NABLUS (PIC) – Kota Qusra, di selatan Nablus, kini menjadi salah satu wilayah yang paling sering menjadi sasaran teror pemukim ilegal ‘Israel’ di Tepi Barat. Teror terhadap warga dan harta benda mereka terus meningkat dan terjadi hampir setiap hari.
Dampaknya pun tak lagi terbatas di lapangan. Kekerasan pemukim telah mulai menggema hingga ke lingkaran pemerintahan Amerika Serikat, yang menunjukkan kekhawatiran semakin besar terhadap eskalasi tersebut dan dampaknya terhadap “citra” penjajah ‘Israel’.
Pemukim adalah Serdadu dengan Pakaian Sipil
Jum’at (14/8/2026), puluhan aktivis Palestina dan asing berupaya menerobos pengepungan yang selama berhari-hari diberlakukan pemukim ilegal terhadap tiga rumah warga Palestina di Qusra. Mereka hendak mengantarkan air, makanan, dan obat-obatan kepada keluarga yang terjebak di dalamnya. Namun, serdadu ‘Israel’ mencegah mereka mencapai rumah-rumah tersebut.
Para aktivis solidaritas tiba di kawasan Ras al-Ain, di pinggiran Qusra, selatan Nablus, tempat milisi pemukim telah mengepung tiga rumah sejak Minggu. Serdadu zionis ‘Israel’ kemudian menghentikan mereka dengan alasan kawasan tersebut merupakan “zona militer tertutup.”
Sejak 9 Agustus, para pemukim ilegal menutup akses menuju rumah-rumah tersebut dan mendirikan sebuah tenda di antara ketiganya, setelah lebih dahulu memutus pasokan air dan listrik. Akibatnya, tiga keluarga yang berjumlah sekitar 15 warga Palestina, termasuk dua anak, terjebak dalam pengepungan, menurut Kantor HAM PBB.
Kantor PBB tersebut menyatakan bahwa serdadu ‘Israel’ yang berada di lokasi pada awalnya tidak bertindak untuk mengakhiri pengepungan. Sebaliknya, mereka menghalangi paramedis, aktivis solidaritas, dan jurnalis untuk mendatangi keluarga-keluarga tersebut.
Baru pada Rabu, serdadu ‘Israel’ membongkar tenda milik para pemukim ilegal. Namun, sehari setelahnya, para pemukim kolonial masih berada di sekitar rumah-rumah tersebut.
Wali Kota Qusra, Abdul Azim al-Wadi, mengatakan apa yang terjadi di wilayahnya merupakan bagian dari tindakan terorganisir yang dijalankan kelompok-kelompok pemukim ilegal dengan koordinasi penuh bersama serdadu zionis ‘Israel’.
“Para pemukim itu adalah serdadu. Terkadang mereka datang dengan pakaian sipil, terkadang dengan seragam serdadu, untuk menyerang warga kota,” ujarnya. Daerah Qusra dihuni sekira 7.500 warga.
16 Pos Permukiman Ilegal Baru dan Perang terhadap Petani
Al-Wadi menjelaskan, zionis ‘Israel’ telah mendirikan sejumlah permukiman ilegal di tanah Qusra dan desa-desa sekitarnya. Di antaranya Migdalim, Kida, Ahiya, dan Esh Kodesh.
Ia mengatakan para pemukim ilegal memanfaatkan perang di Gaza untuk mendirikan 16 pos permukiman ilegal baru di sekitar desa-desa tersebut. Langkah ini semakin mempersempit ruang hidup warga Palestina sekaligus membuka jalan bagi perampasan lebih banyak lahan.
Teror terhadap Qusra dan desa-desa di sekitarnya juga berlangsung hampir setiap hari. Para pemukim ilegal mencuri ternak, memukuli petani, dan mengusir mereka dari lahan pertanian; dalam upaya memaksakan realitas baru yang menguntungkan ekspansi permukiman ilegal.
Bersamaan dengan pengepungan terhadap tiga keluarga tersebut, serdadu zionis juga melancarkan operasi besar-besaran di Qusra.
Al-Wadi mengatakan serdadu ‘Israel’ mengambil alih 16 rumah di dalam dan sekitar kota, lalu mengubahnya menjadi pos militer dan barak. Kepada dewan kota, mereka menyatakan operasi tersebut akan berlangsung hingga Ahad (16/8/2026) pagi.
Sejumlah warga bahkan dipaksa meninggalkan rumah mereka. Serdadu kemudian ditarik dari dalam kota pada Jum’at dini hari, tetapi tetap ditempatkan di sekitar Qusra dan sesekali melakukan patroli.
PBB menyatakan pos permukiman ilegal yang menjadi titik keberangkatan teror pemukim ke kawasan Ras al-Ain didirikan di dekat Qusra pada November 2025. Dalam bulan-bulan berikutnya, teror semakin meningkat, meliputi pembobolan rumah, kekerasan fisik, perusakan, pencurian, hingga pembakaran, termasuk serangan terhadap sebuah masjid.
Pembantaian Sejak Hari-Hari Awal Agresi
Menurut Al-Wadi, para pemukim telah menyatakan perang terhadap Qusra sejak hari-hari awal genosida ‘Israel’ di Gaza pada Oktober 2023. Teror kemudian meningkat secara drastis dan mencapai titik berdarah pada hari keenam perang, ketika sebuah gempuran menewaskan enam warga Palestina dari Qusra.
Gempuran tersebut tidak hanya menyasar Qusra. Desa-desa Madama, Beita, Burin, dan Telfit juga menghadapi pola serangan serupa.
Bagi warga setempat, rangkaian gempuran itu bukan sekadar kekerasan yang berdiri sendiri. Ia berlangsung sebagai pola yang bertujuan mengosongkan lahan Palestina dari penduduknya, sekaligus menciptakan realitas baru di lapangan melalui perluasan permukiman kolonial dan pos-pos permukiman ilegal.
Ekspansi Permukiman Ilegal Melonjak
Data Komisi Kolonisasi dan Perlawanan Tembok menunjukkan bahwa sejak Oktober 2023, sekitar 200 pos permukiman baru telah didirikan di Tepi Barat. Angka ini menjadi penanda percepatan aktivitas permukiman ilegal; bersamaan dengan meningkatnya teror para pemukim kolonial terhadap warga Palestina.
Dampak peristiwa di Qusra bahkan merambah hingga Amerika Serikat. Rekaman dan foto teror tersebut menjadi perhatian di lingkungan pemerintahan AS, menempatkan kekerasan pemukim di Tepi Barat dalam sorotan politik Washington.
Kobby Barda, sejarawan yang mengkaji kebijakan AS, mengatakan rangkaian peristiwa tersebut telah merusak citra ‘Israel’ di Washington. Ia mengingatkan bahwa Wakil Presiden AS JD Vance sebelumnya telah menyatakan ketidakpuasan terhadap cara ‘Israel’ menangani teror serupa. Jika kekerasan terus berlanjut, kata Barda, kepercayaan terhadap ‘Israel’ akan semakin terkikis.
Barda juga mengatakan media-media AS terus memberitakan perkembangan di Qusra, sehingga semakin menguatkan persepsi di Amerika Serikat bahwa supremasi hukum tidak berjalan di Tepi Barat. Kritik terhadap Netanyahu pun meningkat karena dinilai bungkam menghadapi eskalasi kekerasan para pemukim.
Bertahan Menghadapi Upaya Pengusiran
Meski teror terus berlangsung, warga Qusra menegaskan tekad untuk tetap bertahan di tanah mereka dan menolak segala upaya pengusiran.
Bagi mereka, tetap tinggal di desa, mengolah tanah, dan membangun kembali apa pun yang dihancurkan para pemukim merupakan garis pertahanan pertama menghadapi ekspansi permukiman kolonial.
Pertarungan itu kini tak lagi sekadar kisah sebuah desa kecil di selatan Nablus. Qusra telah menjadi simbol perebutan tanah, identitas, dan masa depan Tepi Barat. (PIC)