GAZA (Al Jazeera) – Setidaknya 12 warga Palestina, termasuk enam anak-anak dan sejumlah petugas polisi, tewas di berbagai wilayah Gaza sejak Sabtu (31/1/2026) dini hari.
Serangan mematikan ini terjadi hanya sehari sebelum pelintasan Rafah dijadwalkan dibuka kembali; yang memicu pertanyaan serius tentang komitmen penjajah ‘Israel’ terhadap gencatan senjata.
Di selatan Gaza, serangan udara ‘Israel’ menghantam tenda pengungsian di kawasan Al-Mawasi, barat laut Khan Younis; yang menewaskan sedikitnya tujuh orang, termasuk tiga anak-anak.
Sumber medis menyebutkan seluruh korban dilarikan ke Kompleks Medis Nasser. Sementara kawasan yang seharusnya menjadi tempat perlindungan kembali berubah menjadi lokasi kematian.
Serangan juga mengguncang Kota Gaza. Sedikitnya lima warga Palestina, tiga di antaranya anak-anak, tewas setelah sebuah gedung apartemen di kawasan Remal, Gaza Barat, dibom.
Delapan warga lainnya dilaporkan terluka dalam serangan terpisah yang menargetkan gedung apartemen di kawasan Daraj.
Jurnalis Al Jazeera, Hani Mahmoud, melaporkan ledakan besar disertai awan debu hitam yang menyelimuti kawasan permukiman.
Ia menegaskan seluruh serangan terjadi di dalam “garis kuning”, zona yang sebelumnya diklaim aman.
Di Khan Younis, sebuah bangunan dilaporkan dihancurkan total oleh jet tempur zionis setelah peringatan singkat dikeluarkan.
Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat, sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat diberlakukan pada 10 Oktober, sedikitnya 524 warga Palestina telah tewas akibat serangan serdadu zionis.
Rentetan serangan terbaru ini semakin menegaskan rapuhnya gencatan senjata dan memburuknya situasi keamanan bagi warga sipil di Gaza. (Al Jazeera)