Tim penyelamat mengevakuasi jenazah korban dari reruntuhan kantor polisi Sheikh Radwan di Kota Gaza usai gempuran udara ‘Israel’. [Foto arsip: AFP]
GAZA (Al Jazeera) – Kepala Kepolisian Gaza Utara, Brigadir Jenderal Abdel-Nasser al-Maqadma, gugur akibat gempuran udara penjajah zionis ‘Israel’, Sabtu (25/7/2026).
Kementerian Dalam Negeri Gaza dan tim medis setempat menyebut al-Maqadma, yang juga menjabat Gubernur Gaza Utara, menjadi sasaran serangan di kawasan Sheikh Radwan, wilayah utara Kota Gaza.
Penjajah ‘Israel’ mengklaim sepihak bahwa al-Maqadma merupakan anggota sayap militer Hamas. Sebaliknya, otoritas Gaza mengecam serangan berulang terhadap personel kepolisian.
Pasca wafatnya al-Maqadma, Kementerian Dalam Negeri Gaza menyatakan bahwa penjajah sengaja menargetkan aparat kepolisian Palestina untuk menyebarkan kekacauan di Gaza.
Dalam pernyataannya, kementerian mengungkapkan sedikitnya 53 komandan, perwira, dan anggota polisi tewas sejak gencatan senjata berlaku pada Oktober 2025 akibat serangan terhadap markas, patroli, kendaraan, dan personel kepolisian.
Kementerian juga mendesak komunitas internasional serta negara-negara mediator untuk menekan penjajah ‘Israel’ agar menghentikan serangan terhadap polisi. Menurut mereka, kepolisian merupakan lembaga sipil yang dilindungi hukum internasional dan bertugas menjaga ketertiban masyarakat.
Di berbagai wilayah Gaza pada Sabtu (25/7/2026), gempuran udara zionis kembali menewaskan sejumlah warga Palestina dan melukai lainnya. Sumber medis kepada Al Jazeera menyebut sedikitnya 20 orang juga terluka akibat tembakan serdadu zionis.
Gempuran Tanpa Henti
Salah satu gempuran menghantam sekelompok warga sipil di dekat Rumah Sakit Al-Aqsa di Deir el-Balah, fasilitas kesehatan terbesar di Gaza Tengah. Serangan itu menewaskan satu orang dan melukai beberapa lainnya.
“Militer zionis menyerang gerbang Rumah Sakit Al-Aqsa. Banyak orang terluka, dan sekelompok warga sipil menjadi korban saat berada di kios kecil di seberang gerbang rumah sakit,” kata jurnalis Al Jazeera, Tareq Abu Azzoum, dari lokasi kejadian.
Ia melaporkan, hari itu menjadi salah satu yang paling berdarah di Gaza bagian tengah dan utara. “Serdadu zionis terus meningkatkan intensitas serangan. Ini babak baru kesulitan dan serangan tanpa henti,” ujarnya.
Gempuran lain menewaskan seorang tenaga medis Palestina di Kamp Pengungsian Nuseirat dan dua warga di sebuah rumah di Khan Younis. Militer ‘Israel’ mengklaim sepihak bahwa rumah tersebut menjadi target karena dihuni anggota Jihad Islam Palestina.
Pada hari yang sama, serangan lain di Khan Younis menewaskan Khaled al-Breim, lulusan SMA yang baru menyelesaikan pendidikannya. Keluarga korban mengatakan Khaled tewas saat hendak membawa permen untuk dibagikan kepada kerabat dan teman yang datang mengucapkan selamat atas kelulusannya serta persiapannya masuk perguruan tinggi.
Di lokasi terpisah, Suleiman Taysir Shammoud meninggal akibat luka yang dideritanya setelah menjadi sasaran serangan penjajah ‘Israel’ di kawasan al-Mawasi, Khan Younis, Gaza Selatan, menurut Quds News Network dan kantor berita Palestina, Wafa.
Seorang anggota polisi yang terluka dalam gempuran pekan lalu juga dilaporkan meninggal pada Sabtu (25/7/2026).
Meski terus menjadi sasaran, Kementerian Dalam Negeri Gaza menegaskan kepolisian akan tetap menjalankan tugasnya. Hamas menegaskan bahwa zionis sengaja menargetkan aparat keamanan untuk menciptakan ketidakstabilan dan menyebutnya sebagai pelanggaran lanjutan terhadap gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat.
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, penjajah zionis mengabaikan sebagian besar kesepakatan tersebut. Sejak perjanjian ditandatangani, lebih dari 1.180 warga Palestina—mayoritas sipil—tewas akibat gempuran ‘Israel’. Dalam periode yang sama, empat serdadu ‘Israel’ dilaporkan tewas akibat serangan di Gaza. (Al Jazeera)