Beranda / Palestina / Muhajirin Palestina di Suriah Bersuara Lantang: Tolak Hukuman Mati untuk Para Tahanan!
Kabar Palestina Suriah
15 Apr 2026

Muhajirin Palestina di Suriah Bersuara Lantang: Tolak Hukuman Mati untuk Para Tahanan!

Muhajirin Palestina di Suriah Bersuara Lantang: Tolak Hukuman Mati untuk Para Tahanan!
Bagikan:

SURIAH (PIC) – Gelombang kemarahan melintasi batas-batas geografis. Kamp-kamp pengungsi Palestina di Suriah, bersama sejumlah kota lain, selama beberapa hari terakhir dipenuhi aksi demonstrasi yang menolak UU baru yang disahkan “parlemen” negara palsu ‘Israel’ (Knesset), yang membuka jalan bagi eksekusi mati tahanan Palestina.

Aksi-aksi ini bukan sekadar reaksi sesaat. Di baliknya, tersimpan kemarahan yang kian membesar sekaligus kecemasan mendalam atas dampak keputusan tersebut terhadap masa depan perjuangan Palestina. Bagi banyak orang, ini adalah titik yang menyentuh rasa keadilan paling mendasar.

Gerakan Rakyat Melampaui Batas-Batas Geografis

Di kamp Khan al-Shih dan Yarmouk, ratusan orang turun ke jalan. Mereka membawa pesan yang tegas: penolakan total terhadap UU tersebut; sekaligus penegasan bahwa rakyat Palestina tetaplah satu, meski terpisah jarak.

Seruan yang digaungkan bukan hanya slogan. Para peserta juga menyampaikan sikap politik dan moral yang kuat. Mereka menilai UU zhalim tersebut sebagai kelanjutan dari praktik diskriminasi dan hukuman kolektif yang telah lama dirasakan.

Mantan tahanan yang telah dibebaskan, Ahmed Abu al-Saoud, menyebut UU tersebut tidak memiliki dasar moral maupun kemanusiaan. Ia menilai aturan itu mencerminkan standar ganda yang mencolok—di mana warga ‘Israel’ tidak menghadapi pertanggungjawaban serupa, bahkan dalam kasus-kasus kekerasan berskala besar.

Yarmouk: Kenangan tentang Pengungsian dan Suara Para Tahanan

Di Kamp Yarmouk—yang memiliki makna simbolis kuat dalam ingatan kolektif rakyat Palestina—gelombang aksi tampak lebih padat dan berpengaruh. Bagi banyak orang di sana, Yarmouk bukan sekadar tempat tinggal, tetapi ruang yang menyimpan sejarah panjang pengungsian dan perjuangan.

Salah satu peserta menggambarkan suasana itu dengan tegas: aksi ini bukan sekadar solidaritas, melainkan pelaksanaan kewajiban moral terhadap ribuan syuhada yang telah membela seluruh bangsa.

Perempuan-perempuan di kamp juga bersuara lantang. Seorang muhajirin erempuan menegaskan pentingnya memperluas skala aksi, karena menurutnya langkah-langkah individual tak lagi cukup menghadapi keputusan yang begitu besar dampaknya.

Ia mengingatkan sisi paling manusiawi dari isu ini: di balik setiap tahanan, ada keluarga yang menunggu, ada seorang ibu yang terus berharap anaknya pulang.

Kamp Daraa: Suara Tambahan dalam Gelombang Penolakan

Di Kamp Daraa, nada penolakan tak kalah tajam. Aktivis Mohammed Hassan menegaskan bahwa apa yang terjadi bukan sekadar aturan, melainkan perubahan berbahaya dalam cara memperlakukan tahanan Palestina. Ia menilai pengesahan aturan ini sebagai tanda eskalasi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Hassan menambahkan bahwa kamp-kamp Palestina di Suriah—meski dilanda krisis kemanusiaan dan kesulitan hidup—tetap memandang diri mereka sebagai bagian hidup dari perjuangan membela para tahanan.

Menurutnya, gelombang aksi yang berlangsung saat ini adalah pesan tegas bahwa isu tahanan Palestina tidak bisa dikesampingkan, dan keputusan itu tidak bisa diberlakukan tanpa respons.

Ia pun menekankan bahwa situasi saat ini menuntut langkah yang lebih luas dari dunia Arab—melampaui sekadar solidaritas verbal—menuju tindakan nyata yang mampu memberi tekanan untuk menghentikan langkah yang sangat berbahaya ini.

Peringatan akan Dampak yang Lebih Luas

Gelombang aksi yang terjadi tidak hanya berbicara tentang solidaritas terhadap para tahanan. Di dalamnya, muncul nada peringatan yang semakin keras—bahwa aturan penjajah dikhawatirkan akan meluas dampaknya ke kawasan yang lebih luas.

Seorang peserta asal Suriah menyuarakan kekhawatiran itu dengan lugas: apa yang terjadi di Palestina tidak akan berhenti di sana. Ia menyerukan kebangkitan bersama dunia Arab sebelum semuanya terlambat.

Pandangan ini mencerminkan perubahan kesadaran di tingkat akar rumput. Penjajahan terhadap Palestina tak lagi dipandang sebagai isu yang berdiri sendiri, melainkan sebagai persoalan regional yang berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan secara keseluruhan.

Persatuan Meskipun Terpisah Jarak

Di tengah demonstrasi, satu pesan lain muncul dengan sangat jelas: persatuan rakyat Palestina di pengungsian. Meski tersebar di berbagai wilayah, mereka merasa berdiri dalam satu barisan menghadapi kezhaliman.

Seorang muhajirin menggambarkannya dengan tegas: kamp-kamp pengungsi “berdiri dalam satu barisan,” dan upaya apa pun untuk memaksakan kejahatan tersebut tidak akan mampu mematahkan tekad rakyat Palestina.

Persatuan ini, yang menguat terutama di saat krisis, kembali menegaskan bahwa kamp-kamp pengungsian—meski hidup dalam keterbatasan—tetap menjadi sumber kekuatan politik dan gerakan rakyat bagi perjuangan Palestina.

Di tengah perlawanan, secercah harapan tetap terasa. Seorang muhajirin perempuan menggemakan dukungan dengan keyakinan yang kokoh: bahwa mimpi rakyat Palestina masih hidup. Dan suatu hari nanti, shalat di Masjidil Aqsha bukanlah hal yang jauh. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami