GAZA (PIC) – Anggota biro politik Hamas, Basem Naim, melontarkan kritik tajam terhadap Nickolay Mladenov. Yakni setelah dirjen dan perwakilan “Board of Peace” itu mempublikasikan roadmap baru pelaksanaan tahap kedua rencana gencatan senjata Gaza.
Naim menilai negosiasi serius semestinya tidak dilakukan melalui media. Ia menyebut Mladenov menghadirkan peta jalan yang berbeda dari rencana awal, sekaligus mencoba membangun tekanan opini publik terhadap para negosiator Palestina.
Naim menegaskan bahwa Hamas tetap berkomitmen melanjutkan perundingan dan menjalankan fase kedua kesepakatan. Namun, ia menolak jika implementasi dilakukan secara sepihak atau mengikuti selera gembong zionis Benjamin Netanyahu.
Menurutnya, fase pertama perjanjian difokuskan pada aspek kemanusiaan, dan pihak perlawanan Palestina telah memenuhi seluruh kewajibannya. Sebaliknya, ‘Israel’ terus melakukan agresi harian di Gaza dengan rata-rata lebih dari 13 pelanggaran setiap hari.
“Pembunuhan terus berlangsung. Sejak kesepakatan ditandatangani pada 9 Oktober, hampir 900 warga gugur dan sekira 2.600 lainnya terluka,” ujar Naim.
Ia juga menyoroti lambannya bantuan rekonstruksi masuk ke Gaza. Hingga kini, belum ada semen, kayu, maupun kaca yang diizinkan masuk, padahal perjanjian mencakup rekonstruksi sebagian sektor kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur.
Naim turut menyinggung Perjanjian Pelintasan 2005 yang mengatur pembukaan kembali Rafah tiga hari setelah pembebasan tawanan hidup.
Namun penjajah justru terus memanipulasi “garis kuning” secara sepihak sambil memperluas kontrol wilayah melalui operasi militer dan penghancuran. “Wilayah yang mereka kuasai meningkat dari 53 persen menjadi 60 persen,” katanya.
Hamas menilai Mladenov terlalu menyederhanakan persoalan Gaza hanya pada isu pelucutan senjata.
Padahal, menurut Naim, resolusi Dewan Keamanan PBB dan rencana awal juga memuat poin lain seperti masuknya komite administratif, penempatan pasukan internasional, hingga penarikan serdadu penjajah ‘Israel’ dari wilayah Gaza. (PIC)