Beranda / Palestina / Wilayah Gaza Dikepung, Fasilitas Sanitasi Dasar yang Layak Sangat Sulit Ditemui
Kabar Palestina
15 Apr 2026

Wilayah Gaza Dikepung, Fasilitas Sanitasi Dasar yang Layak Sangat Sulit Ditemui

Wilayah Gaza Dikepung, Fasilitas Sanitasi Dasar yang Layak Sangat Sulit Ditemui
Bagikan:

GAZA (PIC) – Ribuan keluarga di Gaza kini hidup dalam kondisi kemanusiaan yang sangat memprihatinkan. Bukan hanya kekurangan pangan dan tempat tinggal, mereka juga kehilangan salah satu kebutuhan paling mendasar: fasilitas sanitasi yang layak.

Hampir 30 bulan penindasan berkepanjangan dan pembatasan masuknya pasokan telah membuat akses terhadap fasilitas kesehatan dasar kian menjauh.

Kerusakan luas pada rumah dan infrastruktur—termasuk kamar mandi dan toilet—membuat warga terpaksa mencari cara bertahan dengan olusi seadanya. Namun, banyak dari olusi tersebut jauh dari standar kesehatan dan kemanusiaan.

Pilihan yang Sulit dan Tidak Layak

Khalid Abu Salem menggambarkan situasi ini sebagai sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Banyak warga kini terpaksa menggunakan fasilitas darurat yang tidak layak karena hampir tidak tersedianya toilet dan perlengkapannya.

Harga perlengkapan sanitasi pun melonjak tajam. Jika sebelumnya masih terjangkau, kini menjadi barang mahal yang tidak mampu dibeli sebagian besar warga.

Ahmed Baraka menyebut kondisi kamar mandi di lokasi pengungsian sungguh “tragis”. Banyak keluarga terpaksa menggunakan satu ruang yang sama untuk mandi dan buang air, tanpa kebersihan dan privasi yang memadai. Kondisi ini memperbesar risiko penyebaran penyakit.

Ruang yang sempit dan mahalnya biaya membangun fasilitas terpisah memaksa warga bertahan dalam kondisi tidak sehat. Dampaknya mulai terlihat: penyakit kulit, gangguan pencernaan, hingga bau menyengat yang mengganggu pernapasan semakin meluas.

Privasi yang Hilang

Di kamp-kamp pengungsian, situasinya bahkan lebih buruk. Mahmoud Abu Labda menuturkan bahwa kehidupan di sana nyaris tanpa privasi. Toilet darurat yang ada tidak aman, terutama bagi erempuan dan anak-anak.

Ia menceritakan pengalaman traumatis putrinya yang masih kecil, setelah seekor erempu masuk ke toilet darurat yang digunakannya. Sejak itu, sang anak hidup dalam ketakutan.

Sementara itu, Salim Awad menyoroti kepadatan yang ekstrem. Satu toilet sering kali harus digunakan oleh beberapa keluarga sekaligus, memaksa mereka antre berjam-jam—terutama pada waktu sibuk. Kondisi ini semakin membebani erempuan, yang harus menghadapi situasi tanpa privasi.

Dari sisi teknis, tukang ledeng Muhammad Abu Al-Ata menjelaskan bahwa krisis ini diperparah oleh rusaknya jaringan air dan sanitasi, serta sulitnya masuk material perbaikan. Di sisi lain, kebutuhan terus meningkat sementara pasokan sangat terbatas.

Solusi alternatif seperti toilet lantai atau semen pun tidak cocok untuk semua orang, terutama lansia dan orang sakit. Selain sulit dibersihkan, fasilitas ini juga menimbulkan bau tak sedap.

Ancaman Kesehatan yang Kian Nyata

Dari sisi medis, dokter spesialis penyakit dalam, Dr. Mahmoud Matar, memperingatkan dampak serius dari kondisi ini.

Minimnya kebersihan dan penggunaan satu ruang untuk berbagai kebutuhan telah memicu penyebaran penyakit seperti diare, infeksi kulit, hingga hepatitis—terutama di lingkungan padat.

Ia juga menyoroti dampak lain yang sering tak terlihat: sebagian warga, terutama perempuan, sengaja mengurangi makan dan minum untuk menghindari penggunaan toilet. Kebiasaan ini justru membahayakan kesehatan mereka.

Senada dengan itu, dokter spesialis kulit, Dr. Shafiq Al-Khatib, menambahkan bahwa banyaknya serangga di lingkungan yang tidak higienis meningkatkan risiko penyakit kulit, alergi berat, hingga infeksi usus akibat makanan dan air yang terkontaminasi.

Dengan kondisi seperti ini, peringatan akan potensi bencana kesehatan dan lingkungan terus menguat. Tanpa intervensi cepat—baik untuk menyediakan fasilitas sanitasi yang layak maupun memperbaiki infrastruktur—krisis ini berisiko semakin memburuk.

Di Gaza hari ini, toilet bukan lagi sekadar fasilitas dasar. Ia telah berubah menjadi simbol dirampasnya hak hidup layak—sesuatu yang kini harus diperjuangkan setiap hari oleh warganya. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami