Caption foto: Minibus yang membawa warga Palestina yang hendak pulang ke wilayah Gaza berbaris di sisi Mesir Pelintasan Rafah pada 19 Maret 2026. (Amr Adel/AFP)
GAZA (Middle Eat Eye) – “Menteri Pertahanan” negara palsu ‘Israel’, Israel Katz, kembali menggaungkan rencana untuk memindahkan warga Palestina dari Gaza melalui skema yang disebut sebagai “emigrasi sukarela”.
Rabu (27/5/2026), Katz mengatakan bahwa rencana tersebut akan dilaksanakan “pada waktu yang tepat dan dengan cara yang tepat”.
Meski agresi genosida ‘Israel’ di Gaza telah menewaskan lebih dari 70 ribu warga Palestina dan menyebabkan kehancuran besar di wilayah pesisir itu, sebagian besar warga Palestina di Gaza menyatakan tidak akan pernah meninggalkan tanah air mereka.
Katz menyampaikan pernyataan tersebut bersamaan dengan pengumuman bahwa penjajah ‘Israel’ telah membunuh Mohammed Odeh, pemimpin sayap bersenjata Hamas, bersama istrinya dan tiga anak mereka.
Pada Maret lalu, “kabinet keamanan” negara palsu ‘Israel’ menyetujui usulan yang diajukan Katz untuk membentuk sebuah direktorat di bawah “Kementerian Pertahanan” yang bertugas memuluskan proses “migrasi” warga Palestina keluar dari Gaza.
Usulan untuk memindahkan warga Palestina dari Gaza telah berulang kali muncul selama berlangsungnya agresi ‘Israel’ di wilayah tersebut. Wacana itu berjalan beriringan dengan seruan dari kelompok pemukim ilegal ‘Israel’ yang mendesak pembangunan kembali permukiman-permukiman kolonial Yahudi di wilayah Palestina.
Meski sejumlah “menteri” negara palsu ‘Israel’ menggambarkan pemindahan warga Palestina sebagai pilihan yang bersifat “sukarela”, sejumlah aparat lainnya secara terbuka menyerukan pengusiran paksa penduduk Palestina—tindakan yang menurut hukum internasional dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Pada kunjungannya ke Gaza awal Mei lalu, anggota “parlemen” sayap kanan ekstrem ‘Israel’, Limor Son Har-Melech, menyerukan pendudukan penuh atas Gaza dan pengusiran seluruh penduduknya. Ia menyebut langkah tersebut sebagai satu-satunya cara untuk menjamin keamanan ‘Israel’.
Setelah melakukan kunjungan ke kawasan dekat pagar pembatas Gaza, anggota parlemen sayap kanan ekstrem ‘Israel’, Limor Son Har-Melech, menyatakan bahwa “hanya penaklukan, pengusiran, dan pembangunan permukiman ilegal” yang dapat mengembalikan rasa aman bagi warga ‘Israel’.
Dalam unggahannya di platform X, ia menulis bahwa ‘Israel’ masih terjebak dalam cara pandang yang keliru terkait masa depan Gaza.
“Sayangnya, ‘Israel’ masih menjadi tawanan konsep yang salah. Tidak ada alternatif selain penaklukan, pengusiran, dan pembangunan permukiman (ilegal),” tulisnya.
Ia juga memperingatkan bahwa solusi lain selain penjajahan dan pengusiran penduduk Palestina tidak akan efektif. “Setiap solusi lain tidak realistis dan hanya akan membawa pembantaian berikutnya,” lanjutnya.
Son Har-Melech juga menegaskan bahwa ‘Israel’, menurut pandangannya, harus terus menguasai Koridor Netzarim—jalur strategis yang membelah Gaza menjadi wilayah utara dan selatan—serta membangun permukiman ‘Israel’ secara permanen di kawasan tersebut.
Pernyataan itu muncul di tengah berlanjutnya ketegangan meskipun gencatan senjata yang telah diumumkan pada Oktober lalu. Berbagai pihak mencatat penjajah ‘Israel’ terus melanggar ketentuan perjanjian tersebut.
Blokade terhadap Gaza sebagian besar masih dipertahankan, sehingga pasokan bahan bakar, pangan, dan perlengkapan medis tetap berada pada tingkat yang sangat kritis.
Selama agresi genosida berlangsung, hanya beberapa ribu warga Palestina yang berhasil dievakuasi dari Gaza melalui Pelintasan Rafah di perbatasan dengan Mesir.
Sejak gencatan senjata diberlakukan, penjajah ‘Israel’ hanya meloloskan sejumlah kecil warga Palestina kembali ke Gaza setiap harinya dari Mesir.
Beberapa warga yang berhasil melintas mengungkapkan bahwa mereka menjadi sasaran perlakuan kasar dan intimidasi oleh serdadu ‘Israel’ selama perjalanan.
Sementara itu, serangan udara dan penembakan masih terus berlangsung di berbagai wilayah Gaza. Sejak gencatan senjata diumumkan, lebih dari 800 warga Palestina dilaporkan tewas.
Secara keseluruhan, jumlah korban tewas akibat agresi ‘Israel’ di Gaza sejak Oktober 2023 telah melampaui 72.700 orang. Selain itu, lebih dari 172.000 lainnya mengalami luka-luka. (Middle East Eye)