GAZA (PIC) – Krisis pangan di Jalur Gaza kembali menjadi sorotan, seiring dengan dinamika di kawasan, yang bisa memperparah krisis kemanusiaan serta meningkatnya pembicaraan tentang kembalinya pelaparan dan pengurangan masuknya barang.
Warga Gaza dan organisasi kemanusiaan khawatir bahwa pengetatan pembatasan dan penurunan masuknya bantuan akan memperburuk kondisi kehidupan dan mengembalikan risiko kelaparan yang dialami warga Gaza.
Menurut laporan lapangan resmi dan sumber kemanusiaan, beberapa hari terakhir telah terjadi penurunan signifikan jumlah truk yang bermuatan pasokan makanan dan bahan bakar yang memasuki Gaza.
Yakni setelah pengetatan, terutama pelintasan Kerem Abu Salem, yang dianggap sebagai jalur perdagangan utama untuk masuknya barang ke Gaza.
Pada saat yang sama, pelintasan Rafah tetap ditutup sepenuhnya, membatasi masuknya bantuan kemanusiaan dan keluarnya pasien serta korban luka untuk perawatan di luar Gaza.
Pasar yang Terpuruk dan Krisis Beruntun
Para pekerja di bidang kemanusiaan mengkonfirmasi bahwa pengurangan masuknya barang dengan cepat mulai berdampak pada pasar lokal, di mana harga bahan makanan pokok telah meningkat tajam; terutama tepung, beras, dan minyak, bersamaan dengan penurunan jumlah bahan bakar dan gas untuk memasak.
Para pedagang di Gaza mengatakan bahwa beberapa barang secara bertahap mulai menghilang dari pasar. Sementara penduduk terpaksa membeli makanan dalam jumlah terbatas karena kenaikan harga yang signifikan dan penurunan daya beli.
Perkiraan oleh organisasi bantuan menunjukkan bahwa lebih dari 2 juta warga Palestina yang tinggal di Gaza bergantung pada bantuan kemanusiaan dalam berbagai tingkatan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari mereka.
Organisasi-organisasi itu memperingatkan bahwa kelanjutan pembatasan saat ini dapat mengembalikan Gaza ke kondisi kelaparan, terutama di tengah memburuknya kondisi ekonomi dan meningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan.
Dalam konteks yang sama, toko roti di Gaza menghadapi risiko berhenti beroperasi karena kekurangan tepung dan bahan bakar, yang dapat menyebabkan krisis roti yang parah dalam waktu singkat.
Sumber informasi mengatakan bahwa stok tepung yang tersedia di beberapa daerah hanya cukup untuk beberapa hari, sementara sebagian besar keluarga di Gaza mengandalkan roti sebagai makanan pokok sehari-hari.
Kekurangan bahan bakar mengancam akan mengganggu layanan dasar yang vital, karena rumah sakit, stasiun desalinasi air, dan fasilitas pembuangan limbah bergantung pada bahan bakar untuk mengoperasikan generator listrik di tengah pemadaman listrik yang terus-menerus.
Para ahli memperingatkan bahwa penghentian fasilitas-fasilitas ini dapat menyebabkan memburuknya kondisi kesehatan dan lingkungan serta meningkatkan risiko penyebaran penyakit, terutama di daerah padat penduduk dan pusat-pusat penampungan.
Kesibukan kekuatan internasional dengan perkembangan militer di kawasan tersebut telah melemahkan tekanan politik yang menuntut fasilitasi masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.
Ancaman bencana kemanusiaan
Perkiraan kemanusiaan menunjukkan bahwa Jalur Gaza membutuhkan lebih dari 600 truk pasokan makanan, obat-obatan, dan bahan bakar setiap hari untuk memenuhi kebutuhan minimum penduduk.
Tetapi jumlah yang masuk saat ini tidak melebihi 40% dari jumlah tersebut.Data resmi dan PBB mengungkapkan bahwa tingkat kemiskinan di Gaza telah mencapai sekitar 81,5 persen setelah agresi genosida Israel menyebabkan kerusakan infrastruktur, lahan pertanian, dan pabrik secara luas.
Pada Januari lalu, 37 NGO, termasuk Dokter Tanpa Batas, Save the Children, Oxfam, dan Dewan Pengungsi Norwegia, menerima pemberitahuan resmi dari penjajah yang mengindikasikan kemungkinan penangguhan izin mereka pada bulan Maret dengan dalih “persyaratan keamanan dan transparansi”.
Setelah 17 lembaga bantuan mengajukan banding terhadap keputusan tersebut, lembaga “peradilan” negara palsu mengeluarkan perintah sementara yang mengizinkan NGO untuk melanjutkan sebagian besar kegiatan mereka.
Dokter Tanpa Batas mengatakan bahwa penjajah terus memberlakukan pembatasan ketat terhadap penyediaan air, tempat tinggal, dan perawatan medis, sehingga penduduk tetap hidup dalam kondisi yang sulit. Sementara pelanggaran gencatan senjata Israel terus menewaskan dan melukai warga Palestina setiap hari.
Organisasi tersebut menambahkan bahwa volume bantuan kemanusiaan yang mencapai Gaza telah menurun secara signifikan dalam beberapa minggu terakhir. (PIC)
