Beranda / Palestina / Krisis Air Kian Parah, Penduduk Gaza Terpaksa Minum Air yang Terkontaminasi
Kabar Palestina
30 Mar 2026

Krisis Air Kian Parah, Penduduk Gaza Terpaksa Minum Air yang Terkontaminasi

Krisis Air Kian Parah, Penduduk Gaza Terpaksa Minum Air yang Terkontaminasi
Bagikan:

GAZA (PIC) – Saat dunia memperingati Hari Air Sedunia – merayakan pentingnya sumber daya ini – warga Palestina di Jalur Gaza mengalami realitas yang sangat berbeda.

Air, yang dulunya merupakan hak asasi manusia, telah direduksi menjadi kesulitan sehari-hari, perjuangan untuk bertahan hidup di bawah pengepungan.

Di tengah infrastruktur yang hancur, persediaan yang menipis, sumber air yang terkontaminasi, dan pemadaman listrik kronis, detail kehidupan sehari-hari mengungkapkan skala bencana kemanusiaan yang melanda lebih dari dua juta orang, salah satu krisis paling kompleks dan berkepanjangan di zaman kita.

Antara haus dan wabah penyakit

Di kamp pengungsian Al-Shati di sebelah barat Kota Gaza, Umm Ahmad memulai setiap hari bukan dengan harapan, tetapi dengan pencarian air yang sangat berat.

Tanpa air, tidak ada makanan, tanpa kehidupan normal di dalam tenda yang melindungi kelima anaknya.

Sejak kehilangan suami dan rumahnya, ia berjalan jauh sambil membawa wadah plastik, menunggu berjam-jam di samping truk air yang mungkin datang terlambat, atau bahkan tidak datang sama sekali.

Sedikit air yang berhasil ia dapatkan hampir tidak cukup untuk minum. Mandi, terutama di musim dingin, menjadi cobaan berat yang membutuhkan bukan hanya air, tetapi juga kayu untuk memanaskannya. Anak-anaknya mandi seminggu sekali. Air yang sama digunakan kembali untuk mencuci pakaian.

Namun, ketakutan yang lebih dalam adalah penyakit. Dua anaknya menderita diare parah musim panas lalu setelah minum air yang terkontaminasi.

“Dulu kami takut akan pengeboman,” katanya. “Sekarang kami takut haus.”

Kata-katanya menggambarkan pergeseran suram dari kematian akibat serangan penjajah menjadi kekerasan yang perlahan akibat kekurangan.

Terpaksa minum air yang terkontaminasi

Di Gaza utara, Abu Khaled terpaksa minum dari sumur yang tercemar, dengan sepenuhnya menyadari bahayanya. Airnya asin dan pahit, tetapi tidak ada alternatif lain di tengah ketiadaan truk tangki air dan biaya air hasil desalinasi yang sangat mahal.

Ia dan keluarganya menderita penyakit usus yang berulang.

“Kami tahu kami minum air yang menyebabkan penyakit,” katanya. “Tapi kami tidak punya pilihan.”

Di kamp-kamp pengungsian, krisis semakin memburuk menjadi bencana sanitasi. Genangan air limbah menyebar di antara tenda-tenda, mengeluarkan bau busuk yang menyesakkan.

Anak-anak bermain di dekatnya, tanpa alternatif yang aman, sehingga mereka terpapar infeksi dan penyakit.

“Kami tidak tahu lagi mana yang lebih buruk,” kata Umm Mohammad, “haus atau kontaminasi.”

Keruntuhan infrastruktur dan pencekikan energi

Krisis air tidak dapat dipisahkan dari keruntuhan listrik yang hampir total di Gaza. Tanpa listrik, pompa tidak dapat beroperasi, dan menyimpan air menjadi perjuangan sehari-hari lainnya.

Pabrik desalinasi kecil berjuang menghadapi kekurangan bahan bakar dan biaya perawatan yang melonjak. Keluarga sekarang bergantung pada generator bersama, yang beroperasi secara tidak teratur; jika bahan bakar dapat diperoleh.

Harga listrik telah meroket ke tingkat yang jauh di luar kemampuan sebagian besar penduduk, semakin melumpuhkan akses ke layanan penting.

Menurut penilaian kemanusiaan, sebagian besar infrastruktur air Gaza tidak lagi berfungsi, sehingga sebagian besar fasilitas berisiko.

Perempuan dan anak perempuan menanggung beban terberat

Perempuan dan anak perempuan Gaza menghabiskan waktu antara enam hingga delapan jam setiap hari hanya untuk mendapatkan air, waktu yang seharusnya digunakan untuk pendidikan dan aktivitas bemanfaat lainnya.

Pasalnya, skala kerusakan akibat agresi genosida penjajah sangat berdampak luas:

• Sekira 85% infrastruktur air dan sanitasi telah rusak atau hancur

• Produksi air telah anjlok lebih dari 60%

• Setiap individu kini hanya menerima 3–15 liter per hari, sebagian besar tidak aman

• Air minum mungkin hanya berjumlah 2 liter per hari, jauh di bawah standar darurat

Sementara itu, kerusakan sistem pembuangan limbah telah menyebabkan kontaminasi lingkungan yang meluas, mengancam air tanah dan mempercepat penyebaran penyakit.

Bencana yang direkayasa

Rehabilitasi sistem air dan sanitasi Gaza diperkirakan menelan biaya ratusan juta dolar. Tetapi di luar pendanaan, yang dibutuhkan adalah kemauan politik.

Pemerintah Palestina dan badan-badan kemanusiaan menyerukan intervensi internasional yang mendesak:

• Akses segera terhadap bahan bakar dan peralatan

• Pemulihan listrik

• Solusi desalinasi darurat

• Pengakuan Gaza sebagai “zona bencana air”

Mereka menegaskan bahwa air bukanlah hak istimewa, melainkan hak asasi manusia fundamental.

Penghambatan sistematis akses terhadap air, terutama kepada perempuan dan anak-anak, bukan hanya kegagalan kemanusiaan. Ini adalah tindakan yang menuntut pertanggungjawaban. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami