Beranda / Yaman / Kemarahan dan Kecaman di Yaman Setelah Eksekusi Warga di Luar Jalur Hukum
Kabar Yaman
17 Des 2025

Kemarahan dan Kecaman di Yaman Setelah Eksekusi Warga di Luar Jalur Hukum

Kemarahan dan Kecaman di Yaman Setelah Eksekusi Warga di Luar Jalur Hukum
Bagikan:

YAMAN (Al Jazeera) – Masyarakat Yaman dihebohkan dengan pelaksanaan hukuman mati secara adat di provinsi Shabwah. Kasus ini kembali menyoroti praktik balas dendam antar suku yang masih terjadi di luar jalur hukum di Yaman. Menurut berbagai laporan, praktik semacam ini justru semakin marak di berbagai wilayah negara tersebut.

Kronologi Kejadian

Pada awal Desember (Sabtu, 6/12/2025) lalu, seorang warga Yaman bernama Amin Bahaj membunuh pria lain bernama Basil Al-Marwah di distrik Haban, provinsi Shabwah, Yaman tenggara. Keluarga Amin kemudian menyerahkan dirinya kepada keluarga korban dengan harapan mendapat pengampunan, agar tidak terjadi konflik antar suku yang lebih besar.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Suku korban, yaitu Al Lasud, langsung mengeksekusi Amin di tempat penyerahan tersebut—tanpa menunggu campur tangan pemerintah atau bahkan mengadakan sidang adat untuk memutuskan hukumannya.

Video yang menyakitkan memperlihatkan eksekusi warga Amin Bahaj di siang bolong dan di depan umum tersebar luas di kalangan warga Yaman, memicu gelombang kecaman yang sangat besar.

Respons Pihak Berwenang

Kepolisian Shabwah mengecam keras kejadian ini dan menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap sistem dan hukum. Dalam pernyataan resminya, polisi menegaskan bahwa “pihak berwenang akan mengambil tindakan hukum yang diperlukan tanpa toleransi, demi melindungi kepentingan umum dan menegakkan wibawa negara.”

Sementara itu, media Yaman melaporkan terjadinya bentrokan sengit di wilayah Haban, Shabwah, antara suku Al Lasud dan suku Al Bahaj, menyusul penyebaran video tersebut.

Kemarahan di Media Sosial

Warganet Yaman mengungkapkan kemarahan mereka atas video eksekusi yang dilakukan dengan tembakan di luar jalur hukum tersebut.

Pengguna media sosial Abdul Jabbar mengecam kejadian ini dengan menulis:

“Ini adalah kejahaman, aib hitam, dan memalukan bagi kemanusiaan. Pria itu menyerahkan diri, dan ia berhadapan dengan orang-orang yang tak punya hati nurani yang menyerahkannya kepada mereka alih-alih kepada negara. Mereka langsung membawanya pergi tanpa memastikan apakah dia benar-benar pembunuhnya.”

Aktivis Sakhr menegaskan bahwa kejadian ini asing bagi tradisi masyarakat Yaman, dan menulis:

“Kejahatan ini tidak mewakili suku Yaman yang asli. Seharusnya mereka menyerahkannya kepada pihak berwenang dan menerapkan syariat Allah sesuai hukum. Mereka telah menghina suku-suku Shabwah dengan kejahatan mereka.”

Dari sudut pandang lain, seorang pengguna bernama Hashim menyatakan penolakan terhadap adat dan tradisi suku yang memungkinkan terjadinya kejahatan seperti ini:

“Saya pribadi menyatakan berlepas diri dari sistem kesukuan dan adat istiadat suku yang menghambat sistem dan hukum.”

Sementara itu, pengguna Muhammad mempertanyakan keberadaan negara dan hukum:

“Di mana pemerintah dalam kekacauan dan kekejaman ini? Kalau ada hukum dan wibawa negara, mereka dan orang-orang seperti mereka tidak akan berani melakukan premanisme di luar sistem dan peradilan.”

Skala Masalah

Meskipun tidak ada statistik resmi dari pemerintah yang mengungkap besarnya praktik balas dendam antar suku di Yaman, laporan-laporan dari organisasi hak asasi manusia menyebutkan bahwa ratusan atau bahkan ribuan orang terbunuh setiap tahun akibat pembalasan dendam ini. Kejahatan semacam ini mengalami peningkatan drastis sejak tahun 2014, seiring dengan runtuhnya lembaga-lembaga negara di Yaman. (ADR)


Sekilas tentang Garis Depan Yaman

Yaman adalah negara di semenanjung Arab yang sejak 2014 dilanda konflik berkepanjangan dan perang saudara dengan keterlibatan berbagai pihak. Konflik ini telah menghancurkan institusi pemerintahan, termasuk sistem hukum dan peradilan yang seharusnya melindungi warga. Ketika negara tidak lagi mampu menegakkan keadilan, kekosongan ini diisi oleh praktik-praktik yang mengerikan seperti balas dendam antar suku dan main hakim sendiri—mengubah tradisi penyelesaian konflik yang sebenarnya mulia menjadi tindakan keji yang merenggut nyawa ratusan bahkan ribuan jiwa setiap tahunnya.

Keluarga kita di Yaman terus berjuang di tengah kehancuran sistem yang seharusnya melindungi mereka, menghadapi kekerasan dan ketidakadilan setiap hari. Di tengah situasi sulit ini, Yayasan KITA hadir memberikan dukungan konkret melalui pembukaan akses air bersih dan distribusi makanan pokok bagi mereka yang paling membutuhkan. Solidaritas kita untuk keluarga di garis depan Yaman bisa dimulai dari kepedulian nyata—karena mereka adalah bagian dari satu kesatuan umat yang tidak boleh kita lupakan. Kirim tanda cinta Anda kepada keluarga kita di sana melalui:

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami