Beranda / Palestina / Di Tengah Tekanan Genosida, Jurnalis Gaza Temukan Ketenangan dalam Lantunan Al-Quran
Kabar Palestina
14 Mar 2026

Di Tengah Tekanan Genosida, Jurnalis Gaza Temukan Ketenangan dalam Lantunan Al-Quran

Di Tengah Tekanan Genosida, Jurnalis Gaza Temukan Ketenangan dalam Lantunan Al-Quran
Bagikan:

Oleh: Bashaer Abu Muammar*

GAZA (PIC) – Di dalam aula yang terbuat dari material lembaran nilon dan terpal, para jurnalis duduk berdampingan. Namun kali ini, peralatan mereka disingkirkan.

Di hadapan mereka terbuka mushaf Al-Quran, sementara satu per satu suara melantunkan ayat-ayat suci dalam bacaan yang tenang dan teratur selama sard Al-Quran — sebuah pertemuan membaca Al-Quran yang diselenggarakan oleh Blok Jurnalis Palestina.

Para jurnalis tidak datang untuk meliput sebuah berita, tetapi untuk menjadi bagian dari berita itu sendiri: melantunkan ayat-ayat Al-Quran seperti halnya mereka menceritakan kisah perang sehari-hari.

Pertemuan ini merupakan bagian dari fenomena yang berkembang di Gaza yang dikenal sebagai sard Al-Quran; di mana para peserta melantunkan sebagian besar Al-Quran dari hafalan dalam satu kali duduk terus menerus.

Selama beberapa tahun terakhir, acara-acara seperti ini semakin umum terjadi di masjid-masjid dan kelompok-kelompok penghafal Al-Quran di seluruh wilayah tersebut. Seringkali kegiatan itu mempertemukan puluhan, bahkan terkadang ratusan peserta yang melafalkan ayat-ayat Al-Quran tersebut secara berurutan.

Di tengah kehidupan yang terus dibayangi perang, majelis seperti ini memiliki makna yang lebih dalam. Selain sebagai kegiatan ibadah, ia menjadi ruang langka bagi masyarakat Gaza untuk merasakan ketenangan sejenak di tengah tekanan yang tak henti-hentinya.

Ketua Komite Jurnalis Perempuan dalam Blok Jurnalis Palestina, Samira Nassar, mengatakan inisiatif ini bertujuan membantu para pekerja media kembali mendekat kepada Al-Quran setelah lama berada di bawah tekanan psikologis akibat meliput perang.

“Inisiatif ini merupakan langkah awal dan benih bagi kegiatan-kegiatan Al-Quran yang lebih luas untuk jurnalis perempuan dan komunitas media di Gaza,” ujar Nassar. “Di tengah tantangan besar yang kami hadapi, inilah saatnya para jurnalis mendekat dan berpegang teguh pada Al-Quran.”

Menurutnya, kegiatan tersebut juga dimaksudkan sebagai ruang jeda spiritual bagi para jurnalis.

“Kami ingin menghadirkan jeda ruhiyah bagi para jurnalis, dan responsnya luar biasa,” kata Nassar. “Para peserta merasa bahagia dengan suasana penuh iman yang memberi ruang bagi kelegaan psikologis dan spiritual setelah tekanan besar meliput perang.”

Ia berharap kegiatan ini dapat terus berkembang dan menjadi bagian tetap dari agenda komunitas jurnalis di Gaza.

Bagi sebagian peserta, pengalaman itu terasa sangat personal. Salah satunya Hidaya Al-Tattar, jurnalis yang ikut dalam majelis tersebut. Dalam sesi itu, ia berhasil membaca dua setengah juz Al-Quran.

“Saya berhasil membaca dua setengah juz dalam sesi itu,” katanya. “Perasaan saat melantunkan ayat-ayat Al-Quran sulit digambarkan. Mengikuti bacaan bersama dalam satu majelis adalah salah satu pengalaman terindah.”

Seperti banyak jurnalis lainnya di Gaza, Al-Tattar mengaku tekanan pekerjaan selama agresi genosida sempat membuatnya berhenti menghafal Al-Quran.

“Inisiatif ini mendorong saya kembali melanjutkan hafalan Al-Quran setelah sempat terhenti karena tekanan pekerjaan jurnalistik,” ujarnya. “Ini memberi dorongan baru hingga saya bisa menyelesaikan hafalan Al-Quran sepenuhnya.”

Jurnalis lain yang turut hadir, Alaa Al-Nimr, melihat kegiatan ini sebagai bagian dari tren sosial yang semakin berkembang di Gaza, terutama selama bulan Ramadhan.

“Inisiatif ini mendapat sambutan luas dari jurnalis perempuan karena memadukan pekerjaan media dengan kedekatan kepada Al-Quran,” katanya.

Setelah lebih dari dua tahun digempur genosida, banyak warga Gaza kini semakin mencari kekuatan dari iman.

“Setelah lebih dari dua tahun perang, banyak warga Gaza menemukan dalam Al-Quran tempat perlindungan spiritual, serta sumber kesabaran dan keteguhan,” ujar Al-Nimr.

Di seluruh Gaza, majelis sard Al-Quran kini menjadi pemandangan khas selama Ramadhan. Lingkaran kajian dan bacaan Al-Quran tetap berlangsung di masjid maupun ruang-ruang komunitas, meski kehidupan sehari-hari masih dihantui kesulitan akibat genosida.

“Pembacaan Al-Quran telah menjadi ciri khas Gaza, terutama pada bulan Ramadhan, dengan berbagai halaqah di masjid-masjid,” kata Al-Nimr. “Partisipasi para jurnalis sejalan dengan gerakan Qurani yang berkembang di wilayah ini.”

Di tempat di mana para jurnalis biasanya menghabiskan waktu mendokumentasikan kehancuran dan kehilangan, majelis ini menghadirkan sesuatu yang berbeda: sejenak ketenangan, kebersamaan dalam iman, dan ketangguhan yang tumbuh dari harapan.

*Bashaer Abu Muammar adalah seorang jurnalis yang berbasis di Gaza. Dia menyumbangkan laporan ini kepada Pusat Informasi Palestina.

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami