Beranda / Palestina / Beasiswa Sudah Menanti, tapi Pelintasan Dikunci: Mahasiswa Gaza Desak Akses Segera Dibuka
Kabar Palestina
25 Apr 2026

Beasiswa Sudah Menanti, tapi Pelintasan Dikunci: Mahasiswa Gaza Desak Akses Segera Dibuka

Beasiswa Sudah Menanti, tapi Pelintasan Dikunci: Mahasiswa Gaza Desak Akses Segera Dibuka
Bagikan:

GAZA (PIC) – Ratusan mahasiswa Gaza turun ke jalan pada hari Senin (20/1/2026). Mereka membawa satu tuntutan mendesak: buka kembali pelintasan—terutama Rafah.

Meski beasiswa sudah di tangan dan kampus tujuan telah menerima mereka, pintu keluar yang tertutup membuat mimpi melanjutkan pendidikan ke luar negeri kian terancam pupus.

Aksi yang digelar di Kota Gaza ini diinisiasi oleh gerakan akar rumput bertajuk “Between the Dream and the Crossing” (Antara Mimpi dan Pelintasan).

Lewat demonstrasi ini, para pelajar ingin menunjukkan betapa krisis kemanusiaan dan pendidikan kian memburuk akibat pelintasan yang terus ditutup, khususnya pelintasan Rafah.

Di tengah aksi, para peserta mengangkat poster yang menegaskan hak mereka atas pendidikan dan kebebasan bergerak. Sebagian menggenggam paspor—simbol kesiapan untuk berangkat, sekaligus ironi karena mereka tetap tak bisa pergi.

Penutupan pelintasan yang berkepanjangan, kata para pelajar, telah menghalangi mereka mendaftar ke universitas internasional.

Banyak yang terpaksa kehilangan satu semester penuh, bahkan berisiko kehilangan kesempatan belajar yang sudah diperjuangkan dengan susah payah.

Dalam konferensi pers di sela aksi, seorang mahasiswa, Amir Fojou, menegaskan bahwa demonstrasi ini adalah upaya untuk mengangkat suara ribuan pelajar Gaza yang terhalang mengakses pendidikan akibat pembatasan dari penjajah zionis ‘Israel’.

“Kami hidup dalam kondisi yang membuat belajar menjadi sangat sulit,” ujarnya. Ia menggambarkan keseharian yang dipenuhi pemadaman listrik, akses internet terbatas, serta kelangkaan bahan bakar—semuanya mengganggu proses belajar.

Amir menambahkan, banyak mahasiswa sebenarnya sudah diterima di kampus luar negeri dan mendapatkan beasiswa. Namun, tanpa akses keluar, semua itu berubah menjadi peluang yang hilang—menyisakan tekanan psikologis yang semakin berat.

Mahasiswa lainnya, Nagham Abu Ghali, menyampaikan pesannya dalam bahasa Inggris di hadapan massa. Ia menegaskan bahwa pelajar Gaza bukanlah mereka yang hanya menunggu kesempatan datang.

“Kami tidak pernah menunggu peluang. Kami menciptakannya, bahkan di tengah tantangan yang luar biasa,” katanya.

“Perang bukan hanya menghancurkan infrastruktur, tetapi juga merusak kehidupan dan pendidikan kami,” ujar Nagham. Ia menambahkan, para pelajar kini terjebak di antara surat penerimaan kampus dan ruang kelas yang tak pernah bisa mereka capai.

Mahasiswa lain, Saeed Barbakh, menyebut aksi ini sebagai suara dari satu generasi yang tetap bertekad mengejar pendidikan di tengah blokade penjajahan.

“Kami punya kemampuan dan tekad untuk berhasil. Tetapi kami membutuhkan kesempatan yang adil untuk melanjutkan studi dan berkontribusi bagi masyarakat,” katanya.

Para penyelenggara menegaskan, gerakan ini membawa pesan jelas kepada dunia internasional: pelajar Gaza bukan sekadar angka statistik. Mereka adalah generasi muda dengan potensi besar, yang mimpinya kini terhalang oleh pembatasan yang terus berlangsung.

Mereka pun mendesak adanya intervensi internasional yang segera—untuk membuka kembali pelintasan dan menghadirkan jalur aman; sehingga para pelajar dapat bepergian dan memperoleh hak dasar mereka atas pendidikan. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami