan Hampir Lumpuh Total

Bagi Mahmoud Arandas, pergi ke pasar kini bukan lagi soal berbelanja, melainkan sekadar melihat-lihat barang yang tak mampu ia beli. Di tengah krisis ekonomi yang semakin mencekik Gaza, aktivitas pasar nyaris kehilangan maknanya karena sebagian besar warga tidak lagi memiliki daya beli.

“Kami hanya bisa melihat barang-barang yang dijual. Kalau pun membeli, jumlahnya sangat terbatas,” ujar Arandas, menggambarkan kerasnya kehidupan yang kini dijalani keluarganya.

Pria itu kehilangan satu-satunya sumber penghasilan setelah kios minuman tempatnya bekerja di Kamp Pengungsian Al-Bureij hancur akibat gempuran.

Sejak saat itu, keluarganya mengandalkan bantuan kemanusiaan dan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Menurut Arandas, kondisi ekonomi Gaza sebelum perang memang jauh dari ideal. Namun saat itu, sebagian besar keluarga masih mampu mengatur kebutuhan harian dan membeli keperluan pokok. Kini, kemampuan tersebut hampir sepenuhnya lenyap.

“Keadaan dulu tidak mudah, tetapi kami masih bisa bertahan. Sekarang, itu sudah tidak mungkin lagi,” katanya.

Kisah Arandas mencerminkan realitas yang terlihat di berbagai pasar Gaza. Pasar yang dahulu menjadi pusat kehidupan sosial dan ekonomi kini berubah menjadi ruang sunyi yang dipenuhi kegelisahan.

Di Pasar Kamp Pengungsi Al-Shati, sebelah barat Kota Gaza, Aed Abu Matar berdiri menunggu pembeli di kios pakaian miliknya. Namun, seperti banyak pedagang lainnya, ia hanya menyaksikan lalu-lalang warga tanpa transaksi berarti.

Abu Matar mengatakan musim-musim perdagangan yang dulu selalu dinantikan pedagang karena mampu meningkatkan pendapatan kini tidak lagi membawa harapan. Momen yang biasanya ramai justru berlalu seperti hari-hari biasa.

“Lemahnya daya beli membuat musim perdagangan kehilangan arti. Tidak ada perbedaan dengan hari-hari lainnya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa krisis yang terjadi tidak hanya menghantam warga sebagai konsumen, tetapi juga para pedagang yang terus menanggung kerugian.

Harga barang, termasuk pakaian, mengalami lonjakan tajam menjelang musim perdagangan sebelum akhirnya turun kembali. Namun, harga saat ini tetap jauh lebih tinggi dibandingkan kondisi normal sebelum perang.

Angka-angka yang Mencerminkan Skala Keruntuhan

Di balik pasar-pasar yang sepi dan rak-rak yang semakin kosong, angka-angka ekonomi Gaza menggambarkan sebuah kenyataan yang lebih memilukan: kehancuran ekonomi yang nyaris total.

Koordinator Komite Ekonomi Kamar Dagang Gaza, Riyadh Al-Sawafiri, mengatakan pasar-pasar di Gaza saat ini berada dalam kondisi stagnasi yang sangat parah. Kejahatan ‘Israel’ yang terus membatasi arus masuk barang menjadi faktor utama yang memperdalam krisis dan membebani warga maupun pelaku usaha.

Al-Sawafiri menilai zionis ‘Israel’ memikul tanggung jawab terbesar atas memburuknya kondisi ekonomi Gaza. Selain pembatasan barang, berbagai biaya tinggi yang dikenakan terhadap masuknya komoditas turut mendorong kenaikan harga dan mempersempit akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok.

“Pasar sedang mengalami kondisi yang mendekati kolaps,” ujarnya.

Penilaian serupa disampaikan pakar ekonomi Mohammad Al-Drimly. Ia menggambarkan kondisi pasar Gaza sebagai “bencana ekonomi” yang dipicu oleh pembatasan ketat yang menghambat pemulihan dan melumpuhkan hampir seluruh sektor produktif maupun perdagangan.

Menurut Al-Drimly, tingkat pengangguran di Gaza kini mencapai sekitar 80 persen—salah satu indikator paling nyata dari besarnya keruntuhan ekonomi yang sedang terjadi.

Pada saat yang sama, angka kemiskinan dan kerawanan pangan telah melampaui 90 persen. Yang lebih mengkhawatirkan, sekira 95 persen penduduk Gaza kini mengandalkan bantuan pangan sebagai sumber utama untuk bertahan hidup.

Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar warga tidak lagi memiliki akses terhadap penghasilan yang memadai. Banyak keluarga mengandalkan bantuan kemanusiaan, sementara kesempatan kerja hampir tidak tersedia akibat lumpuhnya aktivitas ekonomi.

Al-Drimly juga mengungkapkan bahwa lebih dari 70 persen kebutuhan riil masyarakat tidak tersedia di pasar. Penutupan pelintasan yang berkepanjangan serta pembatasan masuknya barang, bahan baku, dan truk perdagangan telah mengganggu pasokan secara masif.

Di saat yang sama, Gaza menghadapi krisis likuiditas tunai yang semakin memperburuk keadaan. Kelangkaan uang beredar membuat aktivitas jual beli tersendat dan menghambat perputaran ekonomi yang tersisa.

Dampaknya terlihat jelas pada kinerja ekonomi secara keseluruhan. Sepanjang 2025, ekonomi Gaza tercatat menyusut hingga 87 persen dibandingkan kondisi sebelum genosida. Angka itu mencerminkan salah satu kontraksi ekonomi paling tajam yang pernah dialami wilayah tersebut.

Situasi yang berat tersebut juga memicu munculnya praktik monopoli. Sejumlah kecil pedagang dan perantara menguasai stok barang yang tersedia dalam jumlah terbatas. Akibatnya, harga berbagai kebutuhan pokok melonjak drastis hingga lebih dari 300 persen dibandingkan kondisi normal. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami