Beranda / Palestina / Pasar Hewan Qurban Al-Khalil Terpuruk: Krisis Ekonomi dan Serangan Pemukim Ilegal Memperparah Keadaan
Kabar Palestina
30 Mei 2026

Pasar Hewan Qurban Al-Khalil Terpuruk: Krisis Ekonomi dan Serangan Pemukim Ilegal Memperparah Keadaan

Pasar Hewan Qurban Al-Khalil Terpuruk: Krisis Ekonomi dan Serangan Pemukim Ilegal Memperparah Keadaan
Bagikan:

AL-KHALIL (PIC) – Suasana pasar hewan qurban di Kota Al-Khalil, Tepi Barat bagian selatan, tampak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Keramaian pembeli yang biasanya memenuhi pasar nyaris menghilang, digantikan wajah-wajah pedagang yang menunggu tanpa kepastian.

Para pedagang menyebut musim kurban tahun ini sebagai salah satu yang paling berat dalam beberapa tahun terakhir. Krisis ekonomi yang semakin dalam, harga ternak yang melonjak, dan anjloknya daya beli masyarakat membuat pasar hewan kurban kehilangan denyut kehidupannya.

Di dalam kandang-kandang di pasar, ratusan domba berdiri berdesakan. Sementara para pedagang menunggu berjam-jam berharap ada pembeli yang datang. Sebagian pedagang mencoba berbagai cara untuk menarik perhatian warga, khawatir musim penjualan tahun ini akan berakhir dengan kerugian besar.

Idul Adha kali ini datang di tengah tekanan ekonomi yang menghimpit warga Palestina di Tepi Barat. Penundaan pembayaran gaji pegawai semakin memperburuk kondisi keuangan keluarga-keluarga yang sebelumnya masih mampu membeli hewan kurban.

Para peternak juga menghadapi tekanan lain yang tak kalah berat: yakni meningkatnya serangan pemukim ‘Israel’ terhadap peternakan dan lahan penggembalaan warga Palestina. Serangan-serangan tersebut memberi dampak langsung pada sektor peternakan, yang selama ini menjadi salah satu tulang punggung ekonomi pedesaan di Tepi Barat.

Pasar Hewan Kurban Palestina Nyaris Lumpuh

Pasar hewan kurban di Al-Khalil, Tepi Barat, yang biasanya ramai menjelang Idul Adha kini terlihat nyaris lumpuh. Bagi para pedagang, musim kurban tahun ini menjadi salah satu periode paling suram yang pernah mereka alami.

Mohammad Ahmad al-Labib, pedagang ternak Palestina yang telah hampir 50 tahun berjualan domba, mengatakan aktivitas pasar saat ini “hampir membeku” dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Dulu sebelum Idul Adha saya bisa menjual sedikitnya 50 ekor domba,” katanya kepada Anadolu Agency. “Tahun ini saya baru menjual lima ekor.”

Penurunan drastis itu bukan semata karena sepinya pasar, tetapi juga akibat melonjaknya harga ternak yang semakin sulit dijangkau masyarakat Palestina. Al-Labib menjelaskan harga daging domba kini meningkat hampir dua kali lipat dibanding beberapa tahun lalu.

“Dulu satu kilogram daging domba dijual sekitar lima dinar Yordania. Sekarang sudah mencapai sepuluh setengah dinar,” ujarnya.

Namun bagi Al-Labib, masalah terbesar bukan hanya kenaikan harga, melainkan runtuhnya kemampuan ekonomi warga Palestina akibat krisis berkepanjangan.

“Orang-orang sudah tidak punya uang,” katanya. “Sebagian bahkan kesulitan membeli makanan dan air. Jadi bagaimana mereka bisa membeli hewan kurban?”

Kondisi itu semakin diperburuk oleh tingginya angka pengangguran dan pembayaran gaji pegawai pemerintah yang tidak menentu. Dampaknya terasa langsung terhadap kehidupan sehari-hari warga dan aktivitas perdagangan di pasar-pasar Palestina.

Data Biro Pusat Statistik Palestina pada 30 April 2026 menunjukkan tingkat pengangguran di Tepi Barat melonjak menjadi 28 persen pada kuartal akhir 2025. Angka itu meningkat tajam dibanding 13 persen pada kuartal ketiga 2023.

Jumlah pekerja aktif juga turun drastis. Dari sekira 868 ribu pekerja pada akhir 2023, jumlahnya menyusut menjadi sekitar 736 ribu pada akhir 2025—penurunan sekitar 15 persen.

Kemerosotan itu terutama terjadi di sektor konstruksi, ndustry, transportasi, pergudangan, dan komunikasi yang sebelumnya menjadi sumber mata pencaharian utama ribuan keluarga Palestina.

Serangan Pemukim ‘Israel’ Perparah Krisis Pasar Kurban Palestina

Krisis yang menghantam pasar hewan kurban Palestina kini tidak lagi sekadar dipicu oleh keterpurukan ekonomi. Para pedagang menilai meningkatnya kekerasan pemukim ‘Israel’ terhadap para penggembala turut memperparah kelangkaan ternak dan melonjaknya harga hewan kurban di Tepi Barat.

Pedagang hewan qurban, Ismail Bani Hassan, menunjuk kandang-kandang yang kini jauh lebih kosong dibanding tahun-tahun sebelumnya. Jumlah domba yang tersedia terus menyusut, sementara harga semakin sulit dijangkau warga Palestina.

Menurutnya, kondisi itu dipicu oleh tingginya biaya peternakan, berkurangnya jumlah ternak, serta serangan berulang yang dilakukan pemukim ‘Israel’ terhadap para penggembala di wilayah Badia dan Masafer Yatta, selatan Al-Khalil.

“Para pemukim mempersempit ruang hidup kami dengan segala cara,” katanya. “Peternak benar-benar kehilangan domba-domba mereka, dan itu langsung memengaruhi pasar serta harga.”

Krisis Keuangan Membayangi Idul Adha

Riyad al-Jabareen duduk termenung di samping kandang dombanya di pasar hewan Al-Khalil, Tepi Barat. Sesekali ia memandangi calon pembeli yang datang silih berganti dalam jumlah sangat sedikit—jauh dari keramaian pasar Idul Adha pada tahun-tahun sebelumnya.

Al-Jabareen berasal dari Masafer Yatta, wilayah Palestina di selatan Al-Khalil yang belakangan semakin sering menjadi sasaran serangan pemukim ‘Israel’ terhadap rumah warga dan para penggembala.

Serangan terbaru terjadi Kamis dini hari, ketika sekelompok pemukim dilaporkan menyusup ke rumah warga Palestina dan mencuri sekitar 45 hingga 50 ekor domba. Di tengah situasi itu, Al-Jabareen mengatakan pasar hewan kurban tahun ini nyaris kehilangan pembeli.

“Permintaan tahun ini bahkan tidak mencapai 20 persen dibanding musim-musim sebelumnya,” katanya. “Kondisi ekonomi sangat sulit, dan masyarakat sekarang memiliki kebutuhan yang jauh lebih mendesak daripada membeli hewan kurban.”

Riyad menilai kekerasan yang dilakukan pemukim ‘Israel’ telah menghancurkan sektor peternakan Palestina secara langsung dan menyebabkan harga ternak melonjak tajam. Banyak peternak dan pedagang kehilangan puluhan ekor domba akibat serangan dan pencurian yang dilakukan pemukim ilegal.

Menurut Al-Jabareen, banyak penggembala kini bahkan tidak lagi bisa mengakses padang penggembalaan dengan aman atau melindungi ternak mereka, terutama di wilayah-wilayah yang berdekatan dengan permukiman dan pos ilegal ‘Israel’.

Dalam beberapa bulan terakhir, serangan pemukim terhadap komunitas Badui dan para penggembala Palestina meningkat tajam, khususnya di Lembah Yordan dan wilayah Masafer Yatta di selatan Al-Khalil.

Berbagai kesaksian warga Palestina menyebut serangan itu mencakup pencurian ternak, penganiayaan terhadap penggembala, hingga pemblokiran akses menuju area penggembalaan.

Bagi para peternak Palestina, situasi tersebut membuat profesi yang selama ini menjadi sumber penghidupan turun-temurun semakin sulit dipertahankan. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami