Beranda / Palestina / Di Tengah Kehilangan, Perempuan Gaza Terpaksa Jalankan Peran yang Berbeda
Kabar Palestina
25 Apr 2026

Di Tengah Kehilangan, Perempuan Gaza Terpaksa Jalankan Peran yang Berbeda

Di Tengah Kehilangan, Perempuan Gaza Terpaksa Jalankan Peran yang Berbeda
Bagikan:

GAZA (PIC) – Di Gaza, waktu tak lagi dihitung dengan jam, melainkan dengan seberapa lama seseorang mampu bertahan.

Di tengah krisis yang menekan semua orang, erempuan justru memikul beban yang lebih kompleks—di persimpangan antara tanggung jawab keluarga, ketakutan, kemiskinan, dan ketidakpastian.

Data terbaru dari UN Women menunjukkan bahwa erempuan dan anak erempuan menjadi pihak yang paling terdampak dalam situasi pascaperang di Gaza—yang oleh laporan PBB disebut sebagai salah satu bencana kemanusiaan terburuk saat ini.

Dari Ibu Rumah Tangga Menjadi Tulang Punggung Keluarga

Ketika sumber penghasilan lenyap, banyak perempuan dipaksa mengambil peran yang sebelumnya tak terbayangkan: menjadi pencari nafkah utama.

Um Alaa (42) kini menjual roti dari tenda pengungsian untuk menghidupi keluarganya. “Saya bertanggung jawab atas semuanya,” ujarnya. Suaminya kehilangan pekerjaan setelah pabrik tempatnya bekerja hancur akibat perang.

Dulu, ia hidup tenang di rumah indah yang dibangun bersama suaminya di utara kamp pengungsi Nuseirat. Kini, rumah itu rata dengan tanah akibat serangan serdadu penjajah ‘Israel’. Dari seorang ibu rumah tangga, ia berubah menjadi penopang utama keluarga—bekerja siang dan malam demi bertahan hidup.

Kisah Um Alaa bukan pengecualian. Ribuan perempuan di Gaza mengalami perubahan peran serupa. Laporan PBB mencatat, perang telah menghancurkan mata pencaharian ratusan ribu orang, memaksa para perempuan bekerja demi memastikan keluarga tetap bisa makan.

Bekerja Demi Bertahan, Bukan Lagi Mengejar Impian

Samar (29), lulusan universitas dengan predikat cum laude, dulu bercita-cita menjadi asisten dosen. Kini, ia bekerja menjahit untuk menghidupi keluarganya dan membantu membiayai berbagai pengeluaran yang membengkak akibat perang.

“Sekarang, bekerja bukan untuk meraih mimpi, tapi sekadar agar bisa hidup,” katanya. “Saya punya banyak eremp, tapi keadaan memaksa saya berada di tempat yang tidak pernah saya bayangkan.”

Menurutnya, banyak erempuan kini terpaksa menanggung beban ekonomi keluarga. Tingginya pengangguran dan runtuhnya sektor pekerjaan membuat laki-laki tak lagi mampu menjadi satu-satunya pencari nafkah.

Harga yang Harus Dibayar Paling Mahal

Data Biro Statistik Palestina mencatat jumlah janda di Gaza melonjak menjadi 22.057 perempuan. Persentase rumah tangga yang dipimpin perempuan juga meningkat dari 12% sebelum perang menjadi sekitar 18% pada akhir 2025.

UN Women memperkirakan, satu dari tujuh keluarga di Gaza kini dipimpin oleh perempuan—lebih dari 16.000 perempuan kehilangan pasangan dan harus mengambil keputusan besar dalam situasi serba sulit.

Namun, kesulitan mereka tak berhenti pada urusan ekonomi. Sehari-hari, perempuan dan anak-anak harus antre berjam-jam di bawah terik matahari hanya untuk mendapatkan air bersih. Pemandangan ini kini menjadi potret rutin kehidupan di kamp-kamp pengungsian.

Di saat yang sama, jaringan dukungan sosial perlahan runtuh. Perempuan dipaksa beradaptasi dalam pasar kerja yang rapuh, berjuang sendiri di tengah kondisi hidup yang keras.

Tekanan mental pun tak terelakkan. Paparan terus-menerus terhadap pengeboman, pengungsian, dan kehilangan memicu meningkatnya kecemasan serta gangguan stres pascatrauma di kalangan perempuan.

Di Gaza, kisah perempuan tidak cukup diringkas dengan kata “kesulitan”. Ini adalah cerita tentang hidup di bawah tekanan tanpa henti—tentang peran yang berubah drastis, tentang kehilangan yang mendalam, dan tentang daya tahan yang terus diuji; hari demi hari. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami