GAZA (PIC) – Di depan puing-puing rumahnya yang hancur, Majdal Saadallah berdiri terpaku. Tatapannya kosong, seakan berusaha menggenggam kembali momen terakhir bersama putranya yang berusia delapan tahun, Ahmad.
“Dia tertawa,” kenangnya lirih. “Sambil memegang mainannya, dia bertanya kapan bisa tidur lagi di kamarnya.” Majdal tak pernah tahu, itu adalah kali terakhir ia melihat anaknya.
Ketika keluarga itu mengungsi ke rumah lain akibat pengusiran paksa, rumah tersebut dibom. Dan Ahmad masih tertimbun reruntuhan hingga kini, karena tim penyelamat belum dapat menjangkaunya.
Kisah Majdal bukan satu-satunya. Ia hanya satu dari ribuan cerita serupa—potret luka yang lebih luas tentang anak-anak yang hilang di Gaza.
Data dari Pusat Palestina untuk Orang Hilang dan Korban Penghilangan Paksa mencatat, lebih dari 2.900 anak di Gaza belum ditemukan. Sekira 2.700 di antaranya diyakini masih terjebak di bawah reruntuhan.
Kerusakan yang masif, serangan yang terus berlangsung, serta kelangkaan bahan bakar untuk mengoperasikan alat berat membuat upaya penyelamatan nyaris mustahil dilakukan.
“Jumlah total orang hilang di Gaza berkisar antara 7 ribu hingga 8 ribu. Di antaranya ratusan anak yang hilang dalam berbagai situasi,” ujar Nidaa Nabil, direktur lembaga tersebut.
Sebagian menghilang saat berusaha mencapai lokasi bantuan. Sebagian lagi di sepanjang rute pengungsian. Ada pula yang menghilang di dekat wilayah-wilayah tempat serdadu penjajah ‘Israel’ ditempatkan.
Namun, kehilangan di Gaza tak berhenti pada mereka yang tewas akibat bom. Ia merembes ke rutinitas pahit yang dipaksakan oleh penjajahan.
Ancaman di Titik Distribusi Bantuan
Kelaparan yang mencengkeram wilayah itu memaksa anak-anak menjalani peran di luar usia mereka: mencari makanan, mengumpulkan kayu bakar, hingga berjalan menuju titik distribusi bantuan—tempat yang menumbuhkan harapan, namun juga menyimpan bahaya.
Tak sedikit anak terakhir terlihat di lokasi-lokasi tersebut, lalu hilang tanpa jejak. Tanpa informasi resmi. Tanpa jawaban. Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan penghilangan paksa atau penahanan.
Salah satunya adalah Ibrahim Abu Zaher, remaja 15 tahun yang hilang pada Juni 2025 setelah pergi ke wilayah Zikim untuk mencari bantuan makanan.
Menurut keluarga dan saksi mata, serdadu mengepung area tersebut dan menahan sejumlah warga sipil. Sejak saat itu, Ibrahim tak pernah terlihat lagi.
Laporan yang belum terkonfirmasi menyebut ia sempat terlihat di kamp penahanan Sde Teiman, tanpa ada pernyataan resmi terkait penangkapannya.
Kondisi serupa dialami Mohammad Abu al Oula, 17 tahun, yang hilang sejak Oktober 2023 setelah keluar rumah untuk memantau situasi di timur Khan Yunis. Keluarganya telah mencari ke rumah sakit, kamar jenazah, dan mengajukan berbagai permohonan—namun tak satu pun informasi ditemukan.
Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa kehilangan di Gaza kini melampaui serangan bom. Ia menjangkau ruang-ruang paling dasar dari kehidupan. Bahkan, upaya mencari makan pun bisa berujung pada hilangnya seseorang.
Sementara itu, puing-puing rumah yang hancur perlahan berubah menjadi kuburan massal. Jenazah korban, termasuk anak-anak, terkubur dalam waktu lama tanpa bisa dievakuasi.
Minimnya peralatan, larangan masuknya alat berat, serta keterbatasan kemampuan membuat proses evakuasi terhenti. Banyak keluarga tak bisa memakamkan anak-anak mereka dengan layak.
Kondisi ini merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional, yang menjamin hak keluarga untuk mengetahui nasib orang-orang tercinta. Penghilangan paksa digolongkan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan oleh berbagai kelompok HAM.
Namun hingga kini, belum ada mekanisme penyelidikan yang efektif. Pembatasan di lapangan terus berlangsung, sementara isu orang hilang tetap diselimuti keheningan.
Di tengah semua itu, ribuan keluarga di Gaza hidup dalam penantian tanpa ujung. Hari-hari berlalu sebagai rangkaian pertanyaan yang tak terjawab. Para ibu yang kehilangan anak hanya berpegang pada dua hal: harapan dan ketakutan. Mereka tak tahu apakah anak-anak mereka masih hidup, atau telah tiada.
Di tengah agresi genosida yang terus berlangsung, kisah anak-anak yang hilang menjadi bukti nyata salah satu krisis kemanusiaan paling kompleks. Kesulitan tidak berakhir hanya pada kehilangan, bahkan berlanjut menjadi penantian berkepanjangan. (PIC)