Beranda / Palestina / Muhajirin Gaza Terpaksa Gunakan Bahan Bakar dari Sampah: Pengganti Gas yang Berbahaya
Kabar Palestina
28 Mei 2026

Muhajirin Gaza Terpaksa Gunakan Bahan Bakar dari Sampah: Pengganti Gas yang Berbahaya

Muhajirin Gaza Terpaksa Gunakan Bahan Bakar dari Sampah: Pengganti Gas yang Berbahaya
Bagikan:

GAZA (PIC) – Di tengah blokade dan krisis gas yang semakin parah, seorang ibu muhajirin Palestina, Iman Asaliya, harus menghabiskan berjam-jam setiap hari di depan tungku api sederhana demi menyiapkan makanan untuk anak-anaknya.

Di dalam tenda pengungsian yang berdiri di tepi jalan Kota Gaza, Iman membakar sampah plastik dan kardus sebagai pengganti gas memasak yang kini nyaris mustahil didapatkan.

Asap beracun dari pembakaran limbah itu setiap hari terhirup ke paru-parunya. Akibatnya, kondisi kesehatannya terus memburuk dan hingga kini belum pulih. Namun bagi Iman, memasak dengan limbah beracun menjadi satu-satunya cara agar anak-anaknya tetap bisa makan.

Iman hanyalah satu dari ratusan ribu warga Palestina di Gaza yang terpaksa kembali menggunakan kayu bakar dan sampah untuk memasak sejak agresi genosida zionis ‘Israel’ di Gaza pecah pada 7 Oktober 2023.

Krisis semakin memburuk akibat pembatasan ketat di pelintasan dan larangan zionis ‘Israel’ terhadap masuknya kayu bakar yang biasa dipakai warga sebagai bahan bakar alternatif.

Situasi bertambah sulit setelah perang ‘Israel’-Amerika terhadap Iran yang dimulai pada 28 Februari lalu. Sumber-sumber lokal menyebut zionis memperketat lagi pembatasan di pelintasan; sehingga pasokan gas yang sudah minim dipangkas hingga setengahnya.

Sejak perjanjian gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober 2025, zionis hanya meloloskan lima hingga sembilan truk gas masuk ke Gaza setiap hari.

Bahkan pada beberapa kesempatan, jumlahnya turun menjadi hanya empat truk; ditambah penutupan pelintasan secara berkala yang membuat tidak ada pasokan gas sama sekali.

Direktur Jenderal Kantor Media Pemerintah Gaza, Ismail al-Thawabta, mengatakan jumlah tersebut hanya mampu memenuhi sekitar 30 persen kebutuhan harian warga Gaza. Padahal, menurut kesepakatan gencatan senjata, seharusnya 50 truk bahan bakar dan gas memasak diizinkan masuk setiap hari.

Di tengah keterbatasan itu, ribuan keluarga Gaza kini dipaksa memilih antara kelaparan atau menghirup racun dari sampah yang mereka bakar sendiri demi bertahan hidup.

“Api Telah Menghanguskan Kesehatanku”

Di dalam tenda sempit yang dihuni sembilan anggota keluarga, termasuk seorang lansia penyandang disabilitas, Iman Asaliya menjalani hari-harinya dengan memungut kardus dan plastik bekas dari tumpukan sampah untuk dijadikan bahan bakar memasak.

“Mendapatkan tabung gas sekarang seperti mimpi yang mustahil. Menyalakan api sudah menjadi bagian dari hidup saya setiap hari. Api itu telah menghanguskan kesehatan saya,” ujar Iman kepada Anadolu Agency.

Dengan napas tersengal akibat kepulan asap tebal, Iman mengatakan ia tak punya pilihan lain. Anak-anaknya tetap harus makan dan minum susu. “Anak-anak saya membutuhkan makanan dan susu. Saya harus menjaga api tetap menyala siang dan malam. Akibatnya, saya mengalami gangguan pernapasan,” tuturnya.

Paparan asap beracun dari pembakaran sampah membuat Iman berkali-kali mengalami sesak napas hingga pingsan. Namun di tengah blokade dan krisis berkepanjangan, ia merasa tak memiliki jalan keluar. “Tidak ada pilihan lain,” katanya lirih.

Kini, kekhawatiran baru mulai membayangi muhajirin Gaza. Musim panas yang segera datang diperkirakan akan memperburuk kondisi di tenda-tenda pengungsian yang pengap dan panas, sementara asap pembakaran terus mengepul di antara ribuan keluarga yang bertahan hidup di tengah keterbatasan.

Berjam-jam Mengantre demi Gas yang Hanya Bertahan Beberapa Hari

Di tengah krisis bahan bakar yang semakin mencekik Gaza, Abu Fadi berdiri di depan titik distribusi gas dengan wajah lega. Setelah menunggu lebih dari dua bulan, ia akhirnya berhasil mendapatkan tabung gas — itupun hanya terisi setengah.

“Gas ini mungkin hanya cukup untuk beberapa hari; untuk kebutuhan mendesak,” ujarnya kepada Anadolu Agency. Setelah itu, katanya, keluarganya harus kembali memasak dengan api dari sampah dan kayu seadanya.

Di berbagai wilayah Gaza, warga kini harus mengantre panjang demi mendapatkan beberapa kilogram gas yang jumlahnya sangat terbatas.

Otoritas Perminyakan Umum Gaza menjelaskan distribusi dilakukan melalui sistem komputerisasi karena pasokan yang masuk jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan jutaan warga.

Krisis Gas di Gaza Mencapai Titik Bencana

Direktur Jenderal Kantor Media Pemerintah Gaza, Ismail al-Thawabta, mengatakan Gaza sebenarnya sudah mengalami kekurangan pasokan hingga sekitar 70 persen, bahkan selama masa gencatan senjata. Namun situasi semakin memburuk setelah zionis terus mengurangi, bahkan sesekali menghentikan total, pasokan gas dan bahan bakar.

Menurut Thawabta, gas kini digunakan ‘Israel’ sebagai “alat tekanan dan hukuman kolektif” terhadap warga Palestina. Dampaknya langsung dirasakan jutaan warga dan keluarga muhajirin yang kesulitan memasak. Sementara rumah sakit, toko roti, dan dapur umum juga semakin terpuruk akibat minimnya bahan bakar.

Bahkan penjajah belum memenuhi 30 persen poin kesepakatan gencatan senjata terkait pengiriman bahan bakar dan gas memasak. Pasokan inilah yang disebut paling sering ditunda dan dihambat.

Hingga 14 April lalu, Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat sedikitnya 2.400 pelanggaran zionis ‘Israel’ terhadap perjanjian gencatan senjata. Pelanggaran itu mencakup pembunuhan, penangkapan, pengepungan, hingga pelaparan terhadap warga sipil.

Dari total 110.400 truk bantuan yang seharusnya masuk, Gaza baru menerima sekitar 41.714 truk (37 persen), dengan rata-rata hanya 227 truk per hari. Padahal perjanjian mengharuskan masuknya 600 truk bantuan serta 50 truk bahan bakar dan gas setiap hari.

Sejak agresi ‘Israel’ di Gaza dimulai pada Oktober 2023, lebih dari 72 ribu warga Palestina dilaporkan tewas dan lebih dari 172 ribu lainnya terluka.

Penjajah juga menghancurkan hampir 90 persen infrastruktur di wilayah Gaza, meninggalkan jutaan warga hidup di tengah reruntuhan, kelaparan, dan krisis kemanusiaan yang terus memburuk. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami