Beranda / Palestina / Tenaga Medis Gaza Bersatu, Kokohkan Solidaritas untuk Rekan yang Ditahan
Kabar Palestina
25 Apr 2026

Tenaga Medis Gaza Bersatu, Kokohkan Solidaritas untuk Rekan yang Ditahan

Tenaga Medis Gaza Bersatu, Kokohkan Solidaritas untuk Rekan yang Ditahan
Bagikan:

GAZA (PIC) –  Di halaman Kompleks Medis Al-Shifa, Kota Gaza, puluhan tenaga kesehatan berdiri dalam diam yang sarat makna.

Mengenakan seragam putih, mereka menggelar aksi solidaritas pada hari Ahad (19/4/2026), menyuarakan dukungan bagi rekan-rekan mereka—dokter, perawat, dan paramedis—yang kini ditahan di penjara-penjara zionis ‘Israel’ sejak pecahnya agresi genosida pada Oktober 2023.

Aksi protes digelar sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Hari Tahanan Palestina. Bagi mereka, ini adalah bentuk perlawanan moral di tengah situasi yang kian menekan.

Para peserta menyebut penahanan tenaga medis sebagai kejahatan berlapis: karena melanggar hukum internasional yang melindungi tenaga kesehatan, sekaligus melumpuhkan sistem layanan medis yang sedang berada di titik kritis.

Dalam aksi tersebut, angka “362” dituliskan di tanah—melambangkan jumlah tenaga medis yang ditahan selama agresi. Di sekitar area rumah sakit, ambulans dipasangi foto-foto para tenaga medis yang ditahan, lengkap dengan nama dan tanggal penangkapan.

Spanduk-spanduk juga terbentang, membawa pesan tegas seperti: “Pengabaian medis adalah eksekusi perlahan” dan “Tenaga medis dilindungi oleh hukum internasional saat perang.”

Kementerian Kesehatan Gaza memperingatkan, penahanan yang masih berlangsung terhadap 83 tenaga medis saat ini merupakan pembatasan hak untuk hidup secara nyata dan pelanggaran terang-terangan terhadap konvensi internasional.

Wakil Menteri Kesehatan, Maher Shamia, menegaskan bahwa apa yang dialami para tenaga medis bukan sekadar penahanan sewenang-wenang, tetapi penargetan sistematis terhadap misi kemanusiaan mereka.

Maher juga mengungkap gambaran yang lebih luas: lebih dari 1.700 tenaga medis dilaporkan tewas selama genosida, ratusan rumah sakit rusak atau hancur, dan ratusan lainnya ditangkap.

Dari 362 tenaga medis yang ditahan, 83 di antaranya masih belum dibebaskan. “Menculik dokter dari tempat kerja dan paramedis dari lapangan adalah kejahatan perang,” tegasnya.

Ia menambahkan, sekira 9.600 warga Palestina saat ini masih ditahan di penjara-penjara ‘Israel’, termasuk ribuan tahanan administratif— yang dipenjara tanpa dakwaan atau proses “peradilan” yang jelas.

Di tengah kondisi itu, 326 tahanan dilaporkan meninggal dunia akibat penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi, dengan 52 di antaranya berasal dari Gaza. Situasi diperparah dengan tidak adanya informasi jelas mengenai lokasi penahanan sejumlah tenaga medis.

Pihak berwenang di Gaza menyuarakan kekhawatiran atas praktik penghilangan paksa serta kondisi tahanan yang kian memburuk. “Apakah dunia menunggu hingga hukuman terberat dijalankan sebelum bertindak?” tanya Shamia.

Para peserta aksi juga mendesak lembaga internasional—terutama Komite Palang Merah Internasional dan WHO—untuk turun tangan, memastikan transparansi kondisi para tahanan, serta menjamin mereka mendapatkan perawatan medis yang layak.

Kesaksian datang dari mantan tahanan sekaligus perawat, Mohammad Tafesh, yang menyebut para tenaga medis di penjara menghadapi berbagai bentuk penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi.

“Penahanan ini bertentangan dengan hukum kemanusiaan,” ujarnya. Senada, Saleh Al-Arabi menegaskan bahwa satu-satunya “kesalahan” mereka di mata para penjajah adalah menjalankan tugas kemanusiaan.”

Aksi ditutup dengan penandatanganan petisi yang menuntut pembebasan segera seluruh tenaga medis yang ditahan.

Bagi para peserta, aksi solidaritas ini bukan akhir, melainkan bagian dari upaya panjang untuk menjaga perhatian dunia—bahwa di balik agresi genosida yang berkecamuk, ada para tenaga medis yang kini sangat perlu diselamatkan. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami