Beranda / Palestina / Pelaparan di Gaza: Ketika Data UNICEF Disalahartikan Pendukung Setia Penjajah Zionis
Kabar Palestina
1 Sep 2026

Pelaparan di Gaza: Ketika Data UNICEF Disalahartikan Pendukung Setia Penjajah Zionis

Pelaparan di Gaza: Ketika Data UNICEF Disalahartikan Pendukung Setia Penjajah Zionis
Bagikan:

Seorang ibu Palestina menggendong putranya yang berusia 18 bulan, yang mengalami tanda-tanda kekurangan gizi, di kamp pengungsi al-Shati, Gaza, 24 Juli 2025. (Omar al-Qattaa/AFP)

GAZA (Middle East Eye) – Penjajah zionis ‘Israel’ terus menerus membantah fakta bahwa pelaparan digunakan sebagai senjata perang di Gaza.

Penolakan itu mengemuka sejak ‘Israel’ mengajukan pembelaan di Mahkamah Internasional (ICJ), di Den Haag, pada Januari 2024, sebagai tanggapan atas gugatan Afrika Selatan terkait genosida.

Saat itu, pengacara negara palsu ‘Israel’ menegaskan bahwa ‘Israel’ telah berulang kali menyatakan secara terbuka bahwa “tidak ada pembatasan terhadap jumlah makanan, air, tempat tinggal, maupun pasokan medis yang dapat masuk ke Gaza”.

Namun, sejak awal, klaim tersebut dibantah berbagai organisasi HAM. Amnesty International melaporkan bahwa antara Oktober 2023 hingga awal Juli 2024, zionis ‘Israel’ tidak pernah mengizinkan bantuan yang memadai dan pasokan darurat masuk ke Gaza.

Situasi semakin memburuk setelah ‘Israel’ memberlakukan blokade total dari Maret hingga pertengahan Mei 2025. WHO menyebut kondisi tersebut sebagai salah satu krisis kelaparan terburuk di dunia. Sedikitnya 57 anak dilaporkan meninggal akibat kekurangan gizi, dan WHO menegaskan bahwa angka itu kemungkinan masih jauh di bawah jumlah sebenarnya.

Ketika Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu pada November 2024, salah satu tuduhannya adalah kejahatan perang berupa pelaparan sebagai metode peperangan dan secara sengaja mengarahkan serangan terhadap penduduk sipil.

Zionis dan para pendukungnya terus membantah tuduhan tersebut. Pekan lalu, mereka kembali melancarkan kampanye serupa setelah UNICEF menerbitkan urvey mengenai kondisi gizi anak-anak Gaza, khususnya mereka yang berusia di bawah lima tahun.

“Kedua Temuan Itu Tetap Berlaku”

Duta Besar AS untuk negara palsu ‘Israel’ Mike Huckabee menjadi salah satu yang pertama memanfaatkan laporan tersebut. Dalam unggahan di X, ia menyebut temuan UNICEF sebagai bukti yang menurutnya membantah tuduhan bahwa ‘Israel’ membuat anak-anak kelaparan.

Mantan juru bicara ‘Israel’ Eylon Levy bahkan menyebut pelaparan Gaza selalu merupakan tipuan. Sementara itu, UN Watch—organisasi pemantau PBB yang dikenal berpihak pada ‘Israel’—mengeklaim bahwa Gaza memiliki salah satu tingkat kekurangan gizi akut anak terendah di dunia.

Andrew Fox, peneliti di Henry Jackson Society, juga menyatakan bahwa anggapan tentang pelaparan di Gaza selama gempuran ‘Israel’ telah terbukti salah secara meyakinkan.

Namun, ada satu hal yang seharusnya tidak perlu diperdebatkan: siapa pun yang memiliki rasa kemanusiaan tentu menyambut kabar bahwa kondisi gizi anak-anak Gaza membaik.

Studi UNICEF memang menunjukkan bahwa gencatan senjata—yang dalam banyak hal terbukti rapuh—telah memungkinkan lebih banyak bantuan pangan masuk ke Gaza.

Tetapi tidak ada temuan dalam studi tersebut yang membuktikan bahwa pelaparan di Gaza tidak pernah terjadi.

Untuk memperjelas hal itu, UNICEF memberikan penjelasan tegas. Survei terbaru mengukur kondisi pada pertengahan 2026, lebih dari sembilan bulan setelah IPC mengonfirmasi pelaparan pada Agustus 2025, serta setelah gencatan senjata Oktober 2025 dan peningkatan besar bantuan kemanusiaan.

Dengan kata lain, survei tersebut memang menunjukkan kondisi yang lebih baik pada 2026, tetapi tidak dirancang untuk menghapus atau menyangkal kondisi pelaparan yang terjadi pada 2025.

UNICEF menegaskan: “Kedua temuan tersebut tetap berlaku: kelaparan telah dipastikan terjadi saat itu, dan sejak saat itu malnutrisi akut pada anak-anak menurun.”

Perbaikan tersebut, lanjut UNICEF, merupakan hasil dari bantuan yang diberikan—bukan bukti bahwa bantuan itu tidak pernah diperlukan.

Konsistensi yang Mengkhawatirkan

Medical Aid for Palestinians (MAP), lembaga amal berbasis di Inggris, juga menekankan hal serupa. “Klaim bahwa kelaparan tidak pernah terjadi di Gaza adalah tidak benar, menyesatkan, dan berbahaya,” kata MAP.

Menurut organisasi tersebut, survei kondisi gizi anak saat ini tidak dapat digunakan untuk menyangkal secara retrospektif temuan kelaparan yang terjadi setahun sebelumnya.

Kedua fakta itu dapat benar secara bersamaan: IPC mengonfirmasi pelaparan di Gaza pada Agustus 2025, sementara survei yang dikoordinasikan UNICEF menunjukkan penurunan kekurangan gizi akut di antara anak-anak yang diperiksa sejak saat itu.

Menggunakan temuan kedua untuk menyangkal temuan pertama, kata MAP, merupakan penyalahgunaan dan salah tafsir terhadap data survei.

Bahkan, salah satu temuan studi terbaru yang tidak banyak disorot oleh para pengkritik tersebut justru konsisten dengan dampak pelaparan.

UNICEF menemukan bahwa sekitar satu dari delapan anak di bawah usia lima tahun mengalami stunting atau gangguan pertumbuhan. UNICEF mencatat bahwa kondisi itu menunjukkan adanya tekanan gizi jangka panjang dan kekurangan gizi berulang, bukan sekadar kekurangan gizi akut.

WHO mendefinisikan stunting sebagai gangguan pertumbuhan dan perkembangan akibat gizi buruk, infeksi berulang, serta kurangnya stimulasi psikososial yang memadai.

Stunting sebagian besar tidak dapat dipulihkan dan dapat menimbulkan konsekuensi serius dalam jangka panjang. Kondisi tersebut juga merupakan salah satu dampak yang telah lama diperingatkan berbagai organisasi bantuan setelah gempuran ‘Israel’ di Gaza dimulai.

Dampak Pelaparan Tak Hilang dalam Semalam

Martin Shaw, profesor emeritus hubungan internasional dan politik di Universitas Sussex sekaligus ahli genosida, mengatakan dampak pelaparan pada periode 2023–2025 masih terlihat jelas pada pertumbuhan anak-anak Gaza.

Ia menilai dampaknya tidak hanya berasal dari kekurangan makanan, tetapi juga dari luka dan amputasi, penyakit yang tidak tertangani, kehilangan anggota keluarga, tekanan psikologis berat, serta kehancuran layanan kesehatan dan pendidikan. Semua itu, katanya, tercermin dalam kondisi anak-anak Gaza.

Sementara itu, kesimpulan bahwa anak-anak di bawah lima tahun di wilayah di luar garis kuning ‘Israel’ memiliki tingkat kekurangan gizi akut yang rendah didasarkan pada pengukuran berat badan mereka saat survei dilakukan.

Mike Spagat, profesor ekonomi di Royal Holloway, menjelaskan bahwa berat badan anak dapat turun drastis hanya dalam beberapa pekan dan kembali meningkat dalam waktu relatif singkat jika mendapatkan perawatan yang tepat—terutama ketika ditangani tenaga profesional seperti dalam program tersebut.

Karena itu, pengukuran kekurangan gizi pada dasarnya merupakan potret kondisi pada satu titik waktu. Dan waktu pengukuran sangat menentukan.

Survei tersebut dilakukan pada Juni 2026—delapan bulan setelah gencatan senjata dan setelah dua kuartal penuh pemberian bantuan pangan.

Spagat menyimpulkan bahwa tingkat kekurangan gizi yang rendah itu justru mencerminkan dampak nyata intervensi kemanusiaan, tetapi oleh para pendukung ‘Israel’ malah dikutip sebagai bukti bahwa intervensi tersebut tidak pernah diperlukan.

Yang Harus Dilindungi: Anak-Anak Gaza

Studi terbaru UNICEF tidak membuktikan maupun membantah tuduhan dalam surat perintah penangkapan ICC terhadap Netanyahu mengenai penggunaan pelaparan sebagai metode peperangan.

Laporan itu hanya menunjukkan bahwa kondisi gizi anak-anak Gaza membaik setelah bantuan kemanusiaan meningkat.  Yang jauh lebih penting adalah memastikan perbaikan itu berlanjut.

Anak-anak Gaza telah mengalami ujian berat. Mereka berhak mendapatkan makanan, kesehatan, keamanan, dan kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan normal secepat mungkin. (Middle East Eye)

*Naskah ditulis oleh Peter Oborne and Irfan Chowdhury. Pandangan dalam artikel ini merupakan pendapat penulis dan tidak selalu mencerminkan sikap editorial Middle East Eye.

*Peter Oborne merupakan peraih penghargaan Best Commentary/Blog pada 2017 dan 2022, serta dinobatkan sebagai Best Freelancer dalam Drum Online Media Awards 2016 atas artikel yang ditulisnya untuk Middle East Eye.

*Irfan Chowdhury adalah penulis lepas sekaligus mahasiswa doktoral di Universitas Brighton.

Dukung Saudara Kita di Garis Depan

Setiap bantuan Anda sangat berarti untuk memberikan kehangatan dan harapan hidup bagi mereka yang terdampak.

Donasi Sekarang
Hubungi kami