GAZA (PIC) – Aroma kue dan manisan yang biasanya memenuhi rumah-rumah warga Gaza menjelang Idul Adha nyaris tak lagi tercium tahun ini. Di tengah kekerasan dan agresi genosida ‘Israel’ yang menghancurkan wilayah tersebut, suasana hari raya berubah menjadi potret kemiskinan, pengungsian, dan kesulitan berkepanjangan.
Warga Gaza kini bukan hanya kehilangan rumah dan anggota keluarga, tetapi juga kehilangan kemampuan untuk merayakan hari raya seperti sebelumnya.
Pakaian baru untuk anak-anak menjadi barang mewah yang sulit dijangkau. Hewan qurban hampir tidak tersedia. Kalaupun ada, harganya melambung jauh di luar kemampuan warga yang sebagian besar telah kehilangan pekerjaan dan sumber penghasilan akibat perang.
Di tenda pengungsian di Deir al-Balah, Gaza tengah, Nadia Abu Shamala merasakan langsung pahitnya keadaan itu. Perempuan berusia 40 tahun yang mengungsi dari Gaza Utara tersebut mengaku kini hanya mampu melihat-lihat pasar tanpa bisa membeli apa pun.
“Saya pergi ke pasar hanya untuk melihat-lihat,” katanya dalam laporan AFP. “Tetapi saya tidak bisa membeli apa pun, karena setiap kali bertanya harga, saya pulang dengan hati hancur.”
Kalimat itu menggambarkan realitas getir yang kini dialami ribuan keluarga Gaza: pasar mungkin masih berdiri, tetapi daya beli warga nyaris lumpuh total.
Menurut Nadia, Idul Adha tahun ini datang tanpa membawa satu pun tanda kebahagiaan yang dulu begitu melekat dalam kehidupan masyarakat Gaza.
“Idul Adha kali ini hadir tanpa suasana sukacita seperti yang dulu kami rasakan,” ujarnya. “Perang, harga-harga yang sangat mahal, dan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan paling sederhana bagi anak-anak membuat kebahagiaan itu seolah hilang,” ujarnya.
Gencatan Senjata yang Terus Dilanggar Penjajah
Kesepakatan gencatan senjata yang mulai berlaku pada 10 Oktober 2025 ternyata belum benar-benar menghentikan kesulitan warga Gaza. Serangan dan korban jiwa masih terus berjatuhan. Bahkan Kementerian Kesehatan Gaza mencatat sedikitnya 871 warga Palestina gugur sejak masa gencatan senjata dimulai.
Di tengah situasi yang belum benar-benar aman itu, warga Gaza mencoba menjalani Idul Adha dengan segala keterbatasan.
Abu Abdullah al-Masdar, warga Deir al-Balah berusia 59 tahun, secara terang-terangan menyebut gencatan senjata itu sebagai kebohongan besar. Meski demikian, ia tetap berusaha menghadirkan sedikit kegembiraan untuk anak-anak di keluarganya.
Bersama saudaranya, Abu Abdullah patungan membeli seekor domba kurban seharga 13 ribu shekel atau sekitar 4.600 dolar AS—harga yang sangat fantastis untuk warga Gaza yang hidup di tengah krisis pangan dan kehancuran ekonomi.
“Saya tahu harganya sangat mahal,” ujarnya. “Tetapi saya memutuskan tetap berkurban tahun ini, karena hampir tidak ada lagi suasana Idul Adha. Yang ada hanya kesedihan.”
Lonjakan harga hewan kurban memang menjadi pukulan baru bagi warga Gaza. Kelangkaan pasokan akibat pengepungan berkepanjangan membuat harga kambing dan domba melambung tak masuk akal.
Ahmad Abu Salem, warga Kota Gaza berusia 50 tahun, mengaku tak pernah membayangkan harga hewan kurban bisa mencapai level seperti sekarang.
“Harga hewan kurban tahun ini sangat mengejutkan,” katanya. “Kami tidak pernah membayangkan seekor hewan bisa mencapai 4.000 hingga 5.000 dolar AS. Seumur hidup, kami belum pernah melihat harga seperti ini.”
Padahal, menurut Ahmad, membeli hewan kurban dulu menjadi tradisi yang selalu diupayakan warga Gaza setiap Idul Adha. Kini, jangankan membeli hewan kurban, membeli sedikit daging saja sudah menjadi kemewahan yang sulit dijangkau.
“Dulu orang-orang selalu berusaha membeli hewan kurban setiap tahun,” tuturnya dengan nada getir. “Hari ini kami bahkan tidak mampu membeli satu kilogram daging untuk anak-anak kami.”
Idul Adha yang Terasa Berbeda
Idul Adha yang biasanya identik dengan aroma kue, daging kurban, dan pakaian baru bagi anak-anak kini berubah menjadi musim “kekhawatiran” di Gaza.
Juru bicara Kementerian Pertanian Gaza, Raafat Asaliya, mengatakan harga hewan kurban tahun ini mengalami kenaikan drastis akibat lumpuhnya pasokan dan kehancuran besar yang ditinggalkan perang.
“Harga hewan kurban meningkat secara belum pernah terjadi sebelumnya karena impor benar-benar terhenti, banyak ternak mati akibat perang, serta tingginya biaya pakan, pemeliharaan, dan transportasi,” jelasnya.
Menurut Asaliya, sebelum perang seekor domba biasanya dijual sekitar 1.000 shekel. Kini harganya melonjak menjadi 11 ribu hingga 15 ribu shekel, atau sekitar 3.900 hingga 5.300 dolar AS. Lonjakan harga itu membuat Idul Adha terasa semakin jauh dari jangkauan warga.
Abu Salem, warga Gaza yang kini tinggal di pengungsian, mengatakan keluarganya bahkan kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Beban hidup semakin berat karena harga pakaian anak-anak juga ikut melonjak tajam. Menurut Abu Salem, satu set pakaian sederhana untuk seorang anak—hanya berupa celana dan kemeja—bisa melebihi 100 dolar AS. Itu harga yang tidak masuk akal.
Kondisi serupa dirasakan Siham al-Omari, perempuan 36 tahun yang mengungsi dari Gaza utara ke Deir al-Balah. Ia mengaku sangat merindukan suasana Idul Adha seperti sebelum genosida, ketika keluarga masih bisa membeli pakaian baru dan menyiapkan hidangan khas hari raya. Kini, semua itu terasa mustahil.
Abu Ahmad Wafi, pengungsi dari Khan Younis timur yang kini tinggal di bagian barat kota itu, mengatakan pasar sebenarnya masih dipenuhi kue, maamoul, dan manisan khas hari raya. Namun mayoritas warga tak lagi mampu membelinya.
Perang dan pengepungan telah membuat kebutuhan paling dasar menjadi barang mewah bagi jutaan warga Gaza. PBB mencatat sekitar 1,7 juta warga Gaza—dari total populasi 2,2 juta jiwa—masih bertahan di kamp-kamp pengungsian yang tidak layak huni setelah rumah mereka hancur akibat perang.
Di saat yang sama, lebih dari separuh wilayah Gaza yang luasnya hanya sekitar 365 kilometer persegi kini berada di bawah kontrol serdadu ‘Israel’.
Kondisi itu membuat kehidupan warga semakin terhimpit. Banyak keluarga kehilangan rumah, pekerjaan, akses pangan, hingga ruang aman untuk sekadar menjalani tradisi keagamaan bersama keluarga. (PIC)
