Beranda / Palestina / Di Antara Reruntuhan, Sarang Lebah Menopang Mata Pencarian Keluarga Al-Ashqar
Kabar Palestina
20 Agu 2026

Di Antara Reruntuhan, Sarang Lebah Menopang Mata Pencarian Keluarga Al-Ashqar

Di Antara Reruntuhan, Sarang Lebah Menopang Mata Pencarian Keluarga Al-Ashqar
Bagikan:

GAZA (PIC) – Di antara reruntuhan rumah mereka di Kamp Jabalia, keluarga Al-Ashqar tak menemukan banyak yang tersisa untuk membangun kembali keseharian sebagaimana sebelumnya.

Namun, mereka menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga dari sekadar satu koloni lebah: secercah harapan untuk bertahan di tengah agresi genosida yang telah menghancurkan mata pencarian mereka.

Nevin Al-Ashqar dan suaminya, Hussein, tak berharap menemukan sesuatu yang masih hidup ketika kembali setelah mengungsi. Rumah yang dulu menjadi tempat tinggal sekaligus peternakan lebah mereka kini tinggal puing akibat gempuran zionis ‘Israel’.

Namun, dari sela-sela reruntuhan muncul kabar bak keajaiban: koloni lebah yang mereka tinggalkan ternyata masih hidup.

Nevin menuturkan, mereka mengungsi sejak awal perang tanpa sedikit pun berharap dapat menemukan kembali koloni tersebut. Saat pulang, mereka justru melihat lebah-lebah keluar dari balik puing dan menyadari bahwa koloni itu berhasil bertahan.

Rumah mereka telah berubah menjadi “tumpukan puing”. Terdorong oleh kemunculan lebah, Nevin dan suaminya menyingkirkan reruntuhan untuk menyelamatkan koloni tersebut. Hasilnya, mereka mendapati koloni masih dalam kondisi baik, dengan madu dan sarang yang tetap utuh.

Dari koloni kecil yang selamat dari kehancuran, keluarga Al-Ashqar berusaha membangun kembali mata pencarian mereka setelah genosida merenggut sebagian besar peralatan dan koloni lebah yang mereka miliki.

Temuan Tak Terduga yang Menjadi Penopang Ekonomi Keluarga

Nevin mengatakan agresi zionis telah merenggut seluruh peralatan beternak lebah yang dimilikinya. Ia juga kesulitan memperoleh kebutuhan untuk memberi makan, merawat, dan melindungi koloni, sehingga terpaksa mengandalkan cara-cara sederhana agar lebah tetap bertahan hidup.

Masalahnya tak berhenti pada hilangnya peralatan. Agresi zionis juga menghancurkan lingkungan, lahan pertanian, dan peternakan lebah yang selama ini menjadi tumpuan usaha keluarganya. Bahkan memperoleh kebutuhan produksi paling dasar kini menjadi perjuangan berat di Gaza yang dilanda perang dan blokade.

Kini, Nevin memiliki lima koloni lebah. Ia menyebutnya sebagai “harta berharga” yang ingin dipertahankan. Dengan dukungan, ia berharap dapat mengembangkannya menjadi sekitar 20 koloni, sehingga bisa kembali memproduksi madu dan membangun usahanya.

Produksi madu saat ini masih sangat terbatas sehingga Nevin belum mampu memenuhi permintaan pelanggan, meski madu yang dihasilkannya dibutuhkan keluarga-keluarga untuk pangan dan pengobatan.

Di balik lima koloni itu tersimpan perjuangan seorang ibu menghidupi sembilan anaknya. Suaminya mengalami cedera tulang belakang, sementara salah seorang anaknya mengalami cedera tangan dan kerusakan saraf.

Kondisi tersebut menjadikan Nevin tulang punggung sekaligus pencari nafkah utama keluarga, dengan koloni lebah sebagai satu-satunya sumber penghasilan.

Perang Meluluhlantakkan Segalanya, Hanya Satu Koloni yang Bertahan

Hussein Al-Ashqar, suami Nevin, mengenang masa ketika keluarganya mengelola peternakan lebah di sejumlah wilayah Gaza Utara, termasuk Erez, Zikim, Beit Hanoun, dan sekitarnya.

Namun, perang menghancurkan semuanya. Tak ada yang tersisa selain satu koloni lebah yang berada di rumah mereka.

Menemukannya hidup di tengah reruntuhan menjadi salah satu momen paling membangkitkan harapan bagi keluarga itu. Lebah-lebah perlahan kembali aktif dan berkembang. Dari satu koloni, jumlahnya bertambah menjadi empat, hingga kini mencapai lima.

Selama bertahun-tahun, Hussein mengandalkan beternak dan menjual koloni lebah sebagai sumber pendapatan. Kini, dengan hanya beberapa koloni yang tersisa, ia berusaha membangun kembali pekerjaan dan kehidupan keluarganya.

Perang, katanya, bukan hanya menghancurkan peternakan lebah, tetapi juga merenggut impian keluarganya. Salah seorang putranya yang berusia 23 tahun telah dipersiapkan untuk menikah, tetapi agresi penjajah menghancurkan rencana itu; sebagaimana menghancurkan rumah, peternakan, dan sumber penghidupan mereka.

Bagi Hussein, bertahannya satu koloni lebah bahkan lebih membahagiakan daripada menemukan kembali rumah mereka. Melihat koloni itu tetap hidup di tengah reruntuhan menumbuhkan harapan untuk terus melangkah dan berjuang menjemput rizqi Allah.

Berawal dari Sebuah Koloni

Keluarga Al-Ashqar tak menginginkan kehidupan mewah. Mereka hanya berharap lima koloni lebah yang tersisa dapat berkembang menjadi sumber penghasilan yang stabil, agar Nevin mampu menghidupi sembilan anaknya dan Hussein dapat kembali menekuni pekerjaan yang hilang di tengah reruntuhan perang.

Di Gaza, memiliki keterampilan dan pekerjaan saja tak lagi cukup untuk bertahan hidup. Pasar, lahan pertanian, pabrik, dan peternakan lebah hancur, sementara peralatan dan bahan baku semakin sulit diperoleh di tengah krisis yang berkepanjangan.

Kini, lima koloni lebah berdiri di atas atap rumah mereka yang hancur di Jabalia. Jumlahnya mungkin tampak kecil di tengah kehancuran yang begitu luas. Namun bagi keluarga Al-Ashqar, koloni-koloni itu jauh lebih dari sekadar kotak kayu.

Di sanalah tersimpan sumber mata pencarian untuk sembilan anak, pekerjaan kedua orangtua, kenangan masa lalu, dan harapan untuk bangkit kembali.

Kejahatan penjajah telah merenggut hampir seluruh yang mereka miliki. Namun, lebah-lebah itu tetap bekerja dalam diam, mengumpulkan sisa-sisa bunga dan menghasilkan madu di tengah kota yang tertimbun puing akibat agresi zionis ‘Israel’.

Seolah mengingatkan keluarga Al-Ashqar bahwa penghidupan dapat tumbuh dari tempat yang paling tak disangka, dengan pertolongan dan kehendak Allah Ta’ala. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami