Beranda / Palestina / Ketika Agresi Genosida Merenggut Keceriaan Ramadhan Ahlu Syam Gaza
Kabar Palestina
24 Feb 2026

Ketika Agresi Genosida Merenggut Keceriaan Ramadhan Ahlu Syam Gaza

Ketika Agresi Genosida Merenggut Keceriaan Ramadhan Ahlu Syam Gaza
Bagikan:

GAZA (PIC) — Ramadan di Gaza tahun ini tak lagi seperti yang dikenal warganya selama puluhan tahun. Bulan yang dulu identik dengan ketenangan, ibadah bersama, serta hidangan berlimpah kini berjalan di bawah bayang-bayang genosida.

Pengungsian massal, kehancuran, kelangkaan bahan pokok, dan perubahan drastis dalam kehidupan sehari-hari membentuk wajah baru Ramadhan di wilayah itu.

Shalat berjamaah dan berbagai kegiatan Ramadhan yang dulu menghidupkan lingkungan kini jauh berkurang.

Ratusan masjid hancur. Banyak keluarga terpaksa beribadah di dalam tenda pengungsian atau rumah yang rusak, dalam suasana penuh kewaspadaan dan rasa tidak aman.

Meja makan pun tak lagi seperti dulu. Keterbatasan bahan makanan dan harga yang melambung membuat menu berbuka dan sahur semakin sederhana—sering kali hanya mengandalkan bantuan yang tersedia.

Pemadaman listrik dan krisis air bersih menambah kesulitan. Menyiapkan makanan bukan lagi rutinitas biasa, melainkan perjuangan tersendiri.

Tradisi silaturahmi, yang menjadi ruh Ramadhan, ikut memudar. Perang memisahkan keluarga. Banyak kerabat terpencar di berbagai lokasi pengungsian. Sebagian hanya bisa berkomunikasi lewat telepon, jika jaringan memungkinkan.

Anak-anak pun menjalani Ramadan tanpa hiasan lampu, tanpa permainan, tanpa keceriaan yang dulu mereka tunggu-tunggu.

Ketegangan di Bulan Ramadhan

Ghassan Fayyad, warga Bayt Lahia yang kini mengungsi di sebuah sekolah milik UNRWA di Gaza barat, mengaku tak lagi merasakan suasana Ramadhan seperti sebelumnya.

“Dulu, begitu mendengar Ramadan akan tiba, kami langsung bahagia,” katanya. “Sekarang, yang kami pikirkan hanya kapan kesulitan di pengungsian ini akan berakhir.”

Ia mengenang Ramadhan terakhir di rumahnya. Bersama tetangga, ia membersihkan lingkungan, memasang lampu hias di tiang-tiang listrik, dan menyiapkan masjid untuk menyambut jamaah. Sekarang tak ada masjid, dan tak ada lingkungan.

Menurutnya, suasana Ramadhan kini terasa hampa. “Kami kehilangan orang-orang tercinta. Tak ada lagi kunjungan keluarga, tak ada undangan berbuka, tak ada kue-kue manis, tak ada tarawih berjamaah. Kini yang ada adalah ketegangan dan kelelahan.”

Mohammad: “Ini Ramadhan Ketiga Kami di Tenda Pengungsian”

Mohammad Alyan, pengungsi dari Kamp Jabalia yang kini tinggal di Gaza barat, merasakan kepedihan serupa. Ia sangat merindukan indahnya Ramadhan sebelum perang.

Tahun ini menjadi Ramadhan ketiganya di dalam tenda. “Tak ada lagi kebiasaan lama. Dulu kami memasak dengan gas, berbuka dengan lampu menyala, dan mendengar adzan berkumandang. Sekarang kami memasak dengan kayu bakar, berbuka dengan cahaya ponsel, dan adzan sering berlalu tanpa terdengar.”

Ia menambahkan, anak-anak pun kehilangan momen bahagia mereka. “Tak ada hiasan, tak ada lentera, tak ada manisan untuk membuat mereka tersenyum. Semua berubah total. Ramadhan (di tengah genosida) bukan lagi musim kegembiraan.”

Tradisi Ramadhan yang Dulu Disiapkan Sejak Sebelum Hilal, Kini Tinggal Kenangan

Widad Hamouda mengenang bagaimana Ramadhan dulu disambut jauh sebelum hilal terlihat. “Kami sudah bersiap beberapa hari sebelumnya—membersihkan rumah, membeli kebutuhan pokok, menyusun jadwal kunjungan keluarga.”

Hari pertama Ramadan biasanya dimulai dengan shalat Subuh dan membaca Al-Quran, lalu berbelanja ke pasar untuk menyiapkan hidangan berbuka dan membeli kue. Malamnya ditutup dengan salat tarawih berjamaah.

“Kini rumah itu sudah hancur. Sebagian orang tercinta telah tiada, yang lain terpencar di kamp-kamp pengungsian,” katanya lirih. “Semua pemandangan itu lenyap bersama perang.” (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami