RAMALLAH (PIC) – Seorang perempuan Palestina berusia 30 tahun meninggal dunia akibat serangan jantung setelah ambulans yang membawanya terlambat mencapai rumah sakit karena tertahan di pos pemeriksaan militer ‘Israel’.
Hal tersebut disampaikan oleh Wali Kota Sinjil, sebuah kota yang terletak di timur laut Ramallah, Tepi Barat yang dijajah.
Wali Kota Sinjil, Moataz Tawafsha, mengatakan bahwa Sujoud Fuqaha, ibu dua anak berusia 30 tahun, meninggal pada Sabtu (19/7/2026) setelah serdadu ‘Israel’ menahan ambulans yang membawanya selama lebih dari 30 menit di sebuah pos penghalang militer dekat Ramallah.
Akibat keterlambatan tersebut, Sujoud tidak dapat segera memperoleh penanganan medis darurat yang dibutuhkannya setelah mengalami serangan jantung.
“Perempuan ini harus segera tiba di rumah sakit untuk mendapatkan perawatan yang diperlukan,” ujar Tawafsha saat berdiri di dekat gerbang penghalang yang ditutup serdadu zionis. “Berapa banyak lagi nyawa warga tak bersalah yang harus menjadi korban gerbang-gerbang besi dan penghalang militer ini di Kota Sinjil?”
Rekaman dari lokasi menunjukkan Tawafsha berdiri di depan gerbang logam yang tertutup, sementara ambulans yang membawa pasien menunggu di belakangnya. Dalam rekaman tersebut, petugas medis terdengar berulang kali memohon agar ambulans diizinkan melintas.
Sinjil berada di bawah kontrol zionis yang ketat. Serdadu zionis ‘Israel’ kerap melakukan tindakan yang membatasi pergerakan warga Palestina melalui akses masuk dan keluar kota tersebut.
3.795 Pelanggaran Gencatan Senjata oleh ‘Israel’ Telan 1.168 Korban
Kantor Media Pemerintah Gaza, Ahad (20/7/2026), menyatakan bahwa serdadu penjajah ‘Israel’ telah melakukan 3.795 pelanggaran terhadap perjanjian gencatan senjata hingga hari ke-280 sejak kesepakatan tersebut mulai berlaku.
Menurut kantor tersebut, pelanggaran-pelanggaran itu telah menyebabkan 1.168 warga Palestina gugur, 3.734 orang terluka, dan 149 orang ditahan selama periode yang sama.
Kantor Media Pemerintah Gaza mengungkapkan bahwa hanya 59.613 truk bantuan kemanusiaan yang berhasil memasuki Gaza. Jumlah itu jauh di bawah target 168.000 truk yang seharusnya telah masuk sesuai ketentuan perjanjian gencatan senjata hingga saat ini. Dengan demikian, tingkat pelaksanaan komitmen tersebut baru mencapai sekitar 35 persen.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa zionis ‘Israel’ hanya mengizinkan 9.268 warga meninggalkan Gaza melalui Pelintasan Rafah. Padahal, berdasarkan perjanjian gencatan senjata, sebanyak 24.600 orang seharusnya telah diizinkan melintas sejak pelintasan tersebut dijadwalkan kembali dibuka. Angka ini menunjukkan tingkat kepatuhan sekitar 37 persen.
Kantor Media Pemerintah Gaza mengecam tindakan ‘Israel’ yang terus menargetkan rakyat Palestina di Gaza. Mereka menegaskan bahwa penjajah zionis ‘Israel’ merupakan biang kerok utama memburuknya situasi kemanusiaan serta bertambahnya jumlah korban di kalangan warga Palestina.
Kantor tersebut juga menyerukan kepada para mediator dan pihak-pihak penjamin perjanjian gencatan senjata agar mengambil langkah konkret untuk menekan ‘Israel’ supaya melaksanakan seluruh ketentuan yang telah disepakati dan menghentikan berbagai pelanggaran yang terus berlangsung.
Rampas 22 Dunum Tanah Palestina
Penjajah zionis, Selasa (28/7/2026), merampas lebih dari 22 dunum tanah Palestina di daerah Arraba dan Qabatiya, selatan Jenin di Tepi Barat bagian utara.
Menurut sumber lokal, tiga perintah militer mengumumkan aneksasi 16,31 dunum tanah di Arraba, sementara perintah keempat menargetkan tambahan enam dunum dan 271 meter persegi tanah di Qabatiya.
Kemarin, serdadu penjajah meningkatkan aktivitas militernya di kota-kota di seluruh Provinsi Jenin, yang termasuk pembongkaran di daerah Arraba dan Anza.
Penjajah merebut lahan luas milik warga Palestina di Provinsi Jenin untuk memperluas permukiman ilegal dan membangun jalan serta infrastruktur untuk pos-pos pemukim kolonial.
Laporan terbaru yang dirilis oleh Komisi Anti Penjajahan dan Perlawanan Tembok menunjukkan bahwa penjajah telah merebut lebih dari 4.379 dunum tanah Tepi Barat selama paruh pertama tahun 2026 dengan berbagai dalih. (PIC)