Beranda / Palestina / Para Ibu Gaza Menanggung Tiga Ujian Besar: Lapar, Terusir, Kehilangan Orang Tercinta
Kabar Palestina
30 Mei 2026

Para Ibu Gaza Menanggung Tiga Ujian Besar: Lapar, Terusir, Kehilangan Orang Tercinta

Para Ibu Gaza Menanggung Tiga Ujian Besar: Lapar, Terusir, Kehilangan Orang Tercinta
Bagikan:

GAZA (PIC) – Di antara tenda-tenda lusuh dan wajah-wajah anak yang mulai kehilangan cahaya masa kecilnya, para ibu di Gaza kini menjalani kehidupan yang nyaris tak lagi menyisakan ruang untuk bernapas dengan tenang.

Kelaparan, pengungsian, dan kehilangan orang-orang tercinta datang bersamaan, menyatu menjadi kesulitan panjang yang terus membayangi kehidupan sehari-hari mereka.

Di kamp-kamp pengungsian yang berdiri di atas puing-puing rumah yang hancur, banyak perempuan Palestina kini hanya berjuang untuk satu hal paling dasar: bertahan hidup.

Anak-anak tumbuh di tengah suara ledakan, antrean bantuan makanan, dan rasa takut yang tidak pernah benar-benar pergi. Masa kecil mereka perlahan larut dalam krisis yang berkepanjangan.

Agresi genosida yang berlangsung di Gaza telah memaksa lebih dari 90 persen penduduk wilayah itu mengungsi dari rumah mereka. Banyak keluarga bahkan harus berpindah berkali-kali demi mencari tempat yang dianggap lebih aman.

Namun bagi sebagian besar warga, “aman” kini hanyalah kata yang sulit ditemukan. Mereka tinggal di tempat penampungan yang penuh sesak atau di ruang terbuka, dengan akses air bersih yang semakin langka, obat-obatan yang nyaris habis, dan ancaman penyakit yang terus menyebar.

Mengungsi Tanpa Kepastian

Di dalam sebuah tenda kecil yang tak mampu melindungi dari panas siang maupun dingin malam, Widad al-Najjar duduk sambil mengenang perjalanan panjang pengungsiannya.

Perempuan asal Khuzaa, wilayah timur Khan Yunis itu, mengatakan hidupnya berubah total sejak agresi genosida melanda pada 8 Oktober 2023.

“Kami berpindah lebih dari enam kali,” ujarnya kepada Anadolu Agency. Setiap kali berpindah, keluarganya berharap menemukan tempat yang lebih aman. Namun yang mereka temukan hanyalah ketidakpastian baru.

“Kami kehilangan rumah, keluarga, dan semua yang kami miliki. Tidak ada yang tersisa selain kenangan,” katanya pelan.

Namun bagi Widad, kesulitan terbesar bukan hanya kehilangan rumah. Ia masih mencari keberadaan putra satu-satunya — anak laki-laki yang lahir setelah enam anak perempuan. Sejak bulan-bulan awal perang, komunikasi dengan putranya terputus, dan hingga kini ia tidak tahu apakah anaknya masih hidup atau tidak.

Setiap hari, ia hidup di antara harapan dan ketakutan. “Saya hanya ingin tahu nasibnya,” ucap Widad. “Apakah dia gugur? Apakah dia ditahan? Saya hanya ingin jawaban agar hati saya tenang.” Kalimat itu keluar dengan suara yang nyaris patah.

Para Ibu Gaza Bertahan di Tengah Kehilangan, Penjara, dan Kelaparan

Di sebuah tenda pengungsian sederhana, Huda al-Madani menjalani hari-harinya dengan duka yang belum selesai. Putranya, Ibrahim, tewas dalam serangan selama perang berlangsung di Gaza. Ia meninggalkan lima anak yang kini tumbuh tanpa sosok ayah. Putra lainnya, Ahmad, telah mendekam di penjara penjajah selama lebih dari dua tahun.

Namun kesulitan para ibu Gaza tidak berhenti pada kehilangan keluarga. Kehidupan di kamp-kamp pengungsian memaksa mereka menghadapi krisis lain setiap hari: makanan yang semakin sulit didapat, air bersih yang terbatas, tidak adanya penghasilan, dan hilangnya hampir seluruh kebutuhan dasar kehidupan.

Umm Mahmoud Baraka, seorang janda dengan empat anak, kini harus memikul seluruh beban keluarga sendirian setelah suaminya gugur. “Saya sekarang menjadi ibu sekaligus ayah,” ujarnya.

“Kami hanya berusaha tetap hidup di tengah kelaparan, ketakutan, dan hilangnya kebutuhan paling sederhana.”

Bagi banyak perempuan Gaza, setiap hari kini adalah perjuangan panjang untuk memastikan anak-anak mereka tetap makan, tetap aman, dan tetap hidup.

Di akhir kesaksian mereka, para ibu pengungsi itu menyampaikan pesan yang hampir sama, meski dengan kata-kata berbeda. Mereka mengatakan, ibu Palestina kini tidak lagi bermimpi tentang kehidupan yang layak atau masa depan yang indah.

Yang mereka cari hanyalah hal paling dasar: sedikit rasa aman, makanan untuk anak-anak mereka, dan kesempatan untuk melindungi keluarga dari kematian serta pengungsian yang terus berulang tanpa akhir.

38 Ribu Perempuan dan Anak Perempuan Tewas

Data UN Women, sekira 38 ribu perempuan dan anak perempuan tewas akibat genosida di Gaza. Jumlah itu terdiri dari sekitar 22 ribu perempuan dan 16 ribu anak perempuan.

Artinya, sedikitnya 47 perempuan dan anak perempuan kehilangan nyawa setiap hari. Angka tersebut disebut mewakili lebih dari separuh total korban jiwa di seluruh Gaza. Namun di balik statistik itu, ada ribuan keluarga yang kehilangan ibu, anak perempuan, saudari, dan tulang punggung keluarga mereka.

Agresi genosida juga memaksa sekira 1 juta perempuan dan anak perempuan mengungsi berkali-kali. Banyak dari mereka kini hidup di tenda-tenda darurat, sekolah yang dijadikan penampungan, atau ruang terbuka tanpa perlindungan memadai.

Menurut laporan Dana Kependudukan PBB (UNFPA) dan Kantor Media Pemerintah Gaza, sekira 790 ribu perempuan kini menghadapi krisis pangan akut hingga tingkat bencana. Banyak ibu memilih menahan lapar agar anak-anak mereka bisa makan lebih dulu.

Di saat yang sama, lebih dari 22 ribu perempuan kehilangan suami dan kini harus menjadi kepala keluarga sendirian di tengah situasi perang. Krisis kesehatan juga semakin mengancam perempuan Gaza, terutama ibu hamil dan menyusui.

Sekira 55 ribu perempuan hamil dan menyusui menghadapi risiko kesehatan serius akibat runtuhnya layanan kesehatan dan meluasnya malnutrisi.

Banyak rumah sakit tidak lagi mampu beroperasi normal, sementara akses terhadap obat, susu bayi, hingga layanan persalinan semakin terbatas.

Bagi sebagian ibu di Gaza, melahirkan kini bukan lagi momen bahagia, tetapi perjuangan hidup dan mati. Pengamat kemanusiaan menilai tragedi Gaza tidak cukup dipahami hanya melalui jumlah korban atau bangunan yang hancur.

Agresi genosida telah mengubah struktur kehidupan keluarga secara mendalam — dan perempuan menjadi pihak yang memikul beban paling besar.

Di Gaza hari ini, menjadi seorang ibu berarti harus menghadapi kelaparan, pengungsian, dan kehilangan dalam waktu yang bersamaan. Mereka harus tetap menguatkan anak-anak di tengah ketakutan, mencari makanan di tengah kelangkaan, dan menjaga keluarga tetap hidup di tengah situasi yang nyaris runtuh.

Bagi banyak warga Gaza, perjuangan para ibu bukan hanya gambaran krisis kemanusiaan, tetapi juga pertanyaan besar tentang respons dunia yang terus menyaksikan deretan panjang kesulitan tanpa mampu menghadirkan perlindungan dan keadilan yang nyata. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami