Beranda / Palestina / Konferensi Mahasiswa di London Serukan Solidaritas bagi Kampus-Kampus Palestina
Kabar Palestina
10 Mar 2026

Konferensi Mahasiswa di London Serukan Solidaritas bagi Kampus-Kampus Palestina

Konferensi Mahasiswa di London Serukan Solidaritas bagi Kampus-Kampus Palestina
Bagikan:

LONDON (PIC) – Konferensi Mahasiswa Nasional untuk Palestina digelar di jantung London pada Sabtu, 7 Maret 2026. Kegiatan itu mempertemukan para mahasiswa yang berkomitmen memperkuat solidaritas bagi Palestina.

Acara ini diselenggarakan oleh Friends of Palestinian Universities bersama Palestine Solidarity Campaign sebagai ruang diskusi, refleksi, sekaligus mendorong aksi bersama dalam mendukung pendidikan dan mahasiswa Palestina.

Konferensi tersebut dihadiri mahasiswa Palestina serta para aktivis, bersama mahasiswa dari sejumlah universitas di Inggris, di antaranya University of Cambridge, Goldsmiths, University of London, dan University College London.

Penyelenggara menyatakan bahwa konferensi ini bertujuan menjembatani hubungan antara mahasiswa Palestina dan rekan-rekan mereka di Inggris. Para peserta diajak memahami secara langsung pengalaman para mahasiswa di Palestina yang terus melanjutkan perjuangan pendidikan di tengah situasi yang sangat sulit di tanah air mereka.

Dalam berbagai sesi diskusi, para pembicara menekankan pentingnya membangun solidaritas internasional serta memperkuat jaringan dukungan yang dipimpin mahasiswa di berbagai kampus dan komunitas di seluruh dunia.

Pendidikan Tinggi di Bawah Kepungan

Pendidikan tinggi Palestina menghadapi tekanan berat yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Hal itu disampaikan Ahmad Nihad dari Friends of Palestinian Universities.

Nihad menjelaskan bahwa krisis yang dihadapi perguruan tinggi Palestina sebenarnya tidak dimulai oleh perang yang sedang berlangsung saat ini. Menurutnya, masalah tersebut berakar pada pembatasan panjang dan tekanan politik yang telah berlangsung selama beberapa dekade.

Ia menggambarkan bagaimana universitas-universitas Palestina—terutama di Jalur Gaza—harus beroperasi di bawah keterbatasan yang sangat berat akibat blokade berkepanjangan. Situasi tersebut membatasi mobilitas akademik, peluang penelitian, serta akses terhadap berbagai sumber daya pendidikan.

Sejak eskalasi agresi genosida di Gaza, kondisi itu memburuk secara endidi. Nihad menyoroti bahwa sejumlah akademisi terkemuka menjadi korban selama perang.

“Universitas-universitas di Gaza kehilangan banyak sarjana produktif, endidika, dokter, dan peneliti terkemuka,” ujarnya.

Selain kehilangan sumber daya manusia, infrastruktur endidikan juga mengalami kerusakan besar. Sejumlah kampus di Gaza dilaporkan dibombardir, menyebabkan bangunan universitas rusak parah bahkan hancur.

Meski menghadapi kerugian besar tersebut, Nihad menegaskan bahwa mahasiswa dan akademisi Palestina tetap menunjukkan ketangguhan. Ia menyampaikan harapan pada generasi baru yang tetap bertekad melanjutkan endidikan, meneliti, dan berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan meskipun berada dalam kondisi yang sangat sulit.

Sejarah Ketangguhan Pendidikan Palestina

Nihad juga menyoroti perjalanan panjang pendidikan tinggi Palestina yang lahir dari kondisi yang sangat terbatas.

Menurutnya, banyak universitas Palestina berawal dari fasilitas sederhana setelah peristiwa Nakba; ketika masyarakat Palestina mulai membangun bentuk awal pendidikan tinggi di bangunan sementara bahkan di tenda-tenda pengungsian.

Seiring waktu, lembaga-lembaga tersebut berkembang menjadi universitas yang mapan dan berperan penting sebagai pusat kehidupan intelektual serta budaya masyarakat Palestina.

Namun perjalanan itu tidak pernah mudah. Pendidikan tinggi Palestina berulang kali menghadapi gangguan akibat ketidakstabilan politik dan tekanan ekonomi yang berkepanjangan.

Di Gaza khususnya, blokade yang berlangsung lama memberi tekanan besar terhadap universitas. Pembatasan tersebut menghambat pendanaan sekaligus membatasi kerja sama akademik internasional.

Banyak mahasiswa kesulitan membayar biaya kuliah, sementara universitas sangat bergantung pada biaya tersebut untuk mempertahankan operasional dan membayar staf pengajar. Situasi ini menciptakan siklus keuangan yang rapuh, yang menjadi semakin sulit dipertahankan di tengah krisis yang berkepanjangan.

Mahasiswa di Bawah Bayang-Bayang Kekerasan

Dua mahasiswa Palestina dari Birzeit University turut bergabung secara daring dalam konferensi mahasiswa solidaritas Palestina di London untuk membagikan pengalaman mereka menjalani pendidikan di tengah agresi genosida.

Keduanya dikenal aktif dalam kampanye dukungan bagi Palestina dan menceritakan bagaimana kehidupan akademik mahasiswa di Palestina kerap terganggu oleh situasi keamanan yang tidak menentu.

Mereka menjelaskan bahwa kegiatan perkuliahan sering kali dibatalkan atau dihentikan secara tiba-tiba. Dalam banyak kasus, kelas terpaksa dihentikan setelah kabar kematian teman atau rekan mahasiswa akibat kekerasan.

Para mahasiswa tersebut juga menggambarkan langsung kekerasan yang mereka saksikan, termasuk penembakan terhadap mahasiswa hingga tewas, serta penangkapan dan penahanan terhadap rekan-rekan mereka.

Selain itu, universitas dan sekolah kerap dipaksa tutup karena situasi keamanan. Kondisi ini membuat ribuan anak muda kehilangan akses endidikan yang stabil dan berkelanjutan.

Mereka juga menyoroti risiko yang dihadapi mahasiswa yang terlibat dalam aktivisme. Mahasiswa Palestina yang mengorganisasi aksi atau menyuarakan pendapat sering menghadapi intimidasi, pengawasan ketat, hingga penangkapan oleh aparat.

Menguatkan Suara Palestina

Wakil Ketua Kampanye Solidaritas Palestina, Neha Shah, menegaskan pentingnya menempatkan kepemimpinan Palestina di garis depan gerakan solidaritas internasional.

Shah menekankan bahwa solidaritas yang sejati harus memberi ruang bagi warga Palestina untuk menyampaikan suara mereka sendiri. Menurutnya, kelompok solidaritas di Inggris tidak seharusnya berbicara atas nama rakyat Palestina, melainkan membuka ruang agar suara mereka dapat memimpin dan didengar.

Ia juga menyoroti peran penting gerakan mahasiswa dalam memperkuat dan menyebarkan suara tersebut. Dalam sejarahnya, komunitas kampus dan mahasiswa kerap menjadi motor penggerak dalam menggalang dukungan bagi berbagai perjuangan keadilan global.

Menanggapi kehancuran sejumlah universitas di Gaza, Shah menegaskan perlunya dukungan internasional untuk membangun kembali sektor pendidikan tinggi di wilayah tersebut.

“Pendidikan di Gaza tidak hanya harus bertahan, tetapi juga harus dibangun kembali,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa komunitas akademik internasional memiliki tanggung jawab untuk turut berkontribusi dalam upaya tersebut.

Di akhir pidatonya, Shah menyerukan peningkatan tekanan terhadap lembaga dan pembuat kebijakan. Ia mengajak para mahasiswa untuk mengorganisasi kampanye yang menantang keterlibatan serta dukungan pemerintah United Kingdom dan sejumlah universitas terhadap genosida yang sedang berlangsung. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami