Beranda / Palestina / Inisiatif ‘Read’ Hadirkan Harapan bagi Anak-Anak Muhajirin di Tenda-Tenda Gaza
Kabar Palestina
29 Jun 2026

Inisiatif ‘Read’ Hadirkan Harapan bagi Anak-Anak Muhajirin di Tenda-Tenda Gaza

Inisiatif ‘Read’ Hadirkan Harapan bagi Anak-Anak Muhajirin di Tenda-Tenda Gaza
Bagikan:

GAZA (PIC) – Di tengah kehancuran besar yang melanda sektor pendidikan di Gaza, berbagai inisiatif lokal berupaya mengisi kekosongan yang ditinggalkan perang dengan menyediakan kesempatan belajar alternatif bagi anak-anak yang hidup dalam pengungsian.

Salah satu upaya tersebut adalah inisiatif “Read” yang dijalankan di Khan Yunis, Gaza Selatan. Program ini hadir dengan tujuan sederhana namun sangat penting: menjaga agar pendidikan tetap hidup meski berada di tengah kondisi yang sangat sulit.

Kegiatan belajar berlangsung di dalam tenda-tenda pengungsian di kawasan Al-Mawasi, sebelah barat Khan Yunis. Di sana, anak-anak berkumpul bersama ibu mereka dalam kelompok-kelompok belajar yang dirancang untuk mengembalikan kemampuan dasar membaca dan menulis. Selain itu, program ini juga memberikan dukungan psikologis dan sosial bagi para peserta, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera Mubasher.

Mustafa Thaher, pendiri sekaligus salah satu pengawas program, mengatakan bahwa inisiatif tersebut lahir sebagai respons terhadap kemerosotan pendidikan yang dialami anak-anak muhajirin akibat perang dan perpindahan paksa yang berulang kali mereka alami. Program tersebut melayani sekitar 180 siswa dan siswi yang dibagi ke dalam tiga kelompok belajar.

Thaher menjelaskan bahwa tujuan program tidak hanya terbatas pada dukungan akademik. Inisiatif ini juga berusaha membantu pemulihan psikologis anak-anak yang selama berbulan-bulan kehilangan akses pendidikan dan mengalami penurunan kemampuan dasar mereka.

Namun, perjalanan program ini tidak mudah. Berbagai tantangan terus dihadapi, mulai dari minimnya meja belajar, alat tulis, hingga bahan ajar. Proses pembelajaran yang harus dilakukan di dalam tenda dengan kondisi cuaca yang keras juga menjadi hambatan tersendiri. Meski demikian, para pengelola meyakini bahwa keberlangsungan pendidikan itu sendiri merupakan bentuk keteguhan dan perlawanan terhadap dampak perang.

Guru Najah Awwad, yang turut mengajar dalam program tersebut, mengatakan bahwa proses belajar mengandalkan metode sederhana dan interaktif agar anak-anak dapat mengenal huruf serta memahami konsep-konsep dasar dengan cara yang sesuai dengan realitas kehidupan mereka saat ini.

Ia menambahkan bahwa keterbatasan ruang, bertambahnya jumlah peserta didik, serta minimnya sarana pendidikan menjadi tantangan yang harus dihadapi setiap hari. Namun, tingginya antusiasme peserta menunjukkan besarnya kebutuhan keluarga-keluarga muhajirin untuk mengembalikan pendidikan anak-anak mereka.

Menariknya, peserta program ini tidak hanya berasal dari kalangan anak-anak. Sejumlah perempuan lanjut usia juga ikut bergabung karena keinginan untuk melanjutkan pendidikan yang sempat terputus sekaligus membantu mendampingi anak dan cucu mereka belajar.

Umm Mohammad al-Ajeili mengaku menemukan secercah harapan melalui pendidikan, meskipun ia kehilangan sejumlah anggota keluarganya akibat agresi genosida. Ia berharap kesulitan yang mereka alami segera berakhir dan kehidupan dapat kembali berjalan normal.

Sementara itu, Umm Taysir mengatakan bahwa keikutsertaannya bertujuan membantu anak-anaknya mengejar ketertinggalan pendidikan yang mereka alami selama perang. Ia juga menyerukan dukungan yang lebih besar bagi para siswa dan guru yang berjuang dalam kondisi serba terbatas.

Kesaksian anak-anak peserta program turut menggambarkan dampak positif inisiatif tersebut. Nagham, seorang anak berusia enam tahun, mengatakan bahwa kini ia sudah mampu membaca dan menulis beberapa kata; setelah sebelumnya gagal menyelesaikan pendidikan taman kanak-kanak akibat perang.

Anak lainnya, Uswa, mengaku sedang mempelajari Qaida Nooraniyah dan berharap tersedia kursi-kursi belajar yang layak bagi para siswa. Sementara itu, Louay mengungkapkan kegembiraannya karena dapat belajar di dalam tenda dan memperoleh pengetahuan baru.

Inisiatif “Read” merupakan bagian dari rangkaian upaya masyarakat sipil yang digagas para guru dan relawan di Gaza untuk menghadapi dampak perang terhadap dunia pendidikan. Upaya-upaya tersebut muncul setelah ratusan sekolah hancur akibat serangan, sementara sebagian lainnya dialihfungsikan menjadi tempat penampungan para muhajirin.

Melalui berbagai keterbatasan, para penggagas program berupaya mempertahankan hak anak-anak untuk memperoleh pendidikan, sekaligus menjaga agar harapan mereka terhadap masa depan tidak ikut terkubur oleh agresi genosida. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami