GAZA (PIC) – Puing-puing di wilayah Gaza bukan lagi sekadar saksi bisu agresi genosida yang menghancurkan.
Puing-puing itu telah berubah menjadi tempat berkerja keras dan mencari penghasilan yang berbahaya bagi ribuan pemuda.
Mereka terpaksa menggali puing-puing untuk mencari apa pun yang bisa dijual, atau apa pun yang dapat menghentikan kelaparan anak-anak yang menunggu berakhirnya hari tanpa jaminan.
Menurut prakiraan terbaru, agresi zionis telah meninggalkan sekira 169 kilogram puing per meter persegi wilayah Gaza. Angka itu mencerminkan skala kehancuran besar yang telah memengaruhi sekira 193.000 bangunan, baik yang hancur total maupun sebagian.
70 Juta Ton Puing dan Tantangan Pemindahannya
Pemerintah Gaza memperkirakan jumlah puing yang terkumpul berkisar antara 65 hingga 70 juta ton, terus meningkat dari hari ke hari. Proses pemindahannya menjadi tantangan teknik, lingkungan, dan kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di balik angka-angka ini, tersembunyi kisah-kisah nyata para pria yang diubah oleh agresi genosida. Yakni dari buruh, perajin, dan mahasiswa menjadi pemulung yang menggali reruntuhan rumah mereka sendiri dan rumah tetangga mereka.
Abu Khaled Touman, 42 tahun, seorang ayah lima anak dari Gaza utara, mengatakan bahwa ia tidak pernah membayangkan pekerjaan sehari-harinya akan berganti menjadi mencari besi, tembaga, dan sisa-sisa kabel listrik di antara puing-puing.
“Dulu saya bekerja di bengkel aluminium. Sekarang, bengkel itu telah menjadi tumpukan batu. Saya tidak punya apa-apa selain puing-puing,” katanya sambil menyeka debu dari wajahnya.
Abu Khaled berangkat saat fajar membawa peralatan sederhana dan kembali saat matahari terbenam; hampir tidak mengumpulkan cukup uang untuk membeli roti.
Risiko Harian Mengancam
Risiko mengepung para pemuda ini dari segala arah: runtuhan tiba-tiba, amunisi yang belum meledak, debu beracun, dan kurangnya peralatan pelindung sama sekali. Tidak ada helm, tidak ada sarung tangan, dan tidak ada tim penyelamat di dekatnya.
Meskipun demikian, mereka terus bekerja, didorong oleh kebutuhan, bukan pilihan. Mohammed Al-Amassi, 27 tahun, seorang lulusan studi media, mengatakan perang telah merenggut mimpinya sama seperti merenggut rumahnya.
“Dulu saya bermimpi bekerja di bidang saya. Sekarang, saya menghitung hari saya berdasarkan kilogram, berapa kilogram besi yang saya kumpulkan? Berapa shekel yang akan saya hasilkan?”
Mohammed mencatat bahwa beberapa hari berlalu tanpa penghasilan sama sekali, tetapi berhenti bekerja bukanlah pilihan. “Kelaparan lebih berbahaya daripada puing-puing,” ujarnya.
Bahaya tidak hanya terbatas pada tubuh fisik; bahaya tersebut meluas hingga dampak psikologis yang mendalam.
Bekerja di antara reruntuhan rumah membangkitkan kenangan akan pengeboman dan kehilangan; menempatkan para pemuda ini dalam konfrontasi harian dengan gambaran kematian.
“Terkadang kami menemukan mainan anak-anak, buku catatan, foto keluarga. Saat itulah puing-puing menjadi lebih berat daripada batu,” kata Salim Mahna, 35 tahun, seorang ayah dari dua anak.
Tanpa rencana komprehensif untuk mengelola puing-puing atau menyediakan peluang kerja alternatif, aktivitas yang tidak diatur ini seolah menjadi kenyataan yang dipaksakan; yang mencerminkan kerapuhan kehidupan ekonomi dan sosial di Jalur Gaza.
Puing-puing itu bukan lagi sekadar hasil kehancuran; ia telah menjadi salah satu manifestasi berkelanjutan dari kehancuran tersebut.
Terlepas dari semua itu, para pemuda ini tidak menganggap diri mereka sebagai pahlawan atau korban; melainkan sebagai ayah dan saudara yang berusaha bertahan hidup.
Abu Khaled berkata sambil bersiap untuk hari kerja baru, “Kita tidak membangun dari puing-puing, kita hanya berusaha untuk bertahan hidup.” (PIC)