Beranda / Palestina / “Berada di Jantung Peristiwa yang Sedang Terjadi, Masjidil Aqsha Harus Tetap Menjadi Pusat Perhatian Kita!”
Kabar Palestina
9 Mar 2026

“Berada di Jantung Peristiwa yang Sedang Terjadi, Masjidil Aqsha Harus Tetap Menjadi Pusat Perhatian Kita!”

“Berada di Jantung Peristiwa yang Sedang Terjadi, Masjidil Aqsha Harus Tetap Menjadi Pusat Perhatian Kita!”
Bagikan:

DR. Abdullah Maarouf, Dosen dan Direktur Pusat Studi Al-Quds di Universitas Istanbul 29 Mei, mantan Kepala Media, Hubungan Masyarakat, dan Bimbingan Arkeologi di Masjidil Aqsha, serta mantan Dosen di Universitas Taibah di Madinah menjelaskan kondisi sebenarnya Masjidil Aqsha al-Mubarak saat ini:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Video ini saya buat dengan penjelasan yang agak terperinci. Saya ingin menyebarkannya dalam bentuk penjelasan yang lebih detail tentang apa yang sedang terjadi di Masjid Al-Aqsha yang diberkahi sehingga kita tidak hanya bergantung pada video pendek atau reels saja.

Dalam video ini saya ingin memberikan perincian yang mungkin benar-benar bermanfaat bagi orang yang meneliti persoalan Masjid Al-Aqsha dan ingin memahami apa sebenarnya yang sedang terjadi di Masjid Al-Aqsha pada fase yang sangat berbahaya ini.

Tentu kita semua mengikuti berita tentang penutupan Masjid Al-Aqsha yang diberkahi pada awal perang yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan penjajah ‘Israel’ terhadap Iran.

Pada hari pertama perang itu, pasukan penjajah benar-benar menyerbu Masjid Al-Aqsha, menutup semua gerbangnya, mengusir para jemaah, dan mengumumkan penutupan masjid tanpa batas waktu dengan alasan ‘keamanan publik’.

Ada beberapa catatan penting mengenai hal ini.

Catatan pertama yang perlu kita perhatikan adalah alasan yang selalu digunakan oleh pihak penjajah adalah klaim bahwa mereka ingin menjaga keamanan masyarakat dan mencegah kerumunan.

Namun, pada kenyataannya, sehari setelah peristiwa tersebut mereka masuk ke Masjid Sheikh Lu’lu’ di Yerusalem dan melarang salat Tarawih di sana.

Artinya, persoalan sebenarnya bukan tentang kerumunan. Yang dilarang adalah semua bentuk pertemuan keagamaan, khususnya pada bulan Ramadan yang diberkahi.

Ada beberapa poin penting lainnya.

Pertama, sejak awal bulan Ramadan pihak penjajah tidak pernah berhenti melakukan pelanggaran terhadap Masjid Al-Aqsha.

Sejak awal Ramadan mereka memperlakukan Masjid Al-Aqsha dengan tingkat pembatasan yang belum pernah terjadi sebelumnya, terutama dalam hal keluar masuk jemaah ke dalam masjid.

Akibatnya, sejumlah besar orang dilarang masuk ke Masjid Al-Aqsha.

Berita yang sebagian orang sebarkan tentang adanya lima puluh ribu jemaah, delapan puluh ribu jamaah, atau seratus ribu jamaah dan dianggap sebagai suatu ‘prestasi’, sebenarnya bukan prestasi.

Mengapa?

Karena pada hari biasa pun seharusnya di Masjid Al-Aqsha setiap malam ada lebih dari tujuh puluh ribu jemaah.

Jika jumlah itu dikurangi dengan sangat besar, maka jelas ada masalah.

Ini poin pertama.

Poin kedua, kita tidak boleh lupa bahwa pada waktu itu beredar video-video yang menunjukkan pasukan penjajah menempatkan para pemuda, khususnya di depan gerbang Masjid Al-Aqsha, dalam antrean panjang.

Mereka memeriksa satu per satu: memeriksa kartu identitas, memasukkan data ke sistem komputer, lalu memutuskan apakah orang itu boleh masuk atau harus kembali.

Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal Ramadan pihak penjajah berusaha menampilkan diri sebagai satu-satunya otoritas yang mengelola Masjid Al-Aqsha dan menentukan siapa yang boleh masuk.

Terutama setelah krisis meningkat antara Departemen Wakaf Islam dan pihak penjajah.

Krisis itu muncul ketika polisi penjajah menuntut ketua Dewan Wakaf—yang juga merupakan kepala Departemen Wakaf Islam—untuk datang ke kantor polisi penjajah dan memperlakukan mereka dengan cara yang merendahkan di pusat kepolisian Al-Qishla, yaitu kantor pusat polisi penjajah di Kota Tua.

Ia tentu menolak karena hal itu melanggar status quo yang berlaku.

Setelah itu, pihak penjajah melarang pemasangan tenda-tenda peneduh di Masjid Al-Aqsha dan juga melarang penggunaan payung besar di area masjid.

Bahkan ketika pihak wakaf mencoba memasang tenda sementara, semuanya dilarang sepenuhnya.

Penjajah juga melarang masuknya makanan untuk berbuka puasa pada hari-hari ketika Masjid Al-Aqsha masih dibuka.

Mereka juga melarang makanan sahur bagi para penjaga dan pekerja Masjid Al-Aqsha pada malam hari.

Selain itu, pihak penjajah melarang dibukanya satu-satunya klinik yang ada di Masjid Al-Aqsha dan merampas seluruh perlengkapannya.

Bahkan ketika Departemen Wakaf mengumumkan akan membuat unit layanan kesehatan bergerak, penjajah tetap melarang segala sesuatu yang berkaitan dengan pengelolaan Masjid Al-Aqsha selama bulan Ramadan.

Laporan juga menyebutkan bahwa penjajah menangkap sejumlah pemuda dari dalam Masjid Al-Aqsha.

Dalam salah satu kejadian, tentara penjajah masuk ke Masjid Al-Qibli dengan memakai sepatu saat waktu salat.

Biasanya, bahkan ketika mereka menyerbu Masjid Al-Qibli atau Kubah Shakhrah, mereka masuk tanpa sepatu.

Namun, kali ini mereka masuk dengan sepatu, menculik beberapa pemuda dari dalam masjid, memukul mereka, lalu mengusir mereka keluar.

Setelah itu, mereka memberikan larangan acak bagi para pemuda tersebut untuk memasuki Masjid Al-Aqsha.

Semua tindakan ini sebenarnya merupakan persiapan.

Jelas bahwa pada waktu itu penjajah memang sedang mempersiapkan perang terhadap Iran.

Hal ini kini juga dijelaskan oleh berbagai laporan di media internasional bahwa penjajah Zionis dan Amerika Serikat telah lama merencanakan serangan terhadap Iran.

Artinya, penutupan Masjid Al-Aqsha sebenarnya telah direncanakan sejak lama dan bukan keputusan mendadak.

Saudara-saudara kita harus memperhatikan hal ini karena sangat berbahaya.

Ini bukan sesuatu yang terjadi secara spontan, melainkan sesuatu yang direncanakan secara detail.

Hal ini mengingatkan saya pada sejumlah peristiwa sebelumnya yang dapat memberi gambaran tentang apa yang mungkin ingin dilakukan penjajah terhadap Masjid Al-Aqsha—semoga Allah melindunginya.

Salah satu contohnya adalah pada bulan Juni lalu ketika terjadi konfrontasi pertama antara Iran dan penjajah Zionis.

Saat itu seorang rabi muncul dalam sebuah video—dan video tersebut sekarang kembali disebarkan—dan secara terang-terangan menyerukan terjadinya ‘mukjizat’ dengan cara merusak Masjid Al-Aqsha.

Ia bahkan mengatakan bahwa masjid itu bisa saja dipukul atau diserang, lalu diklaim bahwa itu terjadi karena kesalahan atau karena Iran menargetkan tempat suci tersebut.

Saat ini tidak ada yang benar-benar menghalangi penjajah melakukan hal semacam itu, kecuali kewaspadaan masyarakat Baitul Maqdis dan terbongkarnya rencana tersebut di hadapan dunia.

Oleh karena itu, kita ingin memperingatkan penjajah bahwa jika Masjid Al-Aqsha mengalami kerusakan—na’udzubillah—maka tidak ada yang namanya Iran atau pihak lain yang bertanggung jawab.

Penjajahlah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab, bukan hanya secara tidak langsung, tetapi sepenuhnya, atas apa pun yang mungkin terjadi di Masjid Al-Aqsha.

Oleh karena itu, rakyat kita harus membuka mata mereka sepenuhnya karena hari-hari ini sangat berbahaya.

Penjajah mungkin mencoba memanfaatkan situasi ini untuk melakukan sesuatu yang sangat berbahaya terhadap Masjid Al-Aqsha.

Kemarin juga beredar sebuah video yang kami bagikan dari salah satu saluran milik seorang pemukim dari permukiman ilegal Yitzhar yang dekat dengan Nablus.

Ia adalah seorang aktivis dalam kelompok ekstremis Temple Mount dan juga dalam kelompok yang dikenal sebagai Hilltop Youth.

Ia menunjukkan gambar Masjid Al-Aqsha yang kosong dan mengatakan bahwa ini adalah kondisi yang terbaik.

Ia bahkan mengejek penutupan Masjid Al-Aqsha di hadapan kaum Muslimin.

Ia mengatakan bahwa ketika masjid itu dibuka kembali, ia berharap agar dibuka bagi orang-orang Yahudi yang datang untuk melakukan ritual.

Singkatnya, ia secara jelas menyerukan agar jika Masjid Al-Aqsha dibuka kembali, maka dibuka hanya untuk para pemukim Zionis.

Inilah yang kita khawatirkan akan terjadi dalam waktu dekat.

Kita juga tidak boleh lupa bahwa pada bulan Desember lalu Wakil Perdana Menteri ‘Israel’ sekaligus Menteri Kehakiman telah berjanji kepada para pemukim Yahudi bahwa jam penyerbuan ke Masjid Al-Aqsha akan diperpanjang dan mereka akan diberi prioritas.

Hal ini memang mulai dilakukan oleh penjajah sejak awal Ramadan, meskipun saat itu hanya sebagai langkah awal kecil, yaitu dengan menambah satu jam untuk penyerbuan pagi hari.

Mereka mengklaim bahwa hal itu dilakukan karena bulan Ramadan.

Ini sangat berbahaya.

Karena itu berarti ketika penjajah memutuskan untuk membuka Masjid Al-Aqsha, maka merekalah yang akan memutuskan kapan dan bagaimana masjid itu dibuka—bukan Departemen Wakaf.

Mereka akan menentukan kapan dibuka, bagaimana dibuka, dan dengan aturan seperti apa masjid itu dibuka.

Apakah situasi ini bisa dihadapi?

Tentu bisa.

Apakah rakyat Palestina bisa menghadapi rencana penjajahan ini?

Tentu bisa.

Bagaimana caranya?

Saat ini penjajah berada dalam salah satu kondisi paling rapuh.

Mengapa?

Karena di dalam ‘Israel’ sendiri, jika masyarakatnya tidak sepenuhnya solid dan stabil pada fase ini, maka penjajah justru lebih takut pada keruntuhan internal dibandingkan konfrontasi eksternal.

Artinya, rakyat Palestina dapat menegaskan kehendak mereka di lapangan melalui kekuatan kehendak rakyat dan tekanan masyarakat.

Karena penjajah juga takut bahwa front internalnya akan meledak.

Masalah Masjid Al-Aqsha, dengan sensitivitasnya—terutama pada bulan Ramadan—adalah mimpi buruk bagi penjajah.

Oleh karena itu, mereka menutup lembaga-lembaga dan media yang melaporkan dari dalam Masjid Al-Aqsha.

Singkatnya, mereka takut kepada kalian, takut kepada Masjid Al-Aqsha, dan takut pada makna yang diwakili oleh penutupan Masjid Al-Aqsha.

Mereka berusaha mengalihkan perhatian dari tempat suci ini dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di kawasan.

Namun, Masjid Al-Aqsha harus tetap berada di pusat perhatian kita.

Karena pada kenyataannya Masjid Al-Aqsha berada di jantung peristiwa yang sedang terjadi.

Sumber: www.sahabatalaqsha.com

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami