GAZA (PIC) – Kelaparan massal kembali membayangi penduduk Gaza. Di tengah agresi zionis yang terus berlangsung dan blokade yang semakin ketat, ribuan keluarga muhajirin kini hidup dalam ketidakpastian hanya untuk mendapatkan sepiring makanan.
Um Mohammed, muhajirin perempuan dari kawasan Al-Shujaiya di timur Kota Gaza, mengaku sudah kehabisan cara untuk menenangkan anak-anaknya agar bisa tidur dalam keadaan lapar.
Selama berminggu-minggu, ia bertahan dari makanan hangat yang dibagikan dapur kemanusiaan di dekat lokasi pengungsian. Namun bantuan itu perlahan berkurang, hingga beberapa hari terakhir distribusi benar-benar berhenti.
“Sekarang kelaparan datang lagi. Makanan memang ada di pasar, tetapi kami tidak punya uang untuk membelinya. Hampir semua muhajirin mengalami hal yang sama,” ujarnya.
Situasi di Gaza semakin memburuk seiring berlanjutnya agresi dan pengepungan zionis ‘Israel’. Banyak dapur umum dan lembaga kemanusiaan terpaksa menghentikan layanan atau mengurangi jumlah makanan yang dibagikan setiap hari akibat menipisnya stok pangan dan bahan bakar.
Pembatasan bantuan yang masuk melalui pelintasan membuat krisis kemanusiaan di Gaza semakin dalam. Setiap hari, antrean panjang pria, perempuan, hingga anak-anak terlihat memenuhi titik distribusi makanan. Namun tidak sedikit warga yang akhirnya pulang membawa wadah kosong karena makanan habis sebelum giliran mereka tiba.
Bantuan Menyusut, Ancaman Kelaparan Kian Nyata di Gaza
Krisis kemanusiaan di Gaza semakin memburuk. Sejumlah lembaga bantuan dalam beberapa hari terakhir mengumumkan pengurangan layanan pangan akibat menipisnya stok bahan makanan dan bahan bakar.
Di sisi lain, para muhajirin menghadapi kondisi jatah makanan yang terus berkurang, sementara antrean di titik distribusi bantuan semakin panjang dari hari ke hari.
Kantor Media Pemerintah Gaza (GMO) mengatakan ‘Israel’ terus membatasi jumlah truk bantuan yang masuk ke Gaza. Tak hanya itu, zionis juga disebut mengontrol jenis bahan makanan yang boleh melewati pelintasan secara terbatas dan tidak menentu.
Kondisi tersebut memicu krisis ketahanan pangan yang semakin parah di wilayah yang telah berbulan-bulan dihantam genosida dan blokade. Menurut GMO, keterlambatan dan pembatasan bantuan membuat banyak lembaga kemanusiaan kesulitan menyediakan makanan siap saji maupun mengoperasikan toko roti.
Pemerintah Gaza bahkan memperingatkan tentang kembalinya ancaman kelaparan, terutama karena jumlah pengungsi terus bertambah dan ratusan ribu keluarga kini sangat membutuhkan bantuan makanan harian untuk bertahan hidup.
Sejumlah lembaga bantuan sebelumnya telah mengurangi distribusi tepung untuk toko roti. Kini, layanan makanan hangat pun mulai dipangkas akibat stok pangan yang hampir habis dan sulitnya pasokan masuk ke Gaza.
Direktur GMO, Ismail al-Thawabta, mengungkapkan bahwa sejak kesepakatan gencatan senjata berlaku pada awal Oktober 2025, ‘Israel’ hanya meloloskan 48.636 truk bantuan masuk dari total 131.400 truk yang seharusnya memasuki Gaza. Artinya, lebih dari 63 persen kebutuhan kemanusiaan dasar tidak pernah sampai kepada warga.
Situasi semakin memburuk pada Mei 2026. Hingga 18 Mei, hanya 2.719 truk bantuan yang diloloskan masuk dari total 10.800 truk yang dijadwalkan.
“Tingkat realisasi masuknya bantuan hanya 25 persen. Ini indikator yang sangat berbahaya dan menunjukkan meningkatnya pembatasan bantuan secara sengaja,” kata al-Thawabta.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya kejahatan sistematis yang menjadikan makanan, obat-obatan, dan bantuan kemanusiaan sebagai alat tekanan politik. “Ini melanggar hukum humaniter internasional dan menyebabkan dampak bencana bagi warga sipil,” tegasnya.
Pemerintah Gaza pun mendesak komunitas internasional, mediator, dan pihak penjamin gencatan senjata untuk segera mengambil langkah nyata menekan penjajah ‘Israel’ agar menjalankan seluruh isi kesepakatan tanpa penundaan.
Tuntutan itu mencakup pembukaan penuh akses pelintasan, penghentian perang dan serangan militer, pengakhiran blokade dan kelaparan, serta menjamin bantuan kemanusiaan dapat masuk dengan aman dan bebas ke wilayah Gaza.
“Anak-Anak Kami Tidur dalam Keadaan Lapar”
Abu Jihad, pria 40 tahun ayah lima anak yang tinggal di sebuah sekolah pengungsian di Deir Al-Balah, menggambarkan proses mencari makanan seperti “pertempuran setiap hari”.
“Kami berdiri berjam-jam di bawah terik matahari hanya untuk mendapatkan sepiring nasi atau lentil. Kadang banyak orang pulang tanpa membawa apa pun. Ada keluarga yang anak-anaknya tidur dalam keadaan lapar,” ujarnya.
Pemandangan serupa terlihat di salah satu pusat pengungsian di Kamp Nuseirat. Um Mohammed, perempuan berusia 50 tahun, berdiri sambil membawa wadah kosong menunggu dapur umum dibuka.
Namun para relawan mengumumkan distribusi makanan ditunda karena stok bahan pangan habis. “Kami sudah tidak bermimpi makan daging atau buah,” katanya lirih. “Kami hanya ingin roti atau sedikit makanan untuk meredakan lapar kami dan anak-anak.”
Di berbagai titik pengungsian Gaza, antrean panjang warga yang menunggu bantuan makanan kini menjadi pemandangan sehari-hari. Namun, bagi banyak keluarga, satu kali makan sehari pun mulai terasa seperti kemewahan di tengah perang, blokade, dan krisis kemanusiaan yang terus memburuk.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan hambatan di pelintasan, keterlambatan masuknya truk bantuan, serta krisis bahan bakar telah menyebabkan penurunan drastis operasi bantuan, terutama di sektor makanan, air bersih, dan layanan kesehatan.
Dalam laporan terbarunya, PBB menyebut lebih dari satu juta anak di Gaza kini terancam mengalami malnutrisi akut.
Para pakar kemanusiaan memperingatkan, jika pengurangan bantuan terus berlanjut, maka lingkaran kelaparan akan semakin meluas dan memicu penyebaran penyakit akibat gizi buruk, terutama di kalangan anak-anak, lansia, dan warga yang sakit. (PIC)
