Beranda / Palestina / Jurnalis di Gaza Terus Menjadi Korban: “Dulu Saya Menceritakan Kisah Orang Lain, Sekarang Saya Bagian dari Cerita Itu”
Kabar Palestina
12 Agu 2026

Jurnalis di Gaza Terus Menjadi Korban: “Dulu Saya Menceritakan Kisah Orang Lain, Sekarang Saya Bagian dari Cerita Itu”

Jurnalis di Gaza Terus Menjadi Korban: “Dulu Saya Menceritakan Kisah Orang Lain, Sekarang Saya Bagian dari Cerita Itu”
Bagikan:

Sekira 50 jurnalis di Gaza sangat membutuhkan perjalanan ke luar wilayah itu untuk mendapatkan perawatan medis. Sebagian mengalami luka akibat perang, sementara lainnya menderita penyakit yang kondisinya memburuk selama konflik berlangsung. [Abdelhakim Abu Riash/Al Jazeera]

GAZA (Al Jazeera) – Setiap hari, jurnalis foto Mohammed al-Qahouji berusaha melanjutkan hidup yang nyaris direnggut perang. Fotografer lepas berusia 40 tahun itu masih menanggung nyeri di rahang, tangan, dan punggung setiap kali menjalankan tugas jurnalistik.

Luka-luka tersebut berasal dari agresi udara ‘Israel’ pada 7 Januari 2024 saat ia meliput evakuasi jenazah di Gaza selatan bersama jurnalis Al Jazeera, Hamza al-Dahdouh dan Mustafa Abu Thuraya. Ketika hendak kembali ke mobil, pesawat perang ‘Israel’ menyerang tim media tersebut, menewaskan al-Dahdouh dan Abu Thuraya serta melukai al-Qahouji.

“Kami tidak pernah membayangkan jurnalis yang meliput dampak serangan justru menjadi sasaran,” ujar al-Qahouji kepada Al Jazeera.

Ia mengaku sempat dikira tewas oleh petugas medis. “Mereka meletakkan saya di atas jenazah Hamza al-Dahdouh. Baru kemudian mereka menyadari saya masih hidup,” katanya.

Tertahan di Gaza

Ledakan itu merobek wajah al-Qahouji dari area mata hingga pembuluh arteri utama. Dokter memasang pelat titanium di tulang pipinya. Sementara satu jari tangan kanannya harus diamputasi akibat kerusakan parah pada tendon dan persendian.

Cedera tulang belakang juga membuat kedua kaki bagian bawahnya mati rasa sehingga ia kesulitan berdiri atau berjalan lama. Hingga kini ia telah menjalani lebih dari 25 operasi, namun masih membutuhkan operasi rekonstruksi dan rehabilitasi jangka panjang yang hanya tersedia di luar Gaza.

Sejak rumahnya hancur akibat pengeboman pada November 2023, ia tinggal di apartemen sewaan sederhana. Di tengah keterbatasan fisik, ia dihadapkan pada pilihan sulit antara tetap meliput perang atau meninggalkan Gaza demi menjalani pengobatan.

“Saya ingin bekerja lagi. Ini satu-satunya sumber penghasilan saya, tetapi cedera telah merenggut hampir 90 persen kemampuan saya untuk bekerja. Impian saya sekarang hanya mendapatkan pengobatan dan kembali ke lapangan,” ujarnya.

Desakan Evakuasi Medis

Puluhan anggota Sindikat Jurnalis Palestina (PJS) menggelar aksi duduk di Kota Gaza. Mereka menuntut evakuasi medis bagi jurnalis yang terluka dan sakit. Mereka membawa foto sebagian dari 263 pekerja media yang tewas akibat gempuran zionis ‘Israel’ selama perang.

Sekretaris Jenderal PJS, Ahed Farwana, mengatakan lebih dari 40 jurnalis Palestina saat ini mengalami cedera serius atau penyakit yang memerlukan perawatan di luar Gaza.

Menurutnya, organisasi telah menyerahkan dokumen medis kepada berbagai organisasi internasional dan mendesak mereka memfasilitasi evakuasi para jurnalis, serta menjamin hak mereka untuk kembali setelah menjalani pengobatan.

“Hak memperoleh perawatan medis adalah hak dasar manusia. Hak itu tidak boleh dicabut karena perang, pengepungan, atau pembatasan pergerakan,” tegas Farwana.

PJS menyatakan penjajah ‘Israel’ merupakan biang kerok terhambatnya keberangkatan para jurnalis, sekaligus mengkritik organisasi internasional yang dinilai hanya mengeluarkan pernyataan keprihatinan tanpa tindakan nyata.

“Para jurnalis telah mendokumentasikan perang ini sejak hari pertama dengan isiko besar. Kini banyak dari mereka hanya meminta kesempatan untuk bertahan hidup,” kata Farwana.

Hidup Bersama Penyakit

Jurnalis foto Moaz al-Salhi (34) juga ikut dalam aksi tersebut. Untuk bisa berdiri selama kegiatan berlangsung, ia harus mengonsumsi beberapa obat pereda nyeri. “Saya ingin memperjuangkan hak saya. Saya tidak akan pasrah menunggu kematian,” katanya.

Al-Salhi didiagnosis menderita penyakit Crohn yang parah pada 2022 dan dijadwalkan menjalani terapi biologis pada Oktober 2023. Namun pecahnya perang membuat pengobatan itu batal.

Sejak saat itu, kondisinya terus memburuk. Hampir setiap pekan ia kehilangan kesadaran dan harus dilarikan ke rumah sakit. “Saya terus berusaha melawan penyakit ini agar tetap bisa bekerja. Namun setiap kali merasa membaik, saya kembali tumbang,” ujarnya.

Kini ia membawa obat-obatan bersama perlengkapan kameranya saat bertugas. Bahkan, ada kalanya ia meliput dengan selang infus masih terpasang di tangan.

“Dulu saya menceritakan kisah orang lain. Sekarang saya menjadi bagian dari cerita itu. Saya yang membutuhkan pengobatan,” katanya.

Berat badannya terus turun dan tubuhnya semakin lemah setiap kali penyakitnya kambuh. Ia dan keluarganya khawatir kondisinya akan mencapai titik yang tidak dapat dipulihkan jika tetap terjebak di Gaza tanpa perawatan khusus.

Berjuang Keluar dari Gaza

Bagi al-Salhi, meninggalkan Gaza kini menjadi kebutuhan mendesak. “Saya tidak meminta sesuatu yang luar biasa. Saya hanya ingin kesempatan untuk berobat, kembali kepada keluarga, dan bekerja lagi di bidang yang saya cintai,” ujarnya.

Namun seperti ribuan pasien lainnya, ia menghadapi berbagai hambatan untuk mendapatkan perawatan yang dapat menyelamatkan nyawa di luar negeri.

Penjajah ‘Israel’ memberlakukan pengepungan ketat terhadap Gaza dan membatasi akses keluar-masuk wilayah tersebut. Di saat yang sama, kerusakan besar pada fasilitas kesehatan membuat banyak penyakit dan cedera yang seharusnya bisa ditangani di Gaza kini tidak lagi dapat diobati.

Menurut WHO, lebih dari 18.500 pasien di Gaza membutuhkan evakuasi medis mendesak untuk mendapatkan layanan kesehatan khusus yang tidak tersedia di wilayah tersebut.

Sejak genosida dimulai, hanya sebagian kecil yang berhasil keluar melalui mekanisme evakuasi medis yang terbatas, sementara ribuan lainnya masih menunggu. Pelintasan Rafah, jalur utama pasien Gaza menuju pengobatan di luar negeri, hanya dibuka secara terbatas dan berkala untuk sejumlah kecil pasien yang menuju Mesir atau negara lain.

Lembaga-lembaga kemanusiaan berulang kali memperingatkan bahwa pembatasan pergerakan telah menghambat akses pengobatan bagi pasien dengan cedera serius, penyakit kronis, dan kondisi medis yang memerlukan perawatan khusus di luar Gaza. (Al Jazeera)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami