Beranda / Amanah / Dapur Umum hingga Pompa Air: Program Tanggap Darurat KITA di Aceh Tamiang
Amanah Kabar Penyaluran
11 Des 2025

Dapur Umum hingga Pompa Air: Program Tanggap Darurat KITA di Aceh Tamiang

Dapur Umum hingga Pompa Air: Program Tanggap Darurat KITA di Aceh Tamiang
Bagikan:

ACEH TAMIANG (Yayasan KITA)– Tim relawan Yayasan KITA turun langsung ke lokasi banjir bandang Aceh Tamiang sejak Sabtu (6/12/2025) lalu. Hingga Selasa (9/12/2025) kemarin, tim KITA menggulirkan serangkaian program tanggap darurat untuk membantu ribuan warga yang terdampak.

Berkolaborasi dengan Baitul Maal Hidayatullah (BMH), tim KITA menjangkau beberapa desa terparah di Kecamatan Kejuruan Muda, termasuk Desa Seumadam dan Dusun Bahagia di Tanah Terban, Karang Baru.

Kondisi di Lapangan: Air Berlumpur dan Rumah Bergeser

Sammy Ramadhan, salah satu relawan KITA yang turun ke lokasi, menceritakan kondisi yang ditemuinya. “Di Seumadam, warga bercerita rumah mereka terendam hingga lima hari. Sebagian hanyut, sebagian bergeser dari pondasi. Banyak keluarga sempat tidak makan selama beberapa hari,” ungkapnya.

Yang paling memprihatinkan adalah kondisi air bersih. Warga terpaksa memasak air yang bercampur lumpur, lalu menambahkan kopi agar tidak tampak keruh. “Ini kebutuhan paling mendesak. Mereka butuh air bersih untuk minum dan pembersihan,” tambah Sammy.

Perjalanan tim dari Medan ke Aceh Tamiang memakan waktu lebih dari empat jam, terhambat kerusakan jalan di berbagai titik. Sepanjang rute, terlihat longsor susulan yang masih terjadi, sementara banyak warga tinggal di pinggir jalan karena rumah mereka masih penuh lumpur dan tanpa listrik.

Program Konkret: Dari Pompa Air hingga Dapur Umum

Ust. Hamim Roja, salah seorang Tim Relawan KITA memegang filter air yang rencananya akan diadakan untuk menyaring air banjir menjadi layak minum. Sumber: Dok. KITA.

Berdasarkan assessment kebutuhan di lapangan, KITA segera menggulirkan beberapa program prioritas:

1. Distribusi Air Bersih dan Peralatan Tim menyalurkan mesin pompa air portable berbahan bakar bensin dan diesel, lengkap dengan tandon air dan perlengkapannya. Satu tangki air senilai jutaan rupiah disalurkan untuk memenuhi kebutuhan musala desa yang menjadi pusat pengungsian.

Peralatan pembersihan lumpur seperti sekop dan serokan juga didistribusikan ke titik-titik yang membutuhkan.

2. Paket Sembako dan Bantuan Tunai Paket sembako dan bantuan tunai diserahkan kepada warga Desa Seumadam, terutama mereka yang kembali ke rumah semi-layak namun sering luput dari perhatian karena prioritas bantuan masih untuk penyintas di tenda pengungsian.

3. Stasiun Pelayanan Makanan Gratis Program paling ambisius adalah pembukaan dapur umum atau Stasiun Pelayanan Penyintas Bencana (SPPG) yang menyediakan 500 porsi makanan siap saji per hari selama lima hari berturut-turut.

“Kami bekerjasama dengan warung lokal untuk memproduksi makanan, lalu sebagian porsi akan diangkut dengan pickup ke titik-titik terdampak yang sulit dijangkau,” jelas Sammy. Program ini diperkuat oleh relawan dari STIT Ar-Raudhoh yang siap membantu distribusi.

4. Program Pendidikan dan Psikososial TK Al-Baitina yang juga terdampak menjadi perhatian khusus. Tim KITA mendokumentasikan kebutuhan sekolah ini untuk dijadikan pilot program, meliputi:

  • Peralatan pendidikan dan mainan
  • Dukungan tenaga pengajar
  • Program psikososial seperti Sekolah Ceria dan PPMI Berkisah

“TK ini potensial menjadi posko transit dan model untuk titik-titik lain,” ujar Sammy.

TK Al-Baitina yang diproyeksikan untuk menjadi posko dan pusat bantuan psikososial.

Kebutuhan yang Terlupakan

Dalam laporannya, tim KITA juga mencatat jenis bantuan yang sering terlupakan namun sangat dibutuhkan: perlengkapan sanitasi untuk perempuan dan pakaian dalam, terutama bagi penyintas yang kehilangan seluruh isi rumah.

Ini kebutuhan dasar yang jarang terpikirkan, padahal sangat penting untuk menjaga martabat dan kesehatan para penyintas, khususnya perempuan.

Sammy Ramadhan, Tim Relawan KITA.

Kolaborasi untuk Dampak Maksimal

Meski bantuan mulai berdatangan dari berbagai pihak, kondisi di lapangan masih jauh dari memadai. Banyak desa yang belum terjangkau secara maksimal karena akses yang sulit dan kebutuhan yang sangat besar.

Pak Idham, warga Dusun Bahagia yang musala desanya dijadikan posko pengungsian, menyambut baik kehadiran tim KITA. “Kami masih butuh banyak bantuan, terutama mesin air, genset, dan alat-alat pembersihan. Alhamdulillah tim KITA datang dan langsung membantu,” katanya.

Kolaborasi KITA dengan BMH dan relawan lokal diharapkan dapat memberikan dampak maksimal bagi pemulihan kondisi warga Aceh Tamiang.

Sampai hari ini, tim KITA masih berada di Sumatra untuk terus mengawal dan menyalurkan titipan tanda cinta kita untuk keluarga di sana. Semoga Allah ridhai. Amin ya rabbal alamin.


Yayasan KITA mengajak seluruh masyarakat untuk terus mendukung upaya kemanusiaan ini. Bantuan dapat disalurkan melalui informasi yang terdapat pada poster di bawah 👇

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami