Beranda / Palestina / Mayat Serdadu Ran Gvili Dipulangkan, Hamas Desak Zionis Patuhi Sepenuhnya Ketentuan Gencatan Senjata
Kabar Palestina
29 Jan 2026

Mayat Serdadu Ran Gvili Dipulangkan, Hamas Desak Zionis Patuhi Sepenuhnya Ketentuan Gencatan Senjata

Mayat Serdadu Ran Gvili Dipulangkan, Hamas Desak Zionis Patuhi Sepenuhnya Ketentuan Gencatan Senjata
Bagikan:

GAZA (Al Jazeera) – Militer penjajah ‘Israel’ mengatakan bahwa mayat Ran Gvili, tawanan ‘Israel’ terakhir di Gaza, telah ditemukan. Situasi tersebut membuka jalan bagi fase selanjutnya dari kesepakatan gencatan senjata yang disepakati pada Oktober 2025.

“Setelah selesainya proses identifikasi oleh Pusat Kedokteran Forensik Nasional, perwakilan [militer] memberi tahu keluarga Ran Gvili bahwa mayatnya telah dikembalikan untuk dimakamkan. Dengan demikian, semua sandera yang ditahan di Jalur Gaza telah dipulangkan,” kata juru bicara militer penjajah Avichay Adraee.

Pemulangan mayat Gvili, seorang polisi penjajah, menandai berakhirnya kewajiban Hamas untuk mengembalikan semua 251 orang tawanan – hidup atau mati – sesuai dengan ketentuan kesepakatan gencatan senjata.

Senin (26/1/2026), Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa di Gaza Tengah mengatakan telah menerima sembilan tawanan Palestina yang masih hidup yang dibebaskan oleh penjajah.

“Sembilan tawanan Palestina dari Gaza tiba di rumah sakit beberapa saat yang lalu melalui tim Palang Merah, setelah penjajah membebaskan mereka hari ini,” kata pihak rumah sakit.

Hamas Desak Penjajah Patuhi Sepenuhnya Ketentuan Gencatan Senjata

Setelah pemulangan mayat Gvili, Hamas menegaskan komitmennya terhadap tahap pertama perjanjian gencatan senjata. Hamas mengatakan telah memenuhi semua kewajibannya dengan cara yang jelas dan bertanggung jawab.

Sebagai kompensasinya, Hamas menekankan bahwa penjajah harus menyelesaikan pelaksanaan semua ketentuan perjanjian gencatan senjata – tanpa pengurangan atau penundaan apa pun – dan mematuhi semua kewajiban yang timbul darinya.

Terutama pembukaan pelintasan Rafah di kedua arah tanpa batasan, masuknya kebutuhan Gaza dalam jumlah yang dibutuhkan, penarikan penuh serdadu penjajah dari wilayah Gaza, dan memfasilitasi kerja Komite Nasional untuk pengelolaan Jalur Gaza.

Pengumuman ini disampaikan setelah sayap militer Hamas mengatakan telah memberikan semua detail kepada mediator gencatan senjata tentang kemungkinan lokasi jenazah tawanan terakhir yang akan dikembalikan kepada ‘Israel’.

Pelintasan Rafah Harus Dibuka

Melaporkan dari Kota Gaza, Hind Khoudary dari Al Jazeera menjelaskan bahwa kembalinya tawanan terakhir menandai momen penting bagi Palestina.

“Harus ada banyak perubahan di lapangan – pelintasan Rafah dibuka, material rekonstruksi masuk ke Gaza, juga penarikan pasukan ‘Israel’ dari garis kuning untuk memungkinkan warga Palestina pergi dan dapat melihat rumah mereka dan melihat segala sesuatu di luar garis itu,” kata Khoudary.

“Tentu saja, ada banyak janji dari fase pertama gencatan senjata yang belum dipenuhi. Termasuk kesepakatan untuk meloloskan 600 truk [bantuan] per hari masuk ke Gaza. Baru sekira 230 truk yang telah masuk setiap hari.”

Khoudary menambahkan bahwa penjajah berulang kali membenarkan penundaan dalam memenuhi ketentuan perjanjian gencatan senjata karena belum semua tawanan dikembalikan. Sekarang tidak ada lagi pembenaran untuk itu.

Sebelumnya penjajah mengatakan akan membuka pelintasan Rafah yang menghubungkan Gaza dan Mesir hanya setelah tawanan terakhir ditemukan. Tetapi mereka bersikeras bahwa pelintasan akan dibuka secara terbatas hanya untuk lalu lintas orang.

Dua pekan lalu, utusan khusus AS Steve Witkoff mengumumkan bahwa gencatan senjata telah memasuki tahap kedua; yang akan berfokus pada tata kelola pasca-perang di wilayah yang terkepung, “demiliterisasi Hamas”, dan rekonstruksi. (Al Jazeera)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami