Beranda / Palestina / Pasar-Pasar Al-Khalil di Bawah Kepungan: Perdagangan Lumpuh, Pengunjung Dibayangi Ancaman
Kabar Palestina
24 Agu 2026

Pasar-Pasar Al-Khalil di Bawah Kepungan: Perdagangan Lumpuh, Pengunjung Dibayangi Ancaman

Pasar-Pasar Al-Khalil di Bawah Kepungan: Perdagangan Lumpuh, Pengunjung Dibayangi Ancaman
Bagikan:

AL-KHALIL (PIC) – Di jantung Kota Tua Al-Khalil, krisis tak hanya tampak dari deretan toko yang tutup. Denyut pasar pun kian sekarat. Para pedagang tetap membuka pintu – berharap pembeli datang – sementara pos pemeriksaan, gerbang, dan penutupan mengepung dari segala arah.

Razia berulang dan kehadiran serdadu bersenjata semakin membuat warga enggan berkunjung. Perdagangan pun berubah menjadi perjuangan sehari-hari untuk bertahan.

Serdadu zionis ‘Israel’ terus memperketat akses ke pasar, toko, dan rumah warga. Gerbang serta penutupan baru membatasi pergerakan penduduk, pedagang, dan pengunjung, sekaligus semakin mengisolasi kawasan perdagangan dan permukiman.

Pedagang Membuka Toko, namun Tak Ada Pembeli

Jabr al-Muhtaseb, pedagang sekaligus warga Kota Tua, menggambarkan kondisi ekonomi yang kian terpuruk. Situasi saat ini membuat para pedagang sulit membuka toko secara rutin. Bahkan, tiga hingga empat hari bisa berlalu tanpa ia membuka tokonya.

Menurutnya, sulitnya kehidupan dan merosotnya aktivitas perdagangan telah memukul warga dan pedagang. Tokonya berada tepat di samping rumahnya, sehingga persoalannya bukan keengganan untuk bekerja, melainkan hilangnya arus pengunjung yang menjadi penopang utama mata pencaharian.

Ia juga menepis anggapan bahwa Kota Tua merupakan kawasan yang tidak aman. Keluarganya, anak-anaknya, dan warga setempat tetap beraktivitas hingga larut malam.

Namun, menurut Al-Muhtaseb, kekhawatiran yang beredar di tengah masyarakat ikut mematikan denyut perdagangan. Kabar tentang penutupan kawasan suci, pemasangan gerbang, hingga berbagai tindakan represif serdadu ionis membuat calon pengunjung ragu datang—bahkan ketika toko-toko tetap buka dan kehidupan sehari-hari terus berjalan.

Kami Ingin Orang Datang ke Kota Tua

Kesulitan yang dihadapi Gandhi al-Awiwi, pedagang sekaligus warga Kota Tua, tak berbeda. Ia menilai pos pemeriksaan dan pembatasan yang diberlakukan ‘Israel’ telah menanamkan kekhawatiran di benak masyarakat, sehingga banyak orang enggan datang ke pasar.

Karena itu, para pedagang menyampaikan pesan sederhana: “Datanglah dan lihat sendiri.” Al-Awiwi menegaskan, Kota Tua tidak seseram azian dalam sejumlah iklan atau potongan video. Warga tetap menjalani kehidupan sehari-hari di sana.

Menurutnya, warga Kota Tua telah bertahun-tahun terbiasa menghadapi pemukim dan azia serdadu. Namun belakangan, pemberitaan yang meluas serta beredarnya gambar perang dan azia semakin memperbesar ketakutan, termasuk di kalangan warga dari wilayah Palestina lainnya. Akibatnya, banyak yang memilih menjauh dari Kota Tua.

Al-Awiwi mengakui bahwa tindakan serdadu ‘Israel’ dan berbagai pembatasan memang nyata. Namun, para pedagang tidak ingin pembatasan itu menjadi alasan bagi masyarakat untuk takut datang, berbelanja, dan menghidupkan kembali denyut pasar.

Yang mereka inginkan sederhana: mengembalikan denyut kehidupan ke pasar-pasar Kota Tua.

Pos Pemeriksaan dan Gerbang Mengisolasi Pasar

Berbagai pembatasan di Kota Tua memperlihatkan persoalan yang jauh lebih kompleks. Zionis ‘Israel’ memasang gerbang-gerbang besi baru di jalan utama menuju kawasan tersebut, membatasi pergerakan warga, pedagang, dan pengunjung, sekaligus menghambat akses ke sejumlah bagian pasar lama dan Masjid Ibrahimi.

Sejak Oktober 2023, pembatasan semakin diperketat melalui sistem pos pemeriksaan yang mengatur pergerakan warga Palestina di wilayah yang diduduki zionis, tempat ribuan warga Palestina bermukim. Dampaknya terasa pada akses menuju Masjid Ibrahimi, pasar, layanan kesehatan, dan berbagai fasilitas dasar lainnya.

Kini, puluhan pos pemeriksaan, gerbang, dan penutupan jalan tersebar di Kota Tua. Aktivitas perdagangan pun berulang kali dipaksa berhenti, terutama saat azia atau kegiatan yang digelar pemukim Yahudi, membuat ruang gerak warga dan pedagang semakin terbatas.

Perdagangan yang Menolak Berhenti

Februari lalu, ‘Israel’ menutup lebih dari 1.000 toko di pasar Al-Khalil. Para pemiliknya berusaha membuka kembali toko-toko tersebut meski pembatasan dan tekanan terus diperketat—gambaran nyata betapa berat tekanan yang menghimpit perdagangan di Kota Tua.

Kota Tua Al-Khalil memiliki lebih dari 1.000 toko. Namun, penutupan dan pembatasan pergerakan membuat aktivitas perdagangan merosot tajam, dengan tingkat keterisian toko berada di titik terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Bagi para pedagang, setiap pembatasan berarti beban baru: setiap pos pemeriksaan memperpanjang perjalanan, setiap penutupan mematikan aktivitas selama berjam-jam bahkan berhari-hari, dan setiap razia serdadu atau pemukim menambah ketakutan bagi siapa pun yang hendak datang ke pasar.

Kota Tua: Pasar yang Ingin Tetap Hidup

Para pedagang Kota Tua tidak meminta banyak. Mereka hanya ingin orang-orang kembali datang ke pasar. Bagi mereka, aktivitas perdagangan bukan sekadar soal angka dan penjualan, melainkan cara untuk mempertahankan keberadaan pasar, warganya, dan ingatan yang melekat di dalamnya.

Al-Awiwi menyebut Kota Tua sebagai “kota para leluhur kami”, warisan Al-Khalil dan rakyatnya. Ia mengajak masyarakat untuk datang, berjalan menyusuri pasar-pasarnya, dan tidak membiarkan ketakutan mengubahnya menjadi tempat yang kosong dari manusia.

Di Kota Tua, pintu toko yang tetap terbuka adalah pernyataan bahwa kehidupan belum menyerah. Pedagang yang menanti pembeli bukan sekadar mengejar keuntungan, melainkan berharap pasar tetap hidup, orang-orang terus berdatangan.

Mereka berharap pos pemeriksaan, penutupan, serta kekhawatiran tak berubah menjadi kenyataan permanen yang mengosongkan Kota Tua Al-Khalil dari manusia dan denyut kehidupannya. (PIC)

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami