Beranda / Palestina / Gempuran Bom Renggut Pendengaran Ribuan Ahlu Syam Gaza
Kabar Palestina
12 Agu 2026

Gempuran Bom Renggut Pendengaran Ribuan Ahlu Syam Gaza

Gempuran Bom Renggut Pendengaran Ribuan Ahlu Syam Gaza
Bagikan:

GAZA (PIC) — Dampak agresi genosida di Gaza tidak hanya terlihat dari tingginya jumlah warga yang gugur dan korban luka, tetapi juga dari cedera yang diperkirakan membekas panjang pada ribuan warga Palestina.

Salah satu dampak yang kini semakin mengkhawatirkan adalah gangguan hingga kehilangan pendengaran akibat ledakan yang terus-menerus mengguncang wilayah tersebut.

Pengeboman yang intens dan gelombang tekanan dahsyat yang ditimbulkannya telah memicu lonjakan tajam kasus gangguan pendengaran di tengah runtuhnya sistem kesehatan Gaza dan minimnya layanan diagnosis maupun pengobatan.

Menurut perkiraan Kementerian Kesehatan, jumlah warga yang mengalami masalah pendengaran kini mencapai sekitar 55 ribu orang. Sebanyak 35 ribu di antaranya merupakan kasus baru sejak agresi pecah, sementara sebelum 7 Oktober 2023 jumlah penderita gangguan pendengaran diperkirakan sekitar 20 ribu orang.

Sebuah Ledakan yang Mengubah Perjalanan

Abu Ahmad Al-Masri (46), warga Kota Gaza, mengaku kehilangan sebagian besar kemampuan pendengarannya setelah sebuah agresi udara penjajah ‘Israel’ menghantam rumah yang berada tepat di sebelah tempat tinggalnya.

“Sesaat setelah ledakan terjadi, saya merasakan dengingan yang sangat kuat di telinga, dan sejak itu saya tidak bisa mendengar seperti sebelumnya,” ujarnya. “Saya sering meminta orang mengulangi perkataan mereka, bahkan terkadang tidak memahami apa yang mereka katakan, terutama di tempat yang ramai.”

Ia mengatakan telah mendatangi beberapa pusat layanan kesehatan untuk mendapatkan bantuan. Namun, keterbatasan fasilitas dan peralatan membuat penanganan yang dibutuhkan sulit diperoleh.

“Tidak ada peralatan maupun alat bantu dengar yang tersedia. Akhirnya saya harus hidup dengan kondisi ini, meski sangat memengaruhi pekerjaan dan kehidupan sehari-hari saya,” katanya.

Menanti Kesempatan untuk Mendengar Kembali

Kondisi serupa dialami putra Umm Mohammad yang baru berusia delapan tahun. Sang anak mengalami gangguan pendengaran berat setelah penjajah mengebom kawasan tempat keluarganya mengungsi.

“Setelah pengeboman itu, dia tidak lagi merespons ketika saya memanggilnya. Awalnya saya mengira dia mengalami trauma psikologis,” tuturnya. “Namun setelah diperiksa, dokter memastikan bahwa dia mengalami gangguan pendengaran yang parah.”

Umm Mohammad mengatakan putranya seharusnya menjalani perawatan medis dan kemungkinan operasi implan koklea untuk memulihkan kemampuan mendengarnya. Namun, agresi genosida telah menghancurkan fasilitas dan layanan yang dibutuhkan.

“Saya khawatir dia kehilangan masa depannya. Sekarang dia tidak lagi bisa mendengar dan berinteraksi dengan teman-teman sebayanya seperti dulu,” ujarnya.

Trauma Akustik Akut

Konsultan spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT), Dr. Mohammad Al-Khatib, menjelaskan bahwa ledakan akibat pengeboman dapat menyebabkan kondisi yang dikenal dalam dunia medis sebagai trauma akustik akut.

Menurutnya, gelombang tekanan yang muncul secara tiba-tiba dapat memecahkan gendang telinga atau merusak sel-sel sensorik yang sangat halus di dalam koklea (rumah siput), sehingga berpotensi menyebabkan kehilangan pendengaran permanen.

Al-Khatib mengatakan sebagian besar kasus berupa kehilangan pendengaran sebagian yang disertai dengingan terus-menerus di telinga (tinnitus) dan kesulitan memahami percakapan.

Adapun kehilangan pendengaran total umumnya terjadi pada mereka yang berada sangat dekat dengan pusat ledakan. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh kerusakan saraf pendengaran, hancurnya sel-sel sensorik di dalam koklea, maupun cedera langsung pada kepala akibat ledakan.

Perjalanan Diagnosis yang Tidak Mudah

Al-Khatib menjelaskan bahwa diagnosis cedera pendengaran memerlukan pemeriksaan klinis oleh dokter THT, yang kemudian dilanjutkan dengan berbagai tes khusus seperti timpanometri, tes emisi otoakustik (OAE), audiometri nada murni, serta tes respons batang otak auditori (ABR) yang sangat penting bagi anak-anak dan kasus yang sulit dievaluasi.

Penanganan gangguan pendengaran bergantung pada tingkat keparahan cedera dan kecepatan intervensi medis. Selain terapi dan tindakan bedah, alat bantu dengar dapat digunakan untuk kasus ringan hingga sedang. Sementara implan koklea menjadi pilihan utama bagi penderita gangguan pendengaran berat atau total.

Namun, agresi yang terus berlangsung dan kelangkaan peralatan medis membuat layanan tersebut semakin sulit diakses. Menurut Al-Khatib, kerusakan klinik dan peralatan diagnostik akibat serangan telah menghentikan sebagian besar layanan spesialis pendengaran di Gaza.

Selain itu, hancurnya perangkat implan koklea beserta aksesori dan suku cadangnya telah menghilangkan kesempatan puluhan anak yang sebelumnya menunggu operasi untuk mendapatkan kembali kemampuan mendengar mereka. Kondisi ini terjadi ketika jumlah korban terus bertambah dari hari ke hari.

Dampak kehilangan pendengaran pun tidak berhenti pada aspek kesehatan semata. Para korban kejahatan zionis menghadapi hambatan dalam berkomunikasi, belajar, dan bekerja, yang pada akhirnya memengaruhi kehidupan sosial, pendidikan, dan kondisi psikologis mereka.

Para ahli memperingatkan bahwa jika agresi genosida terus berlanjut, jumlah penderita gangguan pendengaran akan terus meningkat. Kehilangan pendengaran dikhawatirkan berkembang menjadi salah satu krisis kesehatan senyap paling serius yang akan membayangi wilayah Gaza selama bertahun-tahun mendatang. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami