GAZA (PIC) – Nama Izz al-Din al-Haddad, atau yang dikenal dengan Abu Sohaib, selama bertahun-tahun menjadi salah satu sosok paling misterius di tubuh Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas.
Ia jarang muncul di hadapan publik, nyaris tak pernah tampil di media, namun berada di balik berbagai operasi militer dan keamanan penting Hamas di Gaza. Karena misterius dan sulit dilacak itulah, media ‘Israel’ menjulukinya sebagai “The Ghost” atau “Sang Hantu”.
Kini, perjalanan panjang salah satu komandan lapangan paling berpengaruh Al-Qassam itu berakhir setelah ia syahid – In syaa Allah dalam serangan udara ‘Israel’ yang menargetkannya di Kota Gaza pada Jum’at (15/5/2026).
Kepergiannya menutup satu bab penting dalam sejarah tokoh yang selama ini dikenal berperan besar membangun kekuatan militer Al-Qassam dan memimpin konfrontasi melawan penjajah ‘Israel’ di masa-masa paling sulit yang dialami Gaza.
Tumbuh dari Gaza, Memimpin Brigade Al-Qassam
Izz al-Din al-Haddad lahir di Kota Gaza pada tahun 1970. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh militer senior yang tumbuh melalui perjalanan panjang kerja organisasi dan operasi militer secara rahasia di tubuh Hamas.
Namanya mencuat luas sebagai komandan Brigade Gaza dalam Brigade Al-Qassam — salah satu unit paling penting karena berada di jantung Kota Gaza, wilayah yang memiliki nilai politik, keamanan, dan militer sangat strategis.
Selama bertahun-tahun, al-Haddad memainkan peran penting dalam membangun kembali kemampuan tempur Al-Qassam. Termasuk pengembangan strategi perang perkotaan, jaringan terowongan, hingga operasi keamanan yang kompleks.
Berbeda dengan sejumlah pemimpin Hamas lainnya, al-Haddad dikenal hampir tidak pernah tampil di ruang publik. Ia menjalani kehidupan dengan tingkat kerahasiaan sangat tinggi dan minim jejak terbuka, membuatnya menjadi salah satu figur paling sulit dikenali di Al-Qassam.
Penjajah ‘Israel’ telah lama memasukkan namanya dalam daftar target pembunuhan. Namun selama bertahun-tahun dan dalam berbagai perang di Gaza, ia berkali-kali dilaporkan selamat dari upaya pembunuhan zionis.
Kombinasi antara perannya yang strategis dan kemampuannya menghindari perburuan itulah yang membuat media ‘Israel’ menjulukinya sebagai “Sang Hantu” — sosok yang mengendalikan berbagai operasi sensitif Hamas tanpa pernah benar-benar terlihat.
Menjadi Otak Lapangan Pasca “Badai Al-Aqsa”
Nama Izz al-Din al-Haddad semakin mencuat di media ‘Israel’ setelah Operasi “Badai Al-Aqsa” (Taufan Al-Aqsha) pada 7 Oktober 2023. Zionis menilai ia sebagai salah satu tokoh paling penting yang memimpin pertempuran di Gaza City dan wilayah utara Gaza.
Di tengah perang yang terus berlangsung dan gugurnya sejumlah petinggi Brigade Al-Qassam akibat serangan zionis, al-Haddad disebut memainkan peran sentral dalam mengatur operasi tempur dan koordinasi antarunit lapangan.
Lembaga keamanan ‘Israel’ bahkan menganggapnya sebagai salah satu otak militer paling solid di tubuh sayap militer Hamas. Pengalaman panjangnya di bidang keamanan dan kemampuannya mempertahankan jaringan komando di tengah perang dan pemburuan intensif membuat sosoknya dipandang sangat berpengaruh dalam struktur Al-Qassam.
Namun perang juga merenggut keluarga dekatnya. Dua putranya, Sohaib dan Momen, gugur syahid lebih dahulu dalam pertempuran “Badai Al-Aqsa”. Pada Jumat malam, 15 Mei, al-Haddad menyusul keduanya setelah menjadi target serangan ‘Israel’ bersama istrinya dan putrinya.
Perburuan Panjang
Selama bertahun-tahun, Izz al-Din al-Haddad menjadi target utama badan keamanan ‘Israel’. Namanya masuk dalam daftar buronan paling dicari. ‘Israel’ meyakini al-Haddad merupakan salah satu pilar utama kepemimpinan lapangan dan militer Hamas di Gaza.
Dengan gugurnya al-Haddad, bertambah lagi deretan tokoh militer Brigade Al-Qassam yang menjadi sasaran operasi pembunuhan ‘Israel’ dalam upaya melemahkan struktur militer Hamas. Meski hampir tak pernah tampil di media, nama Izz al-Din al-Haddad tetap menjadi perhatian utama dalam perhitungan keamanan ‘Israel’.
Ia dikenal sebagai sosok yang mengendalikan medan pertempuran dari balik bayang-bayang — memimpin perang dalam senyap hingga akhir hayatnya. (PIC)