Beranda / Palestina / Di Antara Kobaran Api dan Terik Musim Panas, Tungku Roti Gaza Menjadi Medan Perjuangan Mencari Nafkah
Kabar Palestina
8 Jul 2026

Di Antara Kobaran Api dan Terik Musim Panas, Tungku Roti Gaza Menjadi Medan Perjuangan Mencari Nafkah

Di Antara Kobaran Api dan Terik Musim Panas, Tungku Roti Gaza Menjadi Medan Perjuangan Mencari Nafkah
Bagikan:

GAZA (PIC) – Di Gaza, api tak lagi sekadar digunakan untuk memasak. Di tengah kepungan genosida, ia telah berubah menjadi ujian hidup yang harus dihadapi setiap hari oleh laki-laki dan Perempuan. Yakni mereka yang terdorong oleh kehilangan dan kelaparan untuk tetap bekerja dalam kondisi yang sangat berat.

Kobaran tungku roti berpadu dengan teriknya musim panas yang menyengat, sementara setiap lembar roti menjadi hasil dari berjam-jam kerja keras di tengah panas, asap, dan napas yang sesak.

Di tenda-tenda lusuh yang berdiri di tepi jalan maupun di kamp-kamp pengungsian, para pekerja menghabiskan waktu sejak fajar hingga matahari terbenam di depan tungku pembakaran.

Mereka bergelut dengan asap, abu, dan suhu yang sangat tinggi demi upah yang bahkan nyaris tidak cukup untuk menyediakan satu kali makan bagi keluarga mereka.

Sementara roti hangat sampai ke tangan masyarakat, para pekerja kembali ke tenda-tenda mereka dengan tubuh yang dipenuhi rasa sakit. Nyeri punggung, sesak napas, dan kelelahan akibat kerasnya pekerjaan berpadu dengan ujian hidup di tengah genosida.

Data Kementerian Tenaga Kerja Palestina menunjukkan bahwa sejak genosida meletus, puluhan ribu perempuan telah menjadi pencari nafkah utama bagi keluarga mereka.

Kondisi ini memaksa banyak dari mereka memasuki pekerjaan-pekerjaan berat yang sebelumnya tidak pernah mereka geluti, termasuk bekerja di tungku-tungku roti tradisional.

Dari Ibu Rumah Tangga Menjadi Pekerja Tungku Roti

Di sebuah tungku roti sederhana di bagian barat Kota Gaza, Um Ahmad Abu Mghasib (52) memulai harinya sesaat sebelum fajar menyingsing.

Ia mengenakan pakaian yang menghitam akibat lapisan asap, lalu duduk berjam-jam di depan mulut tungku, membalik dan mengawasi roti yang sedang dipanggang, sementara keringat terus mengucur membasahi tubuhnya.

Um Ahmad menuturkan bahwa agresi genosida telah merenggut rumah beserta seluruh harta yang dimilikinya. Kini, bekerja di tungku roti menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa agar ia dapat menyediakan makanan bagi anak-anaknya.

“Setiap hari saya pulang dengan tangan yang terasa terbakar dan wajah penuh jelaga. Tetapi ketika saya bisa membeli roti atau sedikit makanan untuk anak-anak, saya merasa semua kelelahan itu tidak sia-sia,” tuturnya.

Um Ahmad mengakui upah yang diterimanya sangat kecil jika dibandingkan dengan beratnya pekerjaan yang harus dijalani. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain, terlebih di tengah minimnya lapangan pekerjaan dan harga bahan pangan yang terus melambung.

Asap yang Merenggut Kesehatan

Ujian Um Ahmad tidak berhenti pada kelelahan fisik. Seiring berjalannya waktu, kondisi kesehatannya pun terus memburuk. Ia kini menderita asma dan kerap mengalami sesak napas akibat terus-menerus menghirup asap dari tungku.

Selain itu, berdiri selama berjam-jam setiap hari membuatnya mengalami nyeri kronis pada punggung dan persendian.

“Seringkali saya pulang ke tenda dalam keadaan sangat lelah hingga tidak sanggup mencuci muka karena air sangat langka. Saya langsung tertidur dengan pakaian yang masih saya kenakan, sementara bau asap masih melekat di seluruh tubuh,” tuturnya.

Um Ahmad mengatakan, anak-anaknya terkadang ikut membantunya bekerja di tungku roti. Namun, mereka pun mulai mengalami gangguan kesehatan, seperti infeksi kulit dan kelelahan yang terus-menerus.

Panas Berlipat, Upah Tetap Terbatas

Beberapa meter dari tempat Um Ahmad bekerja, Khaled Al-Masri (28) berdiri di depan tungku roti lainnya. Sejak pagi hingga menjelang senja, ia menghabiskan waktunya di sana, terus memanggang roti di tengah hawa yang menyengat.

Khaled mengatakan, bekerja di dalam tenda yang menjadi tempat tungku roti beroperasi terasa seperti berdiri di tengah kobaran api. Panas yang memancar dari tungku berpadu dengan erik matahari musim panas, membuat setiap tarikan napas terasa begitu berat.

“Setiap kali kembali ke tenda, kepala saya berdenyut hebat. Saya pun sering hanya makan sekali dalam sehari. Tapi apa lagi yang bisa saya lakukan? Ada satu keluarga yang menunggu saya membawa pulang makanan,” ujarnya.

Menurut Khaled, rasa lelah bukanlah hal yang paling menyakitkan. Yang paling membebani pikirannya adalah perasaan tidak berdaya karena belum mampu memenuhi kebutuhan dasar keluarganya, meski ia telah bekerja berjam-jam setiap hari.

Perempuan Memikul Beban Keluarga

Samar, istri Khaled, mengatakan bahwa ia turut membantu suaminya menyiapkan adonan dan melayani para pelanggan, meskipun kondisi kesehatannya terus memburuk sejak pecahnya genosida.

Ia menceritakan bahwa setiap hari dimulai dengan perjuangan mendapatkan air bersih sebelum berangkat ke tungku roti. Setelah itu, ia harus bekerja selama berjam-jam, lalu pulang untuk mengurus anak-anaknya yang selama ini kehilangan banyak perhatian karena kedua orang tuanya terus disibukkan oleh pekerjaan.

“Perang telah mengubah segalanya. Kami tidak lagi memiliki waktu untuk diri sendiri, bahkan sekadar kesempatan untuk menjaga kesehatan pun hampir tidak ada,” tuturnya.

Samar menambahkan bahwa kulit dan rambutnya mengalami kerusakan akibat terus-menerus terpapar panas dan asap tungku. Sementara itu, memperoleh air yang cukup untuk mandi telah menjadi kemewahan yang semakin jarang bisa mereka nikmati.

Kenangan yang Berubah

Reem Al-Najjar (35) tak pernah membayangkan bahwa suatu hari ia akan menghabiskan hari-harinya bekerja di depan tungku roti berbahan bakar kayu.

Sebelum perang pecah, ia tengah merencanakan membuka usaha kecil untuk membantu perekonomian keluarganya. Namun rumahnya hancur akibat perang, yang memaksanya mencari pekerjaan apa pun demi mempertahankan hidup.

“Sering kali saya memanggang berbagai jenis roti yang bahkan tidak mampu saya belikan untuk anak-anak perempuan saya. Tapi saya terus menghibur diri bahwa kesabaran adalah satu-satunya pilihan yang kami miliki,” tuturnya.

Reem mengatakan, pekerjaannya telah berdampak pada kesehatannya. Penglihatannya mulai menurun, ia sering merasakan nyeri di dada, dan mengalami ruam pada kulit yang tak kunjung sembuh meski telah diobati dengan salep. Meski demikian, ia tetap harus bekerja setiap hari demi menghidupi keluarganya.

Mencari Nafkah Lebih Kuat daripada Rasa Lelah

Meski setiap hari harus menghadapi ancaman terhadap kesehatan dan tekanan psikologis yang berat, para pekerja tungku roti tetap bertahan menjalankan pekerjaannya. Mereka terus bekerja karena satu alasan sederhana: keluarga mereka membutuhkan makanan untuk bertahan hidup.

Di Gaza, tungku roti kini bukan lagi sekadar tempat memanggang roti. Ia telah menjadi saksi bisu kisah orang-orang yang dipaksa kepungan genosida untuk berhadapan dengan kobaran api setiap hari, agar nyala kehidupan di dalam tenda-tenda pengungsian mereka tidak ikut padam.

Di antara teriknya musim panas dan panas membara dari tungku, mereka terus melanjutkan perjuangan mencari nafkah. Bagi mereka, keteguhan bukan lagi sekadar slogan yang diucapkan, melainkan perjuangan harian yang nyata. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami