Beranda / Palestina / Fatima Al-Ajam Berjuang Dampingi Sang Ibu di Tengah Krisis Parah Oksigen di Gaza
Kabar Palestina
25 Agu 2026

Fatima Al-Ajam Berjuang Dampingi Sang Ibu di Tengah Krisis Parah Oksigen di Gaza

Fatima Al-Ajam Berjuang Dampingi Sang Ibu di Tengah Krisis Parah Oksigen di Gaza
Bagikan:

GAZA (PIC) – “Ibu saya sesak napas sepanjang hari, 24 jam. Kami berusaha memberinya oksigen sebanyak yang kami bisa. Tapi kalau oksigennya habis, kami harus berbuat apa?”

Dengan suara bergetar dan air mata yang tak mampu dibendung, Fatima Al-Ajam menggambarkan kondisi ibunya yang sudah lanjut usia, Hanan Al-Ajam—seorang perempuan yang tubuhnya terkikis penyakit dan kehilangan seluruh anaknya akibat genosida ‘Israel’ di Gaza. Kini, Hanan sangat mengandalkan sisa oksigen dalam sebuah tabung di rumah sakit di Kota Gaza.

Fatima tidak sedang berbicara tentang kemewahan yang hilang atau pengobatan yang masih bisa ditunda. Ia berbicara tentang oksigen—sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk membuat jantung terus berdetak, paru-paru tetap bekerja, dan mata tetap terbuka menatap kehidupan.

Fatima menceritakan bagaimana perang perlahan menggerogoti kondisi ibunya. Di tengah masa genosida, berbagai penyakit terus bermunculan. Sementara persediaan medis di sekelilingnya semakin menipis hingga hampir semuanya menjadi langka: obat-obatan, albumin, tempat tidur rumah sakit, peralatan medis, hingga oksigen.

Fatima mengatakan ibunya kini terus-menerus mengalami sesak napas. Keluarga melakukan segala upaya untuk mendapatkan pasokan oksigen. Karena jika oksigen itu habis, napas ibunya bisa terhenti kapan saja.

Dengan getir, Fatima menceritakan kondisi Hanan, yang tubuhnya tak lagi mampu menahan kekurangan dan penyakit yang terus menggerogoti. Para dokter berupaya memenuhi kebutuhannya di tengah rumah sakit yang juga kekurangan hampir segala sesuatu.

Fatima mengatakan ibunya membutuhkan peralatan dan perlengkapan medis dasar. Namun, bahkan kebutuhan paling sederhana kini sulit didapatkan. Setiap kali, keluarga itu kembali dihadapkan pada pertanyaan yang sama: Di mana kami bisa mendapatkan apa yang dibutuhkan ibu kami?

Fatima terdiam sejenak. Lalu muncul sebuah pertanyaan dari lubuk hatinya—lebih berat daripada semua kata yang telah ia ucapkan sebelumnya: “Siapa yang akan mendapatkannya?”

Pertanyaan itu bukan hanya milik Fatima. Itulah pertanyaan ribuan pasien di Gaza yang hidup di ambang kehabisan oksigen dan obat-obatan, sementara kemampuan rumah sakit untuk menyelamatkan mereka terus menyusut dari hari ke hari.

Di Rumah Sakit Al-Shifa, Kota Gaza, pasien tetap menjalani perawatan di tengah peringatan tentang krisis pasokan oksigen yang kian parah. Sumber-sumber Palestina menyebut 22 dari 34 stasiun produksi oksigen di Gaza telah berhenti beroperasi, sementara kekhawatiran meningkat bahwa stasiun utama rumah sakit juga dapat menyusul.

Bukan Sekadar Gangguan Teknis

Krisis ini bukan sekadar gangguan teknis sementara. Stasiun-stasiun yang masih beroperasi dipaksa bekerja melampaui kapasitas, sementara kerusakan terus bertambah dan suku cadang serta perlengkapan pemeliharaan tak kunjung tersedia. Padahal, bagi rumah sakit, oksigen kini sama vitalnya dengan tali penyelamat bagi orang yang tenggelam.

Kementerian Kesehatan Palestina memperingatkan dampak serius akibat berhentinya sebagian besar stasiun produksi oksigen di rumah sakit Gaza. Terhambatnya pasokan suku cadang dan peralatan pemeliharaan yang dibutuhkan untuk memperbaikinya mengancam kelangsungan pasokan oksigen di seluruh Gaza.

Sumber-sumber medis mengatakan krisis oksigen semakin menguras kapasitas operasional rumah sakit yang tersisa dan menempatkan puluhan pasien serta korban luka dalam bahaya yang mengancam nyawa, terutama mereka yang dirawat di unit-unit yang tidak dapat berfungsi tanpa pasokan oksigen.

Krisis tersebut berdampak pada 72 unit perawatan intensif, 54 unit perawatan bayi prematur dan bayi baru lahir, serta 19 unit perawatan intensif anak, di tengah semakin terbatasnya kemampuan rumah sakit memberikan dukungan pernapasan yang esensial.

Kementerian Kesehatan memperingatkan bahwa dengan sebagian besar stasiun produksi oksigen tidak lagi berfungsi dan fasilitas yang tersisa dipaksa bekerja melampaui kapasitas maksimal, sistem kesehatan Gaza kian mendekati titik keruntuhan—dengan dampak yang akan sulit dipulihkan.

Sebelumnya, isikorian telah memperingatkan isiko lumpuh totalnya pasokan oksigen di Gaza. Stasiun-stasiun yang masih beroperasi telah mencapai batas kemampuan, sementara kerusakan terus terjadi dan tim pemeliharaan tidak dapat melakukan perbaikan yang diperlukan.

Di Balik Angka, Ada Wajah-Wajah Manusia

Ada seorang ibu seperti Hanan Al-Ajam, yang berjuang mempertahankan setiap tarikan napas. Ada pula putrinya, Fatima, yang duduk di sisinya, cemas menghitung waktu dan terus memantau persediaan oksigen.

Ada bayi yang membutuhkan inkubator, pasien di ruang perawatan intensif, korban luka yang menunggu alat bantu pernapasan, dan pasien lain yang tak punya pilihan selain menunggu tabung oksigen baru—yang belum tentu datang.

Di Gaza, pertanyaannya bukan lagi sekadar: Bagaimana mengobati orang sakit? Dalam sejumlah kasus, pertanyaannya berubah menjadi: Bagaimana menyediakan cukup oksigen agar mereka tetap hidup?

Ketika oksigen tak lagi tersedia bagi rumah sakit yang terkepung, perang tidak hanya menghantam tubuh melalui bombardir. Perang juga mengepung tubuh dengan merampas kebutuhan paling mendasar untuk bertahan hidup, menjerumuskan pasien ke dalam situasi kejam yang tak memberi mereka jalan keluar.

Fatima bertawakkal menghadapi kenyataan itu. Tak ada yang bisa ia berikan kepada ibunya selain do’a dan upaya mendapatkan apa pun yang masih mungkin diperoleh.

“Ini ketidakadilan,” katanya dengan suara yang dipenuhi amarah dan kepedihan. “Ketidakadilan yang begitu mengerikan.”

Dunia Menyaksikan Gaza Kesulitan Bernapas

Di sisi lain, dunia hanya menyaksikan ketika pasien Gaza semakin sulit bernapas. Fatima tidak meminta keajaiban untuk menyelamatkan ibunya. Ia hanya meminta oksigen, obat-obatan, tempat tidur rumah sakit, dan perlengkapan medis yang dapat memberinya kesempatan untuk terus hidup.

Namun, bahkan kebutuhan dasar tersebut kini terasa seperti harapan yang semakin jauh di Gaza; seiring pembatasan masuknya peralatan, suku cadang, dan pasokan medis penyelamat nyawa terus berlangsung.

Di Gaza yang terkepung, para pasien masih menanti dunia bertindak sebelum oksigen benar-benar habis. Sebelum pertanyaan Fatima, “Di mana saya bisa mendapatkan oksigen?”, kembali menjadi kesaksian atas tragedi yang sebenarnya dapat dicegah—jika mereka diberi hak paling dasar untuk bertahan hidup. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami