Beranda / Palestina / Krisis Obat di Gaza: Kondisi Pasien Kanker Kian Rentan di Tengah Blokade dan Genosida
Kabar Palestina
3 Sep 2026

Krisis Obat di Gaza: Kondisi Pasien Kanker Kian Rentan di Tengah Blokade dan Genosida

Krisis Obat di Gaza: Kondisi Pasien Kanker Kian Rentan di Tengah Blokade dan Genosida
Bagikan:

GAZA (PIC) – Krisis kesehatan di Gaza semakin parah. Blokade penjajah ‘Israel’ yang terus berlangsung dan dampak agresi genosida telah menghantam hampir seluruh aspek kehidupan; menjadikan kelangkaan obat sebagai salah satu ancaman paling serius bagi ribuan pasien, terutama penderita penyakit kronis dan berat.

Di antara yang paling rentan adalah pasien kanker yang kini menghadapi risiko kematian perlahan akibat terputusnya pasokan obat dan terapi dasar, di tengah hampir runtuhnya sistem kesehatan.

Sekira 11 ribu pasien kanker di Gaza berada dalam kondisi kesehatan sangat buruk dan terancam kehilangan nyawa akibat kelangkaan akut obat-obatan penting untuk penanganan kanker. Terutama kemoterapi, terapi pendukung, dan obat darurat.

Menurut data resmi, kelangkaan tersebut telah menyebabkan berbagai protokol pengobatan terhenti, membuat ribuan pasien kehilangan perawatan yang mereka butuhkan. Kondisi ini mempercepat penurunan kesehatan sekaligus memperkecil peluang mereka untuk pulih.

Pusat Hak Asasi Manusia Palestina menegaskan bahwa krisis ini tidak dapat dipisahkan dari konteks genosida yang terus berlangsung terhadap warga Gaza sejak 7 Oktober 2023, serta kehancuran sistematis dan berskala luas terhadap sistem kesehatan.

Gempuran serdadu ‘Israel’ dalam skala besar telah menyebabkan runtuhnya kapasitas sistem kesehatan Gaza secara belum pernah terjadi sebelumnya, akibat gempuran langsung dan berulang terhadap fasilitas medis, penghancuran infrastruktur kesehatan; serta dibunuh, terluka, dan ditahannya sejumlah besar tenaga medis.

Situasi diperparah dengan pembatasan ketat terhadap masuknya obat-obatan, bahan bakar, suku cadang, peralatan, dan perlengkapan medis. Akibatnya, kemampuan sektor kesehatan memberikan pengobatan dasar dan menyelamatkan nyawa pasien terus tergerus.

Protokol Pengobatan Terhenti

Menurut data Kementerian Kesehatan di Gaza, kelangkaan obat telah menyebabkan terhentinya protokol kemoterapi untuk sejumlah jenis kanker. Antara lain kanker payudara, kanker kolorektal, tumor saluran pencernaan, tumor kepala dan leher, isiko, serta berbagai tumor lain yang membutuhkan pengobatan teratur dan presisi.

Menurut para dokter, terhentinya isikol tersebut membuat pasien tidak mendapatkan dosis pengobatan sesuai jadwal. Kondisi ini mempercepat perkembangan penyakit, menurunkan kemungkinan respons terhadap terapi, serta meningkatkan isiko penyebaran kanker hingga stadium lanjut yang jauh lebih sulit ditangani.

Terhalang Berobat ke Luar Gaza

Wajah lain dari ujian berat ini adalah sekira 4 ribu pasien kanker yang tidak dapat keluar dari Gaza untuk menjalani pengobatan, meski kondisi mereka membutuhkan penanganan segera yang tidak tersedia di Gaza. Dalam praktiknya, kondisi ini sama saja dengan membiarkan mereka menghadapi ancaman kematian secara perlahan.

Dr. Mohammed Abu Nada, direktur medis Gaza Cancer Center, mengatakan kelangkaan akut obat dan terapi dasar, ditambah terus dicegahnya pasien bepergian untuk berobat, secara langsung mengancam nyawa pasien kanker di Gaza.

Ia menjelaskan, ketiadaan terapi yang dibutuhkan dan terhentinya layanan perawatan khusus telah menyebabkan tiga pasien meninggal setiap hari akibat komplikasi penyakit, di tengah terus merosotnya sistem kesehatan.

Gaza juga sama sekali tidak memiliki layanan radioterapi, sementara obat kanker menjadi kelompok obat dengan tingkat kekurangan tertinggi, mencapai 61%.

Kondisi ini memaksa tenaga medis mengambil keputusan pengobatan yang berat, termasuk melakukan mastektomi total pada sejumlah kasus kanker payudara, bahkan stadium awal, karena tidak tersedianya radioterapi dan tidak dimungkinkannya pasien dirujuk untuk berobat ke luar Gaza.

Abu Nada menambahkan, departemen onkologi di rumah sakit yang masih beroperasi di Gaza semakin kesulitan menerima pasien kanker baru akibat keterbatasan kemampuan medis, kelangkaan parah obat dan perlengkapan, serta merosotnya kapasitas fasilitas kesehatan yang telah mengalami kerusakan besar selama berbulan-bulan.

Ketiadaan suntikan penunjang kekebalan yang dibutuhkan setelah kemoterapi – untuk menurunkan risiko infeksi – semakin memperburuk kondisi pasien dan membuat mereka rentan terhadap komplikasi bakteri maupun virus yang serius dan dapat berujung pada kematian.

Kelangkaan parah obat paliatif dan pereda nyeri juga memperberat keadaan pasien, terutama pasien kanker stadium lanjut yang membutuhkan perawatan paliatif berkelanjutan untuk mempertahankan kondisi dan mengurangi rasa sakit.

Pasien Kanker Darah di Ambang Bahaya

Dr. Hani Ayyash, spesialis hematologi, mengatakan pasien kanker darah akut di Gaza menghadapi kondisi yang sangat berbahaya, terutama penderita leukemia akut. Penyakit ini termasuk kanker darah paling mematikan dan membutuhkan diagnosis serta pengobatan segera.

Ia menjelaskan bahwa penyakit tersebut kerap menyerang anak muda dan remaja, terutama pada usia belasan hingga awal 20-an. Peluang keberhasilan pengobatan sebenarnya cukup tinggi jika pasien mendapatkan perawatan khusus pada waktu yang tepat.

Namun, kelangkaan obat dan perlengkapan medis berdampak buruk pada seluruh tahapan diagnosis dan pengobatan kanker darah. Rumah sakit mengalami kekurangan parah bahan pewarna dan pemeriksaan dasar yang diperlukan untuk diagnosis, perlengkapan pengambilan sampel sumsum tulang, serta pemeriksaan laboratorium dasar.

Bank darah juga menghadapi kekurangan berat produk darah, terutama trombosit dan plasma, yang menjadi komponen penting bagi pasien kanker darah untuk bertahan hidup dan melanjutkan pengobatan.

Dr. Ayyash menegaskan bahwa jika kondisi ini terus berlangsung, ditambah larangan pasien keluar Gaza untuk mendapatkan pengobatan khusus, hal tersebut menjadi “hukuman mati perlahan dan tidak langsung” bagi pasien kanker darah.

Padahal, dengan akses terhadap protokol pengobatan yang tepat, perawatan khusus, dan pemantauan berkelanjutan, banyak dari mereka masih dapat diselamatkan jika diberi kesempatan memperoleh pengobatan pada waktunya.

Kesaksian yang Merangkum Ujian

Kesaksian para pasien kanker di Gaza menggambarkan besarnya tragedi kemanusiaan akibat kelangkaan pengobatan dan larangan bepergian untuk berobat. Kesulitan akibat penyakit berpadu dengan kondisi pengungsian dan runtuhnya layanan medis.

Almazah Abu Haniyah, 69 tahun, yang mengungsi dari Kamp Nuseirat dan kini tinggal di Deir al-Balah, mengatakan dirinya menderita kanker payudara sejak 2019 dan telah menjalani mastektomi total. Pada 2021, kanker tersebut menyebar ke tulang belakangnya.

Ia kembali ke Gaza sesaat sebelum pecahnya genosida, tetapi kemudian tidak dapat melanjutkan pengobatan di luar Gaza. Ia menjalani kemoterapi di dalam Gaza tanpa hasil. Kini ia tinggal di sebuah tenda dan menderita sejumlah penyakit kronis, termasuk diabetes dan penyakit jantung.

Meski telah memperoleh surat rujukan medis dan namanya tercantum dalam daftar keberangkatan, ia tetap tidak dapat meninggalkan Gaza. Kondisinya terus memburuk, disertai sesak napas dan nyeri hebat yang tak kunjung reda.

Dalam kesaksian lain, Israa Nassar, 33 tahun, yang memiliki gangguan pendengaran dan bicara, mengatakan dirinya didiagnosis kanker rahim pada 2020 setelah mengalami pendarahan hebat. Ia memperoleh rujukan untuk menjalani pengobatan di luar Gaza pada Februari 2025, tetapi hingga kini belum dapat berangkat.

Ia membutuhkan transfusi darah setiap pekan akibat pendarahan yang terus berulang. Tumornya semakin membesar dan telah menyebar ke bagian perut, membuatnya terus-menerus kelelahan.

Ia menegaskan bahwa terhentinya akses terhadap pengobatan mengancam nyawanya sekaligus memperkecil peluangnya mempertahankan kemampuan memiliki keturunan.

Dalam kasus lain, Omar Al-Khawaja, ayah seorang pasien berusia 29 tahun yang menderita kanker sistem pencernaan, menceritakan beratnya keadaan anaknya sejak gejala pertama muncul hingga diagnosis pada Oktober 2025.

Ia mengatakan putranya sempat menjalani protokol pengobatan awal yang tidak sesuai dan justru memperburuk kondisinya. Setelah terapi diganti, kondisinya membaik sebagian dan jumlah sel kanker turun sekitar 30 persen.

Namun, pengobatan kembali terhenti karena obat habis, padahal pasien sangat membutuhkan terapi tersebut hingga tuntas.

Omar menuturkan bahwa otoritas kesehatan telah merekomendasikan agar putranya segera menjalani pengobatan di luar Gaza. Namanya bahkan telah dimasukkan dalam daftar keberangkatan, tetapi hingga kini belum ada jadwal yang ditetapkan. Sementara itu, kondisinya terus memburuk dan mengancam nyawanya.

Kesaksian-kesaksian tersebut menggambarkan kenyataan kesehatan yang memilukan di Gaza; yang selama tiga tahun dikepung genosida. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami