GAZA (PIC) – Krisis kesehatan dan lingkungan di Gaza kian memburuk. Ribuan keluarga pengungsi yang kehilangan rumah akibat genosida kini terpaksa tinggal di tenda-tenda darurat di dekat tumpukan sampah. Mereka terpaksa menyusuri limbah demi mencari apa pun yang bisa membantu mereka bertahan.
Otoritas setempat yang menangani pengelolaan limbah padat memperingatkan ancaman bencana yang semakin dekat. Gunungan sampah terus menumpuk di jalanan, kawasan permukiman, hingga kamp pengungsian. Di sisi lain, pemerintah kota kesulitan menangani situasi karena keterbatasan sumber daya yang parah.
Krisis ini diperparah oleh ketidakmampuan petugas kebersihan menjangkau tempat pembuangan akhir di wilayah timur – akibat keberadaan serdadu penjajah – serta minimnya peralatan dan bahan bakar. Akibatnya, proses pengumpulan, pengangkutan, hingga pengolahan sampah nyaris lumpuh.
Ancaman Penyebaran Penyakit
Dewan Layanan Bersama untuk Pengelolaan Limbah di Gaza bagian tengah dan selatan memperingatkan, penumpukan sampah yang terus berlanjut dapat memicu wabah penyakit dalam skala luas, terutama di kamp-kamp pengungsian yang padat.
Ahmad al-Dureimli, kepala hubungan masyarakat Kota Gaza, mengungkapkan sekira 350.000 meter kubik sampah dan puing telah menumpuk di dalam Kota Gaza saja, menjadikannya ancaman serius bagi kesehatan.
Kerusakan infrastruktur juga memicu lonjakan populasi tikus dan serangga. Ia mengingatkan bahaya penggunaan pestisida tidak resmi justru dapat menambah risiko bagi warga.
Di sekitar tempat pembuangan, bau busuk menyengat bercampur asap pembakaran sampah. Serangga dan tikus berkembang biak tanpa terkendali, yang meningkatkan kerawanan penyebaran penyakit kulit dan gangguan pencernaan—terutama pada anak.
Situasi ini semakin memprihatinkan karena ribuan keluarga tinggal di tenda-tenda rapuh berbahan nilon dan kain, sementara blokade terus menghambat masuknya rumah darurat dan material bangunan.
Ata Marouf, pengungsi dari Bayt Lahia di Gaza utara, mengatakan tinggal di dekat sampah kini menjadi kenyataan yang tak terhindarkan bagi banyak keluarga.
“Kami mengumpulkan kertas, plastik, dan potongan kayu untuk menyalakan api memasak karena tidak ada gas atau bahan bakar,” ujarnya. Ketiadaan pekerjaan memaksa banyak orang bekerja di tempat pembuangan sampah meski berisiko bagi kesehatan.
Ia juga mencatat penyakit kulit dan gatal-gatal semakin meluas, terutama di kalangan anak-anak.
Sejak agresi genosida di Gaza pecah pada Oktober 2023, perekonomian wilayah itu hancur. Bank Dunia mencatat tingkat pengangguran mencapai sekitar 80 persen, membuat sebagian besar keluarga sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Anak-Anak di Garis Paling Rentan
Di Kota Gaza, pemandangan anak-anak yang mengais tumpukan sampah demi mencari barang berguna—bahkan makanan—menjadi hal yang biasa.
Klasifikasi Ketahanan Pangan Terpadu (IPC) telah menetapkan kondisi kelaparan di Kota Gaza sejak Agustus 2025, dengan peringatan bahwa situasi ini dapat meluas ke wilayah lain seperti Deir al-Balah dan Khan Yunis.
Samir Wadie (13), mengaku sering terluka saat mencari barang di tumpukan sampah. “Kadang kami terpaksa makan apa yang kami temukan karena lapar,” katanya.
Kini, banyak keluarga hidup berdampingan dengan gunungan sampah tanpa akses memadai ke layanan kesehatan maupun sanitasi.
Shorouq Abdel Aal, seorang muhajirin perempuan, mengatakan anak-anaknya kerap sakit dan demam akibat lingkungan sekitar. “Serangga ada di mana-mana,” ujarnya. Ia bahkan mengaku terkadang memasak makanan yang ditemukan dari tempat sampah.
“Kami butuh tempat tinggal yang aman. Keluarga butuh lingkungan bersih, jauh dari kondisi seperti ini,” katanya penuh harap.
Sebelumnya, Direktur Regional WHO untuk Mediterania Timur, Hanan Balkhy, memperingatkan bahwa wabah penyakit di Gaza berpotensi meluas ke luar wilayah tersebut, terutama jika pembatasan bantuan terus berlanjut.
Meski gencatan senjata diberlakukan sejak Oktober 2025, pembatasan terhadap masuknya bantuan oleh penjajah zionis ‘Israel’ masih berlangsung. Upaya otoritas lokal dan tim pertahanan sipil mengatasi krisis terus terhambat keterbatasan sumber daya dan akses. (PIC)