Beranda / Palestina / Keluarga Sudah Menggelar Takziyah, Hamada al-Banna Pulang dalam Keadaan Hidup
Kabar Palestina
1 Agu 2026

Keluarga Sudah Menggelar Takziyah, Hamada al-Banna Pulang dalam Keadaan Hidup

Keluarga Sudah Menggelar Takziyah, Hamada al-Banna Pulang dalam Keadaan Hidup
Bagikan:

GAZA (Al Jazeera) – Kemunculan kembali Hamada al-Banna dalam keadaan hidup mengejutkan warga Gaza. Keluarganya telah lama mengira ia gugur dalam perang yang dimulai pada 2023. Bahkan keluarganya sempat menggelar prosesi takziyah dan berkabung untuknya hampir setahun lalu.

Kisah Hamada mencerminkan ujian berat ribuan keluarga Palestina yang hingga kini masih menunggu kepastian nasib anggota keluarga mereka yang hilang.

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat hampir 3.500 laporan orang hilang, sementara kelompok hak asasi manusia, termasuk Al-Dameer, memperkirakan jumlah sebenarnya mencapai 9.500 orang.

Pencarian Bantuan yang Berubah Menjadi Mimpi Buruk

Mimpi buruk Hamada bermula saat ia mencari bantuan pangan untuk keluarganya di dekat Pelintasan Zikim, Gaza Utara. Dalam kerumunan besar warga, ia terpisah dari saudaranya, Adham Yasser al-Banna, yang kemudian tewas ditembak serdadu ‘Israel’.

“Saya sedang pulang membawa sekantong tepung dan merasa senang berhasil mendapatkannya. Tiba-tiba seseorang menelepon dan mengatakan saudara saya telah terbunuh,” kenangnya.

Sebelumnya, Hamada juga kehilangan saudaranya yang lain, Amjad, sebulan sebelum kejadian itu. Saat bergegas mencari Adham, sebuah ledakan besar terjadi. “Kaki, tangan, dada, dan perut saya terluka. Seluruh tubuh saya mengalami cedera,” ujarnya.

Ia kehilangan kesadaran dan baru terbangun dua bulan kemudian dari koma di Pusat Medis Soroka, Beersheba, wilayah Palestina terjajah. Setelah dirawat selama enam bulan, Hamada dipindahkan ke penjara ‘Israel’ dan ditahan dalam sel isolasi selama empat bulan.

Menurutnya, pengalaman di penjara dipenuhi penyiksaan dan penderitaan yang sulit digambarkan. “Sebanyak apa pun saya bercerita, saya tidak akan mampu menggambarkan apa yang saya alami. Bagi saya, kematian terasa lebih baik daripada terus hidup dalam penyiksaan,” katanya.

Keluarga Mengira Hamada Sudah Meninggal

Setelah setahun berada dalam penjara ‘Israel’, Hamada akhirnya dibebaskan sekitar dua pekan lalu.

Selama masa kehilangannya, calon istrinya, Reem Jadallah, tidak pernah berhenti mencari kabar. Ia bahkan menjual perhiasan emasnya untuk membayar pengacara yang dapat menelusuri keberadaan Hamada setelah berbagai upaya memperoleh informasi resmi menemui jalan buntu.

Namun, enam bulan kemudian pengacara tersebut menyampaikan bahwa Hamada telah meninggal dunia. Keluarga yang berduka kemudian menggelar acara takziyah selama tiga hari, sekitar dua bulan sebelum Hamada dibebaskan.

Setelah bebas, Hamada langsung menelepon ayahnya. “Saya berkata, ‘Ayah, ini Hamada.’ Dia menjawab, ‘Anak saya sudah meninggal. Kami sudah mengadakan takziyah untuknya.’ Saya terus menangis dan meyakinkannya bahwa saya masih hidup. Dia bahkan bertanya, ‘Apakah kamu sedang mempermainkan saya?’” tuturnya.

Hamada kemudian meminta ayahnya menjemputnya di pelabuhan karena ia tiba bersama Komite Internasional Palang Merah (ICRC). Saat akhirnya pulang, ibunya pingsan dalam pelukannya.

“Hingga sekarang ibu masih sulit percaya saya benar-benar kembali. Ia mengatakan bahwa keluarga telah kehilangan harapan untuk bertemu saya lagi, seperti saudara-saudara saya yang telah gugur,” katanya.

Bebas, tetapi Trauma Tetap Membekas

Meski telah kembali ke rumah, Hamada mengaku masih dibayangi pengalaman selama di penjara. “Ya, saya bebas sekarang, tetapi saya bukan lagi orang yang sama seperti dulu.”

Ribuan Keluarga Masih Menunggu Kepastian

Tidak semua keluarga memperoleh akhir cerita seperti Hamada. Ribuan keluarga Palestina lainnya masih hidup dalam ketidakpastian.

Salah satunya keluarga Nafez Abed. “Menunggu kepastian nasib seorang tawanan jauh lebih menyakitkan daripada menerima kabar kematian,” kata ibunya, Aziza Abed.

Menurutnya, keluarga mereka terus terombang-ambing antara harapan dan ketakutan karena tidak ada informasi yang dapat memastikan nasib Nafez.

Bagi istrinya, Shaimaa Jundiya, dan keempat anak mereka, kepergian Nafez meninggalkan kekosongan yang sulit tergantikan.

Ia mengatakan anak-anak merindukan sosok ayah dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari. Putri mereka bahkan terus berdoa agar ayahnya kembali dengan selamat dan sering memandang sedih para ayah yang berjalan bersama anak-anak mereka.

Hidup di Antara Harapan dan Ketakutan

Di berbagai ruang publik Gaza, keluarga orang hilang rutin menggelar aksi duduk damai sambil membawa foto kerabat mereka dan menuntut pengungkapan resmi mengenai nasib mereka.

Direktur Asosiasi Waed untuk Tawanan dan Mantan Tawanan, Abdullah Qandil, mengatakan ribuan keluarga telah meminta organisasi internasional menekan ‘Israel’ agar memberikan informasi mengenai warga Gaza yang hilang.

Menurutnya, ketiadaan informasi hanya memperparah kesulitan psikologis dan kemanusiaan yang dialami keluarga-keluarga tersebut. (Al Jazeera)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami