London (PIC) – Di tengah perhatian dunia yang tersedot pada meluasnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, penjajah zionis ‘Israel’ terus berupaya menutupi kejahatan paling seriusnya.
Sorotan publik internasional mungkin tertuju pada dinamika geopolitik dan meningkatnya agresi zionis-Amerika di kawasan. Namun, di balik tembok-tembok penjara ‘Israel’, ribuan warga Palestina menghadapi kenyataan yang jauh dari sorotan kamera dan pemberitaan.
Penjara-penjara itu digambarkan oleh banyak pihak sebagai kuburan bagi orang-orang yang masih hidup dan rumah jagal manusia, tempat para tahanan mengalami perlakuan sistematis yang dinilai jauh dari standar kemanusiaan paling mendasar.
Kampanye Pita Merah (Red Ribbons Campaign) kini membunyikan alarm, mengingatkan dunia yang dinilai memilih bungkam. Menurut kampanye tersebut, di balik jeruji besi terdapat lebih dari 9.000 tahanan Palestina.
Dari jumlah itu, sekitar 350 di antaranya adalah anak-anak yang masa kecilnya direnggut. Selain itu, lebih dari 3.000 orang ditahan dalam status “tahanan administratif”—yakni dipenjara tanpa dakwaan resmi maupun proses peradilan.
Tahanan Perempuan: Disandera dalam Cengkeraman Teror
Sebanyak 66 perempuan Palestina saat ini mendekam di penjara ‘Israel’ dan menghadapi operasi penghancuran fisik serta psikologis secara sistematis.
Sebagian besar dari mereka ditahan dengan status “tahanan administratif”—yakni penahanan tanpa dakwaan—yang perintahnya terus diperpanjang tanpa proses hukum yang jelas.
Mereka bukan sekadar angka statistik. Di antara para tahanan itu terdapat dokter, akademisi, pengacara, hingga para ibu. Tiga di antaranya masih di bawah umur.
Beberapa lainnya adalah pasien kanker yang disebut menghadapi ancaman kematian perlahan akibat kekurangan gizi yang disengaja serta dugaan pengabaian medis berat.
Situasi yang mereka alami dinilai lebih menyerupai penyanderaan warga sipil ketimbang penahanan yang sah menurut hukum.
Hal ini terjadi ketika penjajah ‘Israel’ terus melanjutkan kejahatan yang secara efektif mengarah pada eksekusi perlahan terhadap para tahanan. Semua itu berlangsung di tengah keheningan internasional, serta minimnya respons dari sekutu-sekutu dekat maupun jauh.
Koordinator Red Ribbons Campaign, Adnan Hmidan, menegaskan bahwa meningkatnya konflik di kawasan tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan nasib para tahanan perempuan Palestina.
“Biarkan dunia mendengar ini dengan jelas: eskalasi di kawasan dan meluasnya agresi tidak akan dijadikan penutup untuk melupakan perempuan-perempuan kami yang dipenjara, atau membiarkan pendudukan menjadikan mereka sasaran,” ujarnya.
Hmidan menilai, yang dihadapi para tahanan bukan sekadar otoritas penjara biasa. “Ini adalah sistem yang menculik sandera dan menjadikan mereka alat tekanan politik dan psikologis,” katanya.
Ia juga menyoroti masih ditahannya dokter, akademisi, dan para ibu di bawah pengawasan sipir ‘Israel’. Menurutnya, mereka menghadapi ancaman eksekusi serta kelaparan yang disengaja—sebuah situasi yang ia sebut sebagai ujian bagi sisa nurani dunia.
“Debu rudal yang beterbangan di kawasan tidak akan menenggelamkan jeritan pasien kanker di balik sel penjara. Mobilisasi kami tidak akan berhenti sampai belenggu itu dipatahkan. Kebebasan adalah hak yang tak bisa ditunda, sebesar apa pun tantangannya,” tegas Hmidan. (PIC)
