GAZA (PIC) – Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis kini menghadapi ancaman baru yang semakin memperburuk krisis kemanusiaan di Gaza: instalasi oksigen cadangan yang tersisa disebut dapat berhenti beroperasi kapan saja.
Direktur Departemen Teknik dan Pemeliharaan RS Nasser, Ismail Abu Nimer, mengatakan rumah sakit sangat bergantung pada stasiun penyedia oksigen untuk memasok kebutuhan pasien di berbagai ruang perawatan.
Tak hanya untuk pasien di dalam rumah sakit, suplai oksigen dari RS Nasser juga digunakan untuk mengisi tabung medis yang dikirim ke rumah sakit lapangan dan fasilitas kesehatan lainnya di Gaza. Namun kondisi itu kini berada di titik kritis.
Abu Nimer menjelaskan bahwa stasiun utama produksi oksigen sudah tidak dapat beroperasi akibat kerusakan komponen dan habisnya oli khusus yang dibutuhkan mesin. Sementara itu, stasiun kedua yang masih bertahan hanya bekerja dengan kapasitas terbatas dan sewaktu-waktu dapat berhenti total.
Menurut Abu Nimer, rumah sakit-rumah sakit di Gaza selama bertahun-tahun menghadapi kesulitan besar untuk mendatangkan suku cadang dan oli yang diperlukan guna merawat mesin-mesin vital.
Akibat keterbatasan tersebut, para teknisi terpaksa menggunakan bahan dan komponen alternatif buatan lokal yang tidak sesuai standar. “Kami terpaksa memakai pengganti seadanya agar mesin tetap berjalan,” ujarnya.
Namun penggunaan komponen alternatif justru memicu kerusakan tambahan pada pompa dan sistem produksi oksigen. Di tengah keterbatasan alat dan minimnya pasokan, tim teknis kini terus bekerja dengan kemampuan yang sangat terbatas demi menjaga layanan tetap hidup.
Gaza Bertahan dengan Sistem yang Rapuh
Krisis oksigen di RS Nasser menggambarkan rapuhnya sistem kesehatan Gaza yang terus bekerja di bawah tekanan besar. Ketika satu mesin berhenti, ratusan nyawa langsung berada dalam risiko. Bayi prematur, pasien ICU, hingga korban luka berat menjadi kelompok paling rentan jika pasokan oksigen terputus.
Bagi tenaga medis di Gaza, menjaga mesin tetap menyala kini sama pentingnya dengan menyelamatkan pasien itu sendiri.
Kementerian Kesehatan Gaza sebelumnya telah memperingatkan bahwa satu-satunya stasiun pembangkit oksigen yang masih berfungsi di wilayah Gaza utara dan Kota Gaza berada dalam kondisi kritis dan terancam berhenti beroperasi.
Tak hanya rumah sakit pemerintah, suplai oksigen dari fasilitas itu juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan berbagai lembaga kesehatan non-pemerintah di Gaza.
Kementerian menjelaskan bahwa instalasi oksigen tersebut terus mengalami kerusakan berulang akibat tekanan kerja yang sangat tinggi dan jam operasional yang nyaris tanpa henti. Situasi semakin memburuk karena minimnya alternatif dan cadangan peralatan yang tersedia. Akibatnya, ancaman terputusnya pasokan oksigen kini menjadi ketakutan nyata di rumah-rumah sakit Gaza.
Kementerian Kesehatan Gaza memperingatkan bahwa wilayah itu berada di ambang “bencana kemanusiaan yang segera terjadi” seiring meningkatnya risiko berhentinya stasiun oksigen di tengah kebutuhan rumah sakit yang terus melonjak.
Di banyak fasilitas kesehatan, kebutuhan oksigen meningkat setiap hari, sementara kemampuan sistem untuk bertahan justru semakin melemah. Tenaga medis kini bekerja di tengah ketidakpastian besar: menjaga pasien tetap hidup dengan fasilitas yang terus menurun dan peralatan yang sewaktu-waktu bisa berhenti.
Pemerintah kesehatan Gaza mendesak seluruh pihak terkait dan lembaga internasional untuk segera turun tangan. Mereka meminta bantuan darurat berupa stasiun pembangkit oksigen baru serta jaminan keberlanjutan pasokan oksigen medis bagi rumah sakit dan pusat kesehatan di Gaza.
Sebagian Besar Stasiun Oksigen Gaza Hancur
Krisis oksigen yang kini membayangi rumah-rumah sakit di Gaza semakin memburuk setelah sebagian besar fasilitas produksi oksigen di wilayah itu hancur akibat gempuran penjajah yang berkepanjangan.
Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, sekira 25 dari total 34 stasiun produksi oksigen telah hancur selama dua tahun terakhir. Data tersebut dipublikasikan pada Oktober 2025.
Banyak fasilitas itu rusak ketika serdadu ‘Israel’ melakukan operasi darat dan penyerbuan ke rumah-rumah sakit di berbagai wilayah Gaza.
Akibat kerusakan besar tersebut, kini hanya sekitar sembilan stasiun oksigen yang masih dapat beroperasi. Namun sebagian besar hanya berjalan secara parsial dan tidak mampu memenuhi kebutuhan pasien yang terus meningkat.
Bagi banyak dokter di Gaza, kekurangan oksigen kini bukan lagi ancaman jangka panjang, tetapi krisis harian yang terus membayangi setiap ruang perawatan.
Selama berbulan-bulan konflik berlangsung, sektor kesehatan Gaza menjadi salah satu yang paling terdampak. Rumah sakit, pusat kesehatan, ambulans, hingga tenaga medis dilaporkan ikut menjadi sasaran serangan dan kerusakan.
Hancurnya fasilitas kesehatan itu membuat sistem medis Gaza semakin rapuh di tengah kebutuhan layanan yang justru terus meningkat. Krisis ini juga diperparah oleh tersendatnya masuk bantuan medis ke Gaza.
Penjajah belum menjalankan sepenuhnya kewajiban dalam kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025, termasuk pembukaan jalur pelintasan dan masuknya bantuan medis sesuai kesepakatan.
Kementerian Kesehatan Gaza juga menyebut serangan dan penembakan masih terus terjadi hampir setiap hari. Data kementerian mencatat lebih dari 854 warga Palestina tewas dan 2.453 lainnya terluka sejak masa gencatan senjata diberlakukan. (PIC)
