RAMALLAH (PIC) – Asra Media Office (AMO) mendokumentasikan lonjakan tajam pelanggaran terhadap tawanan Palestina di penjara-penjara penjajah ‘Israel’ selama Juli 2026.
Pelanggaran tersebut meliputi penyiksaan, kelaparan, pengabaian layanan kesehatan, hingga penahanan di sel isolasi, di tengah jumlah tahanan yang mencapai tingkat tertinggi.
Dalam makalah riset yang dirilis awal Agustus 2026, AMO menyebut jumlah tawanan Palestina mencapai 9.400 orang; terdiri atas 94 perempuan, 350 anak, 3.244 “tawanan administratif”, serta 1.320 tawanan yang ditahan berdasarkan undang-undang ‘Israel’ yang disebut sebagai “kombatan tidak sah” (unlawful combatant law).
AMO juga mengungkapkan bahwa sejak dimulainya perang di Gaza, jumlah penangkapan warga Palestina telah melampaui 24.600 orang.
Makalah tersebut mencatat eskalasi tindakan represif di dalam penjara, termasuk penerobosan blok tawanan, pemukulan, penggunaan peluru karet dan anjing polisi, penahanan di sel isolasi, serta penggeledahan yang merendahkan martabat para tawanan.
AMO menyebut pelanggaran terhadap tawanan perempuan di Penjara Damon terus berlanjut di tengah merebaknya penyakit dan buruknya layanan kesehatan. Laporan itu juga mendokumentasikan penyiksaan fisik maupun seksual, terutama terhadap tawanan asal Gaza.
Menurut AMO, penjajah zionis terus menerapkan kejahatan penahanan administratif, memperluas penggunaan undang-undang “kombatan tidak sah”, serta menargetkan para pemimpin gerakan tawanan Palestina melalui isolasi dan berbagai bentuk penganiayaan.
Laporan tersebut juga memperingatkan memburuknya kondisi kesehatan para tahanan yang sakit, terutama Dr. Hussam Abu Safiya, yang hingga kini masih disekap.
Kesaksian Mantan Tawanan
Kesaksian para tawanan yang telah dibebaskan mengungkap bahwa mereka mengalami pemukulan, penghinaan, penyiksaan, dan penggeledahan dengan cara menelanjangi tubuh sejak pertama kali ditangkap.
Perlakuan tersebut terus berlanjut selama proses interogasi maupun saat dipindahkan dari satu penjara ke penjara lainnya.
Kesaksian itu juga menunjukkan berlanjutnya pelaparan terhadap para tawanan. Mereka menerima makanan berkualitas buruk, kekurangan pakaian dan perlengkapan kebersihan, serta mengalami pembatasan waktu keluar sel, sehingga kondisi kesehatan dan kehidupan mereka semakin memburuk.
Makalah tersebut turut mencatat merebaknya berbagai penyakit kulit, terutama kudis (scabies), akibat terus ditolaknya akses terhadap pengobatan dan layanan medis.
Selain itu, tawanan asal Gaza dilaporkan menghadapi interogasi yang keras, penganiayaan berulang, serta kondisi penahanan yang tidak manusiawi.
AMO menegaskan dampak penyiksaan tidak hanya menimbulkan luka fisik, tetapi juga trauma psikologis yang berkepanjangan. Termasuk rasa takut dan mimpi buruk yang terus membayangi para tahanan.
Di akhir laporannya, AMO mendesak komunitas internasional segera mengambil langkah nyata untuk menghentikan berbagai pelanggaran tersebut serta menjamin perlindungan bagi seluruh tawanan Palestina.
Dr. Abu Safiya Alami Penurunan Kesehatan Parah
Asra Media Office (AMO) mengungkapkan bahwa tawanan Palestina Dr. Hussam Abu Safiya mengalami kondisi yang sangat memprihatinkan di Penjara Rakevet setelah berulang kali menjadi korban penganiayaan. Kekerasan tersebut menyebabkan tulang rusuknya patah dan kondisi kesehatannya terus memburuk.
AMO menyebut, pada 27 Juli, Abu Safiya mengalami tindakan represif paling brutal sejak ditahan. Hari itu disebut sebagai “hari terberat” selama masa penahanannya. Petugas penjara menggunakan pentungan, alat kejut listrik, gas air mata, peluru karet, hingga anjing pelacak untuk menyerang para tawanan.
AMO mengatakan kondisi kesehatan Abu Safiya terus menurun. Ia menderita gangguan jantung, tekanan darah tinggi, nyeri hebat pada leher, hernia nukleus pulposus (HNP) atau saraf terjepit, hernia, gangguan penglihatan, serta terus mengalami pusing dan jantung berdebar.
Meski kondisinya serius, pihak Penjara Rakevet hanya memberinya obat pereda nyeri dan obat tekanan darah.
AMO juga mengungkapkan bahwa serdadu ‘Israel’ telah menganiaya Abu Safiya sesaat setelah dipindahkan ke Penjara Rakevet pada 24 Juni 2026. Tanpa alasan, ia dipukuli menggunakan pentungan hingga mengalami patah tulang rusuk.
Menurut AMO, kesulitan Abu Safiya semakin berat akibat penganiayaan yang terus berulang serta 21 hari menjalani sel isolasi dalam kondisi yang sangat keras.
AMO mendesak komunitas internasional segera mengambil langkah nyata untuk menghentikan pelanggaran yang dilakukan ‘Israel’ terhadap para tawanan Palestina, menekan pembebasan mereka, serta memberikan perlindungan bagi para tawanan. (*)