Beranda / Palestina / Tiga Tahun Berturut-turut, Warga Gaza Tak Bisa Melaksanakan Ibadah Haji dan Qurban
Kabar Palestina
23 Mei 2026

Tiga Tahun Berturut-turut, Warga Gaza Tak Bisa Melaksanakan Ibadah Haji dan Qurban

Tiga Tahun Berturut-turut, Warga Gaza Tak Bisa Melaksanakan Ibadah Haji dan Qurban
Bagikan:

GAZA (PIC) – Beberapa tahun lalu, musim haji dan Idul Adha selalu menghadirkan suasana nan hidup di wilayah Gaza. Pasar-pasar ramai dipenuhi warga, suara pedagang terdengar dari pasar hewan, anak-anak bermain di sekitar kambing qurban yang dihias, sementara keluarga sibuk melepas keberangkatan jamaah haji dan menyiapkan penyambutan mereka.

Di tengah blokade panjang, momen itu menjadi salah satu sedikit kesempatan bagi warga Gaza untuk merasakan kebahagiaan dan kebersamaan. Namun kini, semua itu nyaris hilang.

Tiga tahun berturut-turut, Gaza menyambut Idul Adha di tengah agresi genosida, pengungsian, dan kehilangan. Musim haji dan qurban yang dahulu identik dengan sukacita kini berubah menjadi musim penuh keterbatasan.

Ribuan keluarga Palestina tidak hanya kehilangan kesempatan berhaji, tetapi juga tak lagi mampu melaksanakan ibadah qurban yang selama ini lekat dengan makna solidaritas, ibadah, dan kebahagiaan bersama.

Kenangan tentang Kebahagiaan

Di depan tenda pengungsian tempat ia tinggal sekarang, Abu Alaa — ayah dari dua anak yang gugur — memandangi foto-foto lama keluarganya saat Idul Adha beberapa tahun lalu. Dengan suara lirih, ia mengenang bagaimana anak-anaknya dulu menyambut Idul Adha dengan penuh kegembiraan.

“Kami selalu menunggu Idul Adha dengan bahagia. Anak-anak senang melihat hewan qurban beberapa hari sebelum disembelih, lalu seluruh keluarga berkumpul bersama,” tuturnya.

“Tapi sekarang tidak ada rumah, tidak ada qurban, bahkan membeli satu kilogram daging pun kami tak mampu.”

Menurutnya, gema takbir yang dulu memenuhi gang-gang Gaza kini tak lagi terdengar seperti sebelumnya. “Hati orang-orang hari ini dipenuhi rasa takut, lapar, dan kehilangan,” katanya.

Kesedihan serupa dirasakan Umm Muhammad, seorang ibu pengungsi yang kehilangan rumahnya di Kota Gaza. Bagian paling menyakitkan baginya adalah ketidakmampuan menghadirkan suasana Idul Adha untuk anak-anaknya.

Ia mengaku anak bungsunya terus bertanya mengapa keluarga mereka tidak membeli hewan qurban seperti tahun-tahun sebelumnya. “Kalaupun hewan ternak masih tersedia, kami tetap tidak akan mampu membelinya,” ujarnya.

Sebelum genosida meletus, warga Gaza dikenal tetap mempertahankan tradisi qurban meski hidup di bawah blokade dan tekanan ekonomi. Banyak keluarga bahkan menabung sepanjang tahun demi bisa membeli hewan qurban saat Idul Adha tiba.

Data Kementerian Pertanian Gaza mencatat, pada Idul Adha 2023 terdapat sekira 17 ribu sapi dan 24 ribu kambing yang disembelih di Gaza. Sekira 130 ribu keluarga atau hampir 28 persen penduduk Gaza ikut melaksanakan ibadah qurban.

Lembaga-lembaga amal lokal maupun internasional juga rutin menggelar distribusi daging qurban. Bagi ribuan warga, Idul Adha menjadi satu-satunya kesempatan menikmati daging di tengah kesulitan ekonomi.

Pasar hewan biasanya sudah ramai sejak berminggu-minggu sebelum hari raya. Meski harga mahal dan kondisi ekonomi sulit, warga tetap berusaha menghidupkan syiar qurban setiap tahun. Kini, suasana itu tinggal kenangan.

Di tengah reruntuhan, kelaparan, dan pengungsian massal, banyak keluarga Gaza hanya bisa mengenang Idul Adha sebagai hari raya yang dulu pernah membawa kebahagiaan.

Genosida Mengubah Segalanya

Genosida yang terus menghancurkan wilayah Gaza bukan hanya merenggut rumah dan nyawa warga Palestina, tetapi juga perlahan menghapus tradisi Idul Adha yang selama puluhan tahun menjadi masa-masa penuh kebahagiaan.

Hancurnya sebagian besar wilayah Gaza, kematian ribuan ternak akibat pengeboman, kelangkaan pakan, hingga lumpuhnya layanan kesehatan hewan membuat ibadah qurban kini berubah menjadi mimpi yang nyaris mustahil bagi mayoritas warga.

Krisis semakin parah setelah zionis ‘Israel’ terus melarang masuknya hewan ternak hidup melalui pelintasan. Akibatnya, sapi dan kambing hampir tidak lagi ditemukan di pasar-pasar lokal, sementara harga hewan yang tersisa melonjak ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Para pedagang dan peternak menyebut pembatasan terhadap masuknya hewan ternak dan pakan telah memperdalam krisis kemanusiaan menjelang Idul Adha. Bahkan bagi keluarga yang masih memiliki kemampuan finansial, melaksanakan qurban kini tetap hampir tidak mungkin dilakukan karena hewan ternak nyaris tidak tersedia.

Abu Ali, seorang peternak di Gaza tengah, mengenang bagaimana pasar hewan dulu selalu ramai menjelang hari raya. Sekarang kandang-kandang kosong sepenuhnya. Banyak peternak yang kehilangan hewan mereka akibat serangan bom dan kelaparan.

Para ahli sosial menilai hilangnya ritual keagamaan dan tradisi sosial selama tiga tahun berturut-turut memperparah dampak psikologis perang, terutama bagi anak-anak Gaza. Banyak dari mereka tumbuh di tengah suara ledakan, pengungsian, ketakutan, dan kekurangan, tanpa lagi mengenal suasana hangat Idul Adha seperti generasi sebelumnya.

Di saat jutaan Muslim di berbagai penjuru dunia menyambut musim haji dan Idul Adha dengan sukacita dan ketenangan, warga Gaza justru berdiri jauh dari suasana itu.

Mereka memikul kesulitan berlapis: kehilangan tradisi ibadah yang dulu menghidupkan harapan, sekaligus kehilangan kehidupan yang — meski miskin dan terkepung — dahulu masih mampu menghadirkan kebahagiaan walau hanya untuk beberapa hari. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami