NEW YORK (PIC) – Duka menyelimuti misi perdamaian dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap temuan awal terkait tewasnya tiga penjaga perdamaian asal Indonesia di Lebanon bulan lalu.
Hasil sementara menunjukkan, satu prajurit gugur akibat proyektil tank zionis ‘Israel’. Sementara dua lainnya tewas akibat ledakan alat peledak rakitan (IED) yang diduga dipasang oleh milisi Hizbullatta.
“Ini masih temuan awal, berdasarkan bukti fisik yang tersedia,” ujar juru bicara PBB, Stephane Dujarric, dalam konferensi pers, Selasa (7/4/2026). Ia menegaskan, penyelidikan menyeluruh masih terus berlangsung dengan melibatkan pihak-pihak terkait.
PBB menyebut serangan tersebut sebagai sesuatu yang “tidak dapat diterima” dan membuka kemungkinan dikategorikan sebagai kejahatan perang menurut hukum internasional.
Organisasi itu juga mendesak agar kasus ini diselidiki secara serius oleh otoritas nasional, serta para pelaku diadili demi keadilan.
Ketiga prajurit Indonesia itu gugur dalam dua insiden terpisah di Lebanon selatan pada 29 dan 30 Maret, di tengah akhir pekan berdarah yang juga merenggut nyawa jurnalis dan tenaga medis akibat serangan zionis.
Melalui Kementerian Luar Negeri, Indonesia mendesak PBB untuk melakukan investigasi menyeluruh. “Semua pelaku harus dimintai pertanggungjawaban,” kata pejabat senior Kemlu, Veronica Rompis.
Di tengah situasi yang terus memanas, dampak konflik juga dirasakan warga sipil.
Sebuah konvoi bantuan kemanusiaan yang diorganisasi Kedutaan Vatikan terpaksa berbalik arah setelah pengeboman di Lebanon selatan pada Selasa, menurut keterangan seorang pastor setempat.
Pada hari yang sama, juru bicara Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) mengungkap bahwa militer ‘Israel’ sempat mencegat konvoi logistik mereka dan menahan sementara salah satu penjaga perdamaian. (PIC)