Beranda / Amanah / DERITA YANG TERLEWATKAN DAN HARAPAN UNTUK MERAWAT MASA DEPAN: Catatan Perjalanan Relawan KITA di Aceh Tamiang
Amanah Kabar Penyaluran
29 Des 2025

DERITA YANG TERLEWATKAN DAN HARAPAN UNTUK MERAWAT MASA DEPAN: Catatan Perjalanan Relawan KITA di Aceh Tamiang

DERITA YANG TERLEWATKAN DAN HARAPAN UNTUK MERAWAT MASA DEPAN: Catatan Perjalanan Relawan KITA di Aceh Tamiang
Bagikan:

Oleh: Sammy Ramadhan

Laporan Tahap II Perjalanan Relawan Yayasan KITA, Aceh Tamiang, Desember 2025

Desa Tenggulun: Derita yang Terlewatkan

Ada luka yang tidak berdarah, tetapi perihnya menetap. Begitulah Desa Tenggulun.

Ia bukan yang terparah, tetapi justru karena itu ia terabaikan.

Di sekelilingnya ada desa-desa yang lebih porak poranda, Pantai Cempa salah satunya, yang sejak awal menjadi titik perhatian. Tenggulun berada di antara: tidak cukup parah untuk diprioritaskan, tidak cukup ringan untuk diabaikan dampaknya.

Maka bantuan kerap hanya singgah sesaat, lalu berlalu.

Padahal di sini, kehidupan benar-benar berhenti. Perekonomian lumpuh. Sekolah tutup. Masjid berlumpur. Air bersih tiada. Listrik padam.

Masjid Jami’ Darul Mukhlisin, Aceh Tamiang. Dok. KITA/ Izzul.

Kesulitan mereka tidak kalah berat, hanya kalah terlihat.

Kepala dusun telah berulang kali mengupayakan bantuan. Namun yang diterima hanyalah janji demi janji yang tertunda, sebab Tenggulun selalu dinomorduakan dalam antrean prioritas.

Selama empat hari banjir merendam desa, seorang warga dengan dua sampan berkeliling selama dua hari penuh, mengevakuasi mereka yang terjebak di loteng dan di atas genteng.

Pak Hanafi, setelah memastikan istri dan adiknya selamat menyeberang ke desa lain, tertahan sendirian di loteng-tanpa makan, tanpa minum, hanya berteman doa dan harap.

Mengembalikan Senyum yang Hampir Pudar

Atribut SDN Tenggulun yang porak poranda pasca banjir bandang. Dok. KITA/ Izzul.

Di Desa Tenggulun berdiri SD Negeri Tenggulun, rumah belajar bagi 246 anak dari empat dusun, dengan 18 guru yang setia bertahan meski tanpa kepastian.

Pada Sabtu, 20 Desember 2025, Yayasan KITA menghadirkan Program Makan Siang Gratis. Sebanyak 500 porsi dibagikan.

Anak-anak menanti pembagian makan siang gratis. Dok. KITA/ Izzul.

Dari mata anak-anak itulah kami membaca sesuatu yang lebih besar dari sekadar lapar: kerinduan.

“Kami kangen sekolah.”
“Kami kangen belajar.”
“Kami kangen main sama teman-teman.”

Maka keputusan itu lahir, bukan dari rapat panjang, tapi dari suara hati: Sekolah Ceria harus hadir di Tenggulun.

Pada Ahad, 21 Desember 2025, di gedung sekolah yang masih menyimpan jejak lumpur, kelas-kelas dibersihkan bersama. Setelah hampir sebulan sunyi, lonceng harapan kembali berbunyi. Anak-anak kembali ke sekolah.

Kegiatan psikososial dipandu oleh tim relawan, dipimpin oleh Ust. Fatan Ariful Ulum. Tawa anak-anak, mata yang berbinar, dan tangan-tangan kecil yang tak lelah bertanya membuat kami sadar: luka bisa dijahit dengan kasih.

Ust. Fatan memandu Sekolah Ceria. Dok. KITA/ Izzul.

Antusiasme itulah yang membuat tim memutuskan melanjutkan program ini selama satu pekan penuh.

Pada Selasa, 23 Desember 2025, sejumlah lomba digelar.

Enam cabang dilaksanakan:

  1. Cerdas cermat
  2. Menggambar
  3. Kaligrafi
  4. Adzan
  5. Hafalan surah pendek
  6. Sholawatan
Penyerahan hadiah beberapa pemenang lomba. Tampak beberapa relawan menemani anak-anak dalam serah terima. Dok. KITA/ Izzul.

Sekolah menerima speaker dan mikrofon, hadiah lomba, serta 140 tas sekolah lengkap dengan buku tulis, pensil, rautan, penghapus, dan pulpen.

Ditambah ratusan buku tulis, buku gambar, pensil warna, krayon, makanan ringan, dan perlengkapan belajar lainnya untuk menopang kegiatan sekolah ke depan.

Tak hanya itu, ratusan buku Iqra dan Yasin diserahkan untuk sekolah, masjid desa, dan pengajian ibu-ibu.
Ratusan sarung, mukena, jilbab, serta puluhan tikar dan kelambu dibagikan kepada warga Tenggulun.

Pantai Cempa: Masjid yang Bangkit Menjadi Poros

Pada Rabu, 24 Desember 2025, tim kembali menyambangi Masjid Al-Hidayah, Dusun Rindu, Desa Pantai Cempa.

Masjid yang dahulu penuh lumpur dan tak berfungsi, kini -atas izin Allah- telah menjelma menjadi posko dan pusat denyut kehidupan desa, sebagaimana cita-cita awal Yayasan KITA.

Kembali ke pangkuan ilahi rabbi. Masjid yang sebelumnya lumpuh, kini telah berfungsi seperti sedia kala. Dok. KITA/ Izzul.

Kami disambut bukan sebagai tamu, melainkan sebagai keluarga yang lama berpisah. Hidangan disuguhkan, senyum merekah, dan izin bermalam di masjid diberikan dengan penuh keikhlasan.

Malam itu gelap gulita. Listrik belum kembali. Rumah dan tenda hanya diterangi lilin dan lampu surya kecil yang diisi siang hari. Masjid memiliki genset, namun hanya dinyalakan saat waktu shalat—BBM mahal dan jauh.

Air bersih masjid menjadi nadi desa. Warga datang silih berganti membawa jerigen.

Belum ada karpet, hanya sajadah yang cukup untuk dua saf. WC masih rusak dan menanti perbaikan.

Pantai Cempa masih gelap gulita. Tampak mobil operasional KITA dengan latar cahaya dari penerangan dengan genset di masjid. Dok. KITA/ Izzul.

Pada 25 Desember 2025, tim berusaha memenuhi permintaan warga:

  • Perlengkapan dapur umum (bakso, blender, dandang, sayur, bumbu)
  • Sajadah, sarung, mukena, jilbab
  • Al-Qur’an
  • Tiga dus besar makanan ringan anak

Upaya menyusuri sungai dengan speed boat dan menjangkau titik sulit dengan motor trail belum terwujud—ketersediaan belum ada.

Siang hari, SPPB – Stasiun Pelayanan Penyintas Bencana kembali digelar di depan masjid. Sekitar 500 porsi makan siang gratis habis dalam waktu singkat, disambut antusiasme luar biasa.

Sore hari, kami berpamitan. Driver yang biasanya melaju cepat di jalan berbatu, kali ini memperlambat kendaraan. Menikmati pemandangan. Barangkali karena sadar, tak tahu kapan lagi Allah menakdirkan perjumpaan dengan Pantai Cempa.

Dukungan dan doa dari keluarga KITA. Dok. KITA/ Izzul.

Seumadam: Merawat Anak, Merawat Masa Depan

Pada 26 Desember 2025, tim mendatangi TK Al-Baitina, Desa Seumadam—tempat yang sebelumnya juga dibersihkan dengan harapan menjadi pusat kegiatan anak-anak.

Alhamdulillah, Yayasan KITA berkolaborasi dengan BMH, Pondok Roja, dan Rumah Sajada menjalankan Sekolah Ceria di TK ini.

Bantuan yang disalurkan meliputi:

  • 75 tikar alas tidur warga
  • Jilbab dan mukena untuk ibu dan anak perempuan
  • Makanan ringan untuk anak-anak

Bersamaan dengan itu, layanan kesehatan turut hadir dengan dokter dan perawat dari IMS Hidayatullah.


Refleksi Tahap I dan Tahap II

Pada Tahap I, (artikelnya dapat dibaca di sini, -ed.) fokus KITA adalah tanggap darurat:

  • Mesin pompa air bensin
  • Genset
  • Lampu tenaga surya
  • Pakaian layak pakai
  • Obat-obatan

Memasuki Tahap II, fokus bergeser pada pemulihan (recovery):

  • Kegiatan psikososial melalui Sekolah Ceria
  • Sesi dukungan ringan untuk orangtua
  • Memastikan ketersediaan air bersih di berbagai titik

Sebab bencana bukan hanya soal rumah yang roboh, tetapi tentang jiwa yang lelah dan ketegaran yang diuji. Dan tugas kemanusiaan bukan sekadar memberi, melainkan menemani hingga luka belajar sembuh dengan caranya sendiri.

Editor: ADR.


Perjalanan ini belum usai. Masih ada sekolah yang menanti karpet, masjid yang membutuhkan perbaikan, dan keluarga-keluarga yang berjuang menata ulang hidup dari nol. Yayasan KITA berkomitmen mendampingi Aceh Tamiang hingga pemulihan benar-benar terwujud. Jika hati Anda terketuk untuk menjadi bagian dari upaya kemanusiaan ini, setiap kepedulian dalam bentuk apapun adalah doa yang bergerak.

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami