Beranda / Palestina / Ramadhan Ketiga di Masa Genosida: Ahlu Syam Gaza Teguh Bertahan di Tengah Kehancuran dan Kehilangan
Kabar Palestina
20 Feb 2026

Ramadhan Ketiga di Masa Genosida: Ahlu Syam Gaza Teguh Bertahan di Tengah Kehancuran dan Kehilangan

Ramadhan Ketiga di Masa Genosida: Ahlu Syam Gaza Teguh Bertahan di Tengah Kehancuran dan Kehilangan
Bagikan:

GAZA (PIC) – Untuk tahun ketiga berturut-turut, penduduk wilayah Gaza menyambut Ramadhan di tengah agresi terbuka penjajah yang tak kunjung usai sejak 7 Oktober 2023.

Bulan yang dulu identik dengan jalanan berhias lampu, pasar yang ramai, dan aroma manis qatayef kini berubah menjadi hamparan tenda, ketiadaan pekerjaan, makanan seadanya, serta rumah-rumah yang luluh lantak.

Jika dulu persiapan Ramadhan dimulai berminggu-minggu sebelumnya—rak toko dipenuhi pasta aprikot dan kurma pilihan, lentera menghiasi gang-gang permukiman—kini pertanyaan paling mendasar warga Gaza jauh lebih sederhana: “bagaimana memastikan ada makanan untuk berbuka, sebelum berbicara tentang tradisi”.

Perdagangan Muncul dari Bawah Tenda

Di Khan Yunis, Zaher al-Qidra berdiri di depan sisa-sisa “Al-Qidra Supermarket” miliknya. Kini, toko itu hanya berupa lapak darurat di dalam tenda berlapis plastik di Jalan Pesisir Al-Rashid.

Sebelum agresi, toko milik Zaher termasuk yang terbesar di sekitar Rumah Sakit Eropa. Rak-raknya penuh dengan kebutuhan Ramadhan dan selalu dipadati pembeli.

Al-Qidra mengenang masa-masa itu, menggambarkan Ramadhan sebagai perayaan nasional dan keagamaan di mana penjualan melonjak dan perdagangan berkembang pesat.

Namun pada Mei tahun lalu, segalanya berubah. Bombardemen hebat menghantam kawasan itu. Rudal berkekuatan tinggi jatuh tak jauh dari rumahnya.

Ia menerima telepon yang memerintahkannya mengungsi dalam hitungan menit. Setelah pergi, rumah dan tokonya hancur.

Al-Qidra memperkirakan kerugiannya mencapai hampir 2 juta dolar AS, belum termasuk kerugian akibat berhentinya usaha berbulan-bulan. Meski mencoba bangkit, tantangan terus menghadang.

Barang kebutuhan Ramadhan langka, harga melonjak tak menentu. Hujan dan angin merusak dagangan di dalam tenda. Listrik sering padam, pendingin tak berfungsi maksimal.

“Kami mencoba bertahan. Tapi setiap hari selalu ada risiko baru,” katanya, khawatir serangan akan kembali dan menghilangkan sisa yang masih ia miliki.

Meja Makan Bergantung pada Dapur Amal

Di sisi lain, keluarga-keluarga muhajirin menghadapi kenyataan yang lebih getir. Shaima Abu Hammam (35), warga Jabalia di Gaza utara, kini mengungsi ke selatan bersama keluarganya. Ramadhan tahun ini datang tanpa persiapan.

“Kami hidup dari hari ke hari. Jika hari ini bisa ada makanan di meja, kami bersyukur. Tapi untuk besok, kami tidak tahu,” ujarnya.

Harga yang melambung membuatnya tak mampu membeli kebutuhan dasar sahur seperti yogurt dan kurma. Untuk berbuka, keluarganya bergantung pada dapur umum. Kelangkaan gas dan sulitnya menyalakan api di dalam tenda membuat memasak hampir mustahil.

“Saya hanya berharap bulan ini berlalu dengan selamat,” katanya lirih. Suaminya berusaha mencari pekerjaan serabutan agar keluarga tetap bisa merasakan sedikit suasana Ramadhan.

Kisah serupa datang dari Ayman Mhanna (57), pensiunan yang terpaksa mengungsi dari Rafah ke kawasan Mawasi, Khan Yunis.

Dulu, gajinya cukup untuk kebutuhan sederhana. Kini, pembayaran yang tak menentu dan harga yang meroket membuatnya tak lagi mampu mencukupi kebutuhan dasar.

“Kami dulu hidup sederhana tapi stabil,” katanya. “Ramadhan seolah tak mengubah apa pun. Kami sudah berpuasa karena keadaan selama berbulan-bulan.”

Ramadhan Tanpa Abdullah

Namun di atas kemiskinan dan kelaparan, ada luka yang lebih dalam: kehilangan.

Fouad Thabet dari Deir al-Balah menjalani Ramadan pertamanya tanpa putranya, Abdullah. Sang anak tewas dalam serangan udara yang menghantam Kamp Deir al-Balah pada hari terakhir Ramadhan tahun lalu.

Ia mengenang bagaimana Abdullah menghitung hari menjelang Idul Fitri, ingin membelikan pakaian baru untuk saudara-saudarinya.

“Di hari terakhir Ramadhan itu, dia pergi dan tak pernah kembali. Sejak saat itu, segalanya berubah,” ujar Thabet.

“Meja makan terasa tak lengkap. Suaranya tak ada. Kami berpuasa dan shalat, tapi sesak di dada ini tak terucapkan,” katanya. Bagi Thabet, Ramadhan bukan lagi masa menyambut Idul Fitri, melainkan musim mengenang hari ketika lingkaran keluarganya terputus

Duka Seorang Ayah

Munir Abu al-Atta memikul kesedihan yang tak kalah berat. Ia kehilangan dua putranya di awal perang, ketika serangan menghantam Masjid Al-Salam di Deir al-Balah. Kedua anaknya adalah tulang punggung hidupnya.

“Saya tak punya siapa-siapa selain mereka,” katanya. “Setiap adzan Magrib, saya seperti mendengar mereka bergegas untuk berbuka. Sekarang saya duduk sendiri. Ramadhan dulu menyatukan kami. Kini, ia mengingatkan saya pada kehilangan di setiap detik.”

Menurutnya, rasa sakit itu tak sekadar hadir saat Ramadhan—tetapi menguat di bulan yang seharusnya penuh kebersamaan.

Ekonomi Runtuh, Daya Beli Lenyap

Pakar ekonomi Maher al-Tabba menggambarkan Ramadhan kali ini datang di tengah keruntuhan total. Setelah lebih dari dua tahun agresi genosida, tingkat pengangguran mencapai sekitar 80 persen.

Kemiskinan melonjak ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perekonomian menyusut tajam, menghantam daya beli masyarakat.

Harga sejumlah barang naik lebih dari 300 persen dibanding sebelum perang. Di saat yang sama, pasar mengalami kelesuan parah akibat minimnya perputaran uang dan lemahnya permintaan.

Kini, keluarga-keluarga membatasi belanja hanya untuk kebutuhan paling mendesak. Di Gaza, perayaan telah digantikan oleh perjuangan untuk bertahan hidup. Bulan suci tetap datang. Warga tetap berpuasa. Di antara kehilangan dan kehancuran, tekad untuk hidup dan bertahan tetap teguh. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami