Beranda / Palestina / Khalil al-Hayya, Negosiator Gaza yang Kini Memimpin Hamas
Kabar Palestina
26 Jul 2026

Khalil al-Hayya, Negosiator Gaza yang Kini Memimpin Hamas

Khalil al-Hayya, Negosiator Gaza yang Kini Memimpin Hamas
Bagikan:

GAZA (PIC) – Senin (22/7/2026), Hamas mengumumkan terpilihnya Khalil al-Hayya sebagai kepala biro politik gerakan tersebut, menggantikan Yahya Sinwar yang syahid, In syaa Allah.

Nama al-Hayya mencuat selama genosida yang berlangsung di Gaza sebagai salah satu tokoh politik paling menonjol di Hamas. Ia memimpin perundingan tidak langsung dengan zionis ‘Israel’ serta memimpin delegasi Hamas dalam berbagai putaran mediasi regional di tengah meningkatnya tekanan internasional untuk mencapai gencatan senjata.

Sebelum terpilih sebagai pemimpin Hamas, al-Hayya merupakan anggota biro politik Hamas dan wakil kepala igure di Gaza. Ia dikenal sebagai igure yang memadukan aktivitas dakwah, akademik, dan politik, serta memainkan peran penting dalam sejumlah proses negosiasi terkait konflik Palestina-‘Israel’.

Memimpin Perundingan di Tengah Perang

Sejak pecahnya Operasi Taufan Al-Aqsha pada 7 Oktober 2023 dan genosida yang menyusul di Gaza, al-Hayya menjadi wajah utama Hamas dalam jalur diplomasi dan negosiasi.

Pada Februari 2024, ia memimpin delegasi Hamas ke Kairo untuk membahas upaya gencatan senjata. Setelah itu, ia terus memimpin tim negosiasi Hamas dalam pembicaraan tidak langsung dengan ‘Israel’ yang dimediasi Mesir dan Qatar, sebagaimana dilaporkan sejumlah media internasional dan pernyataan resmi Hamas.

Selain terlibat dalam pembahasan pertukaran tahanan, al-Hayya juga kerap tampil di media untuk menjelaskan posisi Hamas. Ia menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus menjamin penghentian penuh operasi militer dan pencabutan blokade terhadap Gaza.

Latar Belakang Pendidikan

Khalil Ismail al-Hayya lahir di Kota Gaza pada 5 November 1960. Ia tumbuh dalam keluarga Palestina yang mengalami dampak penjajahan zionis ‘Israel’ pasca-Perang 1967, termasuk penggerebekan dan penangkapan yang dialami anggota keluarganya.

Ia menempuh pendidikan dasar dan menengah di Gaza sebelum melanjutkan studi di Universitas Islam Gaza. Pada 1983, ia meraih gelar sarjana dalam bidang Ushuluddin.

Al-Hayya kemudian melanjutkan octorkan pascasarjana di Universitas Yordania dan memperoleh gelar magister di bidang Sunnah dan Ilmu Hadis pada 1986. Pada 1997, ia menyelesaikan program octor di bidang yang sama di Universitas Al-Quran Al-Karim dan Ilmu Pengetahuan Islam di Sudan.

Karier Akademik dan Politik

Karier profesional al-Hayya dimulai sebagai asisten dosen di Universitas Islam Gaza. Ia kemudian menduduki sejumlah posisi administratif hingga dipercaya sebagai dekan urusan kemahasiswaan pada 2001. Ia juga aktif dalam organisasi profesi dan pernah memimpin serikat pekerja universitas.

Di bidang politik, al-Hayya terpilih sebagai anggota Dewan Legislatif Palestina pada 2006 melalui daftar Perubahan dan Reformasi yang berafiliasi dengan Hamas. Ia kemudian memimpin blok parlemen Hamas dan menduduki sejumlah jabatan penting di dalam struktur gerakan, termasuk memimpin Kantor Hubungan Arab dan Islam serta Kantor Media Pusat.

Al-Hayya mulai terlibat dalam aktivitas Islam terorganisasi pada awal 1980-an setelah berinteraksi dengan pendiri Hamas, Syaikh Ahmed Yassin. Ia aktif dalam Blok Islam di lingkungan kampus dan terlibat dalam berbagai aktivitas sosial serta organisasi selama Intifada Palestina pertama yang pecah pada 1987.

Ia tercatat tiga kali ditahan oleh zionis ‘Israel’. Penahanan paling lama terjadi pada 1991, ketika ia menghabiskan sekitar tiga tahun di penjara. Sumber-sumber Palestina juga menyebut ia mengalami penyiksaan selama masa penahanan tersebut.

Kehilangan Anggota Keluarga akibat Agresi ‘Israel’

Sepanjang perjalanan hidupnya, al-Hayya berkali-kali menjadi sasaran upaya pembunuhan. Pada 2007, agresi udara ‘Israel’ yang menargetkan rumah keluarganya menewaskan tujuh kerabatnya. Setahun kemudian, putranya, Hamza, yang merupakan anggota Brigade Al-Qassam, gugur dalam agresi ‘Israel’.

Pada 2014, putranya yang lain, Osama, bersama sejumlah anggota keluarga lainnya, tewas dalam pengeboman yang menghantam rumahnya di wilayah timur Gaza. Al-Hayya sendiri selamat dari peristiwa tersebut.

Serangan terhadap rumah-rumah miliknya terus berlanjut dalam berbagai operasi militer ‘Israel’, termasuk pada Oktober 2023.

Pada September 2025, putranya, Hammam, tewas dalam agresi yang menargetkan lokasi delegasi perunding Hamas di Doha, Qatar. Sementara putranya yang keempat, Azzam, meninggal dunia pada Mei 2026 akibat luka yang dideritanya setelah agersi ‘Israel’ di kawasan Al-Daraj, timur Kota Gaza.

Aktivitas Regional

Selain aktivitas politik di Palestina, al-Hayya juga terlibat dalam sejumlah misi regional Hamas. Ia termasuk dalam delegasi Hamas yang mengunjungi Damaskus pada 2022.

Pada November 2023, ia memimpin delegasi Hamas ke Lebanon untuk bertemu dengan pimpinan Hizbullah dalam rangka koordinasi sikap terkait perkembangan perang di Gaza, sebagaimana disampaikan dalam pernyataan resmi gerakan tersebut. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami